Cerita Traveler Indonesia Yang Puasa Ramadan Di Eropa

No comment 154 views

Berikut artikel Cerita Traveler Indonesia yang Puasa Ramadan di Eropa, Semoga bermanfaat

detikTravel Community –  

Menyambut Ramadan, masyarakat dan traveler Indonesia di Eropa pun bersiap-siap. Ada kajian, silaturahmi sampai mearasakan ‘kelangkaan’ ustadz.

Menyongsong Ramadan Masyarakat Indonesia di Eropa dengan antusias mempersiapkan diri. Kegiatan Tarhib Ramadan diadakan masyarakat muslim Indonesa dari Milan sampai Bukares. Kelangkaan Ustadz diantisipasi dengan mendatangkan dari negara Eropa lain. Komunitas Muslim Milan dan Paris pada hari Ahad, 29 Mei 2016 secara serentak mengadakan Tarhib Ramadan.

Di Milan acara tarhib yaitu serangkaian kegiatan dengan kegiatan Taman Pendidikan Al Quran yg diselenggarakan oleh gabungan antara komunitas muslim Milan dan mahasiswa Indonesia di Milan, sedangkan di Paris acara tarhib diselenggarakan oleh perhimpunan masyarakat Islam Indonesia di Perancis (PERMIIP).

Di Italia sendiri Keluarga dan Komunitas Islam Indonesia Italia (KeKita) dalam 5 tahun ini rutin menyelenggarakan kajian online keislaman dan keluarga serta silaturrahim offline keluarga dan komunitas Islam di Italia. Lain halnya dengan Bukares, Romania, kegiatan tarhib Ramadan diinisiasi segera oleh Dubes KBRI Bucharest Diar Nurbintoro, bekerja sama dengan Diaspora Indonesia di Rumania.

Meskipun hidup jauh dari keluarga di tanah air di tengah lingkungan kehidupan barat, masyarakat Indonesia di Eropa tak melupakan nilai-nilai Islam dan pembelajaran Al Qurán. Komunitas Muslim Milano yg terdiri dari gabungan masyarakat dan mahasiswa Indonesia mengadakan TPA (Taman Pendidikan AL Quran) bagi mengajarkan membaca Al Quran buat yg belum lancar. Kegiatan ini dikerjakan setiap pekan secara rutin sedangkan diakhir bulan diadakan kajian keislaman. Memasuki bulan Ramadan Pengajian Milan merasa perlu membekali diri dengan pengetahuan persiapan berpuasa, apalagi puasa pada tahun ini bertepatan dengan musim panas di mana waktu berpuasa mencapai 18 jam. Pengajian lokal kota ini sangat menarik karena memungkinkan para peserta bertemu dan bertatap muka.

Tempat pengajian digilir dari rumah ke rumah, misalnya di tempat Agung Pramudya F.R., Direktur ITPC Milan, Kemendag, atau di rumah Echie, Masyarakat Indonesia yg bermukim di Milan. Di samping masyarakat Indonesia, mahasiswa muslim Indonesia terlibat aktif dalam kegiatan ini seperti Agie W. Priakbar, mahasiswa Politeknik Milan yg menjabat sebagai Humas PPI Italia. Kekurangan pembicara tak menjadi kendala dalam membekali pengetahuan Ramadan, Pembicara diterbangkan secara khusus dari Belanda.

Dalam Tarhib Ramadan yg diselenggarakan pada ahad pagi, 29 Mei 2016, Kandidat Doktor Frije Universiteit Amsterdam, Siswanto yg juga Ketua Bidang Dakwah dan Kajian SGB (Stichting Generasi Baru) Utrecht Belanda memberikan materi pembekalan Ramadan. Siswanto menekankan agar kaum muslimin mempersiapkan puasa dari berbagai aspek seperti persiapan mental, ruhiyah (spiritual), wawasan (fikriyah), persiapan fisik dan materi, merencanakan peningkatan prestasi ibadah (syahrul ibadah), menjadikan Ramadan sebagai bulan taubat, menjadikan Ramadan sebagai syahrut Tarbiyah dan dakwah, serta menjadikan Ramadan sebagai bulan evaluasi (syahrul muhasabah). Masyarakat muslim Milan mengikuti kajian dengan antusias dengan penyajian materi yg disajikan secara elektronik (powerpoint).

Acara pengajian terus menarik dan sangat dirindukan, di samping mendapatkan materi pencerahan, setelah ceramah selesai, masyarakat bisa menikmati masakan Indonesia yg dipersiapkan tuan rumah. Nasi, orek teri kacang, daging empal, dan Bakso menjadi menu favorit pengajian kali ini. Dan yg tidak kalah menarik adalah es teler yg tidak mengurangi kenikmatan makan siang dan pengobat kerinduan tanah air.

Kelangkaan Ustadz atau pemateri keislaman di Eropa menjadikan masyarakat muslim Indonesia yg bermukim di Eropa menjadi lebih kreatif. Saling berbagi keterangan keberadaan Ustadz/pemateri yg sedang bertugas di suatu negara agar mampu diundang buat berkunjung ke negara yang lain di Eropa. Cara ini lebih efektif buat mengoptimalkan peran Ustadz yg telah ada dilokasi dan lebih hemat biaya dari pada mendatangkan Ustadz baru dari Indonesia dengan seluruh prosedur persiapan visa dan prosedur lain. Setelah Siswanto menyelesaikan tugas di Milan dan kemudian mampir di Bukares buat mengunjungi saya, keterangan pun diteruskan ke KBRI Bucharest.

Atas inisiatif Dubes KBRI Bucharest, Diar Nurbintoro, bekerja sama dengan Diaspora Indonesia di Rumania yg diketuai Bapak Eddy Widodo (Ewi) dalam waktu sesuatu hari kegiatan tarhib Ramadan berhasil diselenggarakan. Bertempat di Wisma KBRI, yg yaitu kediaman Dubes KBRI Bucharest, Senin 30 Mei 2016 pukul 20.00 waktu setempat, sekitar 30 masyarakat Indonesia berkumpul buat menyambut Ramadan 2016.

Setelah sambutan pembukaan oleh Dubes Diar Nurbintoro selaku tuan rumah yg berharap agar masyarakat muslim Bucharest mendapatkan manfaat dari kegiatan ini dalam rangka persiapan Ramadan, para hadirin dengan khusyu mendengarkan bacaan tilawah Qur’an surat Al Baqoroh dengan ayat-ayat mengenai ibadah puasa. Saya bertugas bagi membacakan Qur’an sekaligus sebagai moderator. Masyarakat muslim Bukares dengan antusias mendengarkan materi persiapan Ramdhan yg disampaikan oleh Siswanto. Kandidat doktor, yg mengenyam pendidikan non formal di Mahad Al Hikmah Jakarta ini menekankan 7 amalan yg hendaknya dikerjakan muslim selama bulan Ramadan buat mencapai derajat taqwa.

Amalan pertama adalah agar kami berpuasa dengan sebenar-benarnya, tak sekedar menahan lapar dan haus, namun juga menahan syahwat dan panca indera dari seluruh perbuatan yg bisa mengurangi pahala ibadah puasa kita. Kedua adalah menegakkan salat dengan salat yg berkualitas meningkatkan kekhusyuan di samping meningkatkan kuantitas dengan salat malam dan salat sunnah seperti salat rawatib, dhuha dan lain-lain.

Bulan Ramadan adalah Bulan Al Quran, di bulan itu Rasulullah bertalaqqi dengan malaikatbJibril, oleh karena itu amalan ketiga yg dianjurkan adalah memperbanyak membaca Al Quran dan berusaha memahami maknanya, paling tak dengan membaca terjemahannya.

Selain itu yg keempat adalah memperbanyak Dzikr dan Doa. Waktu yg paling baik pada ketika Doa adalah pada ketika bersujud, karena ketika itulah Allah Swt paling dekat dengan hamba-Nya. Kelima adalah memperbanyak infaq. Rasulullah SAW adalah yg paling dermawan, dan puncak kedermawanan beliau yakni pada bulan Ramadan. Yang keenam dan ketujuh amalan yg dianjurkan menurut Siswanto adalah I’tikaf terutama di sepuluh hari terakhir dan memperbanyak silaturrahim.

Setelah salat maghrib berjamaah dan sesi tanya jawab yg cukup menarik dari para hadirin yg memiliki permasalahan dalam pelaksanaan ibadah keseharian baik puasa maupun salat, acara ditutup dengan makan malam yg disiapkan oleh Ibu Dubes. Serunya makan sambil berdiskusi dengan warga Indonesia di Bukares. Selain diplomat KBRI Bucharest, ada juga diplomat Amerop (Amerika Eropa) Kemenlu, sesuatu orang mahasiswa, dua WNI yg menjadi pegawai perusahaan minyak Rumania, dan masyarakat Indonesia yg bermukim lama di Rumania.

Senangnya dapat bersilarrahim dengan Masyarakat Indonesia di luar negeri. Selain mendapatkan pencerahan materi persiapan Ramadan, dan menikmati hidangan asli Indonesia, masyarakat muslim mampu saling mengenal dan berdiskusi.

Sumber: http://travel.detik.com/read/2016/06/06/135500/3222219/1025/cerita-traveler-indonesia-yang-puasa-ramadan-di-eropa
Terima kasih sudah membaca berita Cerita Traveler Indonesia yang Puasa Ramadan di Eropa. Silahkan baca berita lain tentang Traveling lainnya.

Tags:

Leave a reply "Cerita Traveler Indonesia Yang Puasa Ramadan Di Eropa"

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.