Cerita Monumen Kapal Majapahit Di Mojokerto

No comment 226 views

Berikut artikel Cerita Monumen Kapal Majapahit di Mojokerto, Semoga bermanfaat

Mojokerto – Di Kota Mojokerto, Jawa Timur traveler mulai melihat monumen unik berbentuk Kapal Majapahit. Ternyata ada cerita menarik tentangnya lho!

Sejak Maret 2016, ada pemandangan tidak biasa di simpang empat Miji, Kecamatan Kranggan, Kota Mojokerto. Pada sudut timur Jalan Majapahit Selatan itu, terpampang sebuah monumen kapal.

Padahal, salah sesuatu kota terkecil di Indonesia ini bukan daerah pesisir yg identik dengan nelayan maupun kehidupan bahari. Lantas apa maksud monumen kapal bernuansa cokelat tua itu dipajang di pusat Kota Onde-onde?

“Itu monumen Kapal Majapahit,” kata Djuhhari Witjaksono (87) ketika mengawali perbincangan dengan detikTravel di rumahnya, Jalan Brawijaya No 302, Kota Mojokerto, Sabtu (24/12/2016) kemarin.

Monumen Kapal Majapahit (Enggran Eko Budianto /detikTravel)Monumen Kapal Majapahit (Enggran Eko Budianto /detikTravel)

Djuhhari yaitu perajin miniatur perahu tradisional yg menggagas sekaligus membuat monumen Kapal Majapahit tersebut. Sejak tahun 1990, dia menjadikan rumahnya sebagai galeri sekaligus bengkel membuat kerajinan miniatur perahu.

“Saya ingin memperlihatkan bahwa di Mojokerto ini muncul lah seni budaya zaman Majapahit dan mengangkat kemaritiman Majapahit bahwa nenek moyang kalian adalah orang bahari,” ujar kakek lima cucu ini.

Sembari memamerkan karya miniatur perahu di rumahnya, Djuhhari mengisahkan proses pembuatan monumen Kapal Majapahit yg tidak mudah. Berawal dari keprihatinan melihat keadaan taman di simpang empat Miji yg cuma dihiasi kolam dan air mancur, suami almarhum Siti Sa’adah ini mengajukan usulan pembuatan monumen kapal ke Wali Kota Abdul Gani yg memimpin Kota Mojokerto tahun 2003-2013.

“Saat itu aku milik ide bagaimana kalau diberi miniatur perahu sesuai Mojokerto yg dulunya kerajaan Majapahit. Tapi ketika itu tidak diterima. Ganti Wali Kota Mas’ud Yunus, aku usulkan kembali, baru diterima,” ungkapnya.

Pertengahan tahun 2015 pun, Djuhhari akan merakit monumen Kapal Majapahit. Dibantu empat orang tukang las, lulusan Sekolah Teknik Menengah (STM) di Malang tahun 1957 ini membutuhkan waktu beberapa bulan buat menuntaskan pekerjaannya. Tepat 17 Agustus 2015, miniatur kapal 2,5 x 0,6 meter dengan tinggi sekitar 1,5 meter itu selesai.

“Saya untuk dari bahan besi baja, beratnya sekitar tiga kwintal. Biaya kurang lebih Rp 60 juta,” terangnya.

Baru pada Kamis (3/3/2016), monumen Kapal Majapahit karya Djuhhari diresmikan oleh Wali Kota Mojokerto. “Kalau masyarakat telah melihat miniatur ini, harapan aku dapat memberikan suatu pemikiran bahwa seperti ini peradaban Majapahit, bentuknya perahu seperti ini. Biar masyarakat sadar bahwa kami ini anak turun bangsa bahari,” cetusnya.

Lahirnya Model Kapal Majapahit

Tak cuma mejadi monumen Kapal Majapahit, Djuhhari juga menjadikan model perahu tradisional Majapahit sebagai produk suvenir. Bapak lima anak ini menamai model tersebut sebagai salah sesuatu bentuk perahu layar zaman Kerajaan Majapahit.

“Jenisnya perahu penjaga pantai. Sudah aku patenkan tahun 1999,” tuturnya.

Untuk membuat model tersebut, penelitian cukup panjang pun dia lakukan, akan dari di dalam negeri hingga ke Belanda. Dalam penelitiannya di tanah air, Djuhhari cuma mendapatkan referensi dari relief perahu di Candi Penataran, Kabupaten Blitar dan di Candi Borobudur, Kabupaten Magelang. Dia pun menjadikan relief tersebut sebagai acuan menyusul minimnya sumber sejarah di Indonesia.

Djuhhari Witjakson sang pembuat monumennya (Enggran Eko Budianto /detikTravel)Djuhhari Witjakson sang pembuat monumennya (Enggran Eko Budianto /detikTravel)

“Candi Borobudur dari wangsa Syailendra abad ke-8, Majapahit abad ke-11, tetapi masih sesuatu pulau, Jawa. Dalam pikiran aku ketika itu, jelas budaya dan sebagainya (wangsa Syailendra) berimbas ke Majapahit. Saya memberanikan diri menggabung kedua relief tersebut menjadi model miniatur salah sesuatu bentuk perahu layar zaman Majapahit,” ungkapnya.

Untuk menyempurnakan model Kapal Majapahit itu, pada tahun 1995 Djuhhari melanjutkan riset ke Negeri Kincir Angin. Bermodal dana riset dari sebuah perusahaan di Jatim, kakek lima cucu ini menghabiskan waktu delapan hari di Museum Bahari Amsterdam, Belanda.

“Di Museum Bahari Amsterdam memang banyak model perahu kuno, itu tidak mengurangi inspirasi kreasi saya, termasuk di Kapal Majapahit. Ada hal-hal aneh yg justru menjadi identitas, misalnya layar melengkung, ada cadik, ada keranjang. Keranjang fungsinya pengganti jangkar. Banyak tongkat pada perahu gunanya bagi masuk ke pelabuhan. Karena zaman lalu pelabuhan masuk muara, nah bagi menyusuri muara butuh dorongan menggunakan tongkat,” terangnya.

Monumen yg mencuri perhatian wisatawan (Enggran Eko Budianto /detikTravel)Monumen yg mencuri perhatian wisatawan (Enggran Eko Budianto /detikTravel)

Kendati model Kapal Majapahit karya Djuhhari ketika ini diakui seluruh kalangan, perajin miniatur perahu tradisional ini tidak mau berpuas diri. Dia berharap, para arkeolog maupun pakar sejarah memberikan koreksi terhadap model kapal tersebut.

“Model kapal Majapahit ini aku ingin sebagai pancingan. Saya memang ingin mendapatkan komplain dari para arkeolog. Kalau salah, benarnya seperti apa,” tandasnya. (aff/aff)

Sumber: https://travel.detik.com/read/2016/12/25/100437/3380173/1519/cerita-monumen-kapal-majapahit-di-mojokerto
Terima kasih sudah membaca berita Cerita Monumen Kapal Majapahit di Mojokerto. Silahkan baca berita lain tentang Traveling lainnya.

Tags:

Leave a reply "Cerita Monumen Kapal Majapahit Di Mojokerto"

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.