Capitansillo, Si Kecil Yang Cantik Di Filipina

No comment 94 views

Berikut artikel Capitansillo, Si Kecil yang Cantik di Filipina, Semoga bermanfaat

detikTravel Community –  

Sebagai negara kepulauan, Filipina diberkahi bentang alam yg cantik. Salah satunya adalah Capitansillo, pulau kecil yg bikin traveler jatuh cinta.

“Besok ada agenda apa, Xav?” tanyaku pada kawan serumah sore itu saat kalian sedang menunggu becak motor buat pulang ke rumah.

“Belum ada rencana. Emang kenapa? Kamu milik ide?” balasnya sembari bertanya.

“Ayo kami pergi ke Capitansillo. Aku pengen lihat seperti apa pulau nya,” ujarku kepadanya.

“Ayolah. Agak pagi ya berangkatnya, biar nggak terlalu sore pulangnya,” ujar Xav.

Salah sesuatu becak motor yg dahulu lalang pun berhenti. Kami naik dahulu duduk bersebelahan dengan penumpang lainnya.

Keesokan harinya, sekitar pukul 05.30 kalian akan berjalan menuju ke pertigaan di mana becak motor biasa mangkal. Di kota ini, satu-satunya alat transportasi umum adalah becak motor. Ongkos menuju ke Odlot, sebuah barangay (setingkat desa) yg salah sesuatu pantainya menjadi lokasi perahu-perahu nelayan bertambat dan menyediakan jasa penyeberangan, adalah sekitar 10 Peso (sekitar 3.000 rupiah). Namun, karena pagi itu, penumpangnya cuma kalian berdua, biasanya sesuatu becak motor diisi enam orang penumpang, kita membayar 100 Peso buat berdua. Dan, pagi itu, kita menikmati perjalanan melintasi perbukitan dan sejuknya udara pagi selama 30 menit.

Tiba di Odlot, kita menyusuri pantai yg terletak di belakang balai desa, coba mencari nelayan yg bersedia mengantarkan kalian ke Capitansillo yg sesungguhnya tampak samar-samar dari tepi pantai ini. Tidak ada harga yg pasti, tinggal kemampuan tawar menawar yg diperlukan. Karena kita berdua adalah orang asing di tempat ini, termasuk tidak dapat berbahasa setempat, modal senyum, ramah tamah serta bahasa tubuh yg kalian pergunakan.

Tidak lama kemudian, seorang bapak kira-kira berumuran 55-60 tahun sedang berjalan ke arah kami, dan kita pun bertanya tentang perahu yg mampu membawa kalian ke pulau seberang. Diluar dugaan, bapak tersebut malah menawarkan jasanya sendiri. 1.400 Peso bagi perjalanan pergi pulang sesuatu hari ini. Setelah coba menawar, dia dulu menjelaskan bahwa dia pun harus memberikan uang 300 Peso ke penjaga mercusuar di sana. Setelah berpikir, ah ini kan liburan, sedikit uang lebih tidak ada salahnya. Karena menurut kami, aku sih lebih tepatnya, sedikit terlalu mahal.

Si bapak, bersama dengan seorang pemuda, dulu menurunkan jaring tangkapnya. Beberapa orang nelayan yg sedang asyik bercengkrama dulu menolong kalian bagi menarik dan sebagian mendorong serta mengangkat kapal masuk ke air.   

Capitansillo Islet adalah sebuah pulau kecil yg terletak sekitar 10 km dari pusat kota Bogo, Cebu, Filipina. Pulau yg daratannya cuma seukuran kira-kira kurang dari setengah lapangan sepak bola ini menjadi salah sesuatu tujuan wisata pendatang di kota yg terletak di utara Pulau Cebu.

Menurut cerita yg aku baca di internet, dari laman resmi kota Bogo, konon katanya pulau ini adalah kapal laut punya salah sesuatu kapten dari Spanyol yg menghina raja Bogo dan saat hendak kabur, dikutuk dan menjadi pulau yg kini menjadi lokasi mercusuar pemandu untuk kapal di perairan Bogo. Saya dahulu tersenyum, teringat cerita rakyat Malinkundang dari tanah Sumatera. Selain cerita rakyat tersebut, sesungguhnya tak banyak keterangan tentang pulau kecil ini.

Sesungguhnya, tak banyak yg dapat dikerjakan di daratan ini. Tentu saja, karena tujuan penting tiba ke pulau ini adalah bermain-main di dalam air yg sangat jernih. Namun, dari melihat foto-foto di internet, pulau ini lalu memiliki dua tempat beristirahat seperti gazebo, dimana pengunjung bisa duduk santai berlindung dari terik panas yg menyengat atau sekedar meletakkan barang-barang selama menikmati perairan di sekitar pulau karang ini.    

Setelah menggunakan segala peralatan masker snorkel dan fin, Xav dan aku dahulu menceburkan diri ke dalam air. Berbagai jenis macam ikan bisa kelihatan dengan jelas. Warna warni. Dasar perairan penuh dengan pasir putih dan bongkahan karang yg telah mati. Mungkin, dulunya disini ada praktek penangkapan ikan secara illegal seperti penggunaan bom atau hancur karena ombak, entahlah.

Tampak jelas sekali potongan karang-karang bertebaran. Namun, semakin ke arah dalam menjauhi pulau, karang-karang masih bagus dan ikan makin beragam. Lalu, tampaklah perbatasan laut dalam biru gelap tanpa dasar. Beberapa ikan berukuran besar, berwarna warni tampak disini. Ribuan ikan-ikan kecil berenang kesana kemari dalam sesuatu gerakan seperti di dalam film dokumenter National Geographic. Dari jauh, Xav menyelam ke sana kemari ‘mengganggu’ kumpulan ikan tersebut.

Setelah puas menikmati berenang ke sana kemari, melihat ikan dan bermain-main dengan ombak, kita dahulu keluar dari air dan berjalan-jalan diatas pasir dan bebatuan. Saya dahulu menghabiskan waktu mencari-cari obyek foto, sedangkan Xav menikmati berbaring di atas tembok bangunan yg telah rusak.

Ada sebuah bangunan yg berdiri berkeliling menara mercusuar. Ada beberapa buah ruang yg tampaknya dipergunakan oleh penjaga mercusuar buat tidur dan memasak. Saya tak sempat bercengkrama dan ngobrol dengan penjaga yg sedang asyik berbincang-bincang dengan nelayan yg membawa kami. Kendala bahasa menjadi salah satunya . Saya cuma dapat membayangkan betapa sabarnya orang yg mau (terpaksa) bertugas di tempat kecil ini.

Berada di tempat ini kecil ini, kita merasakan kedamaian dari suara-suara peradaban. Hanya suara debur ombak yg menabrak dinding karang. Bilah-bilah daun pepohonan yg bergesekan. Sesekali terdengar suara dari telepon pintar saat ibu jariku menekan tombol pengambil gambar. Xav asyik melempar bebatuan ke laut berharap mampu ‘berjalan’ di atas permukaan air.

Langit dan airnya biru. Buih-buih ombak yg menabrak karang memercikkan air yg membasahi pasir yg dulu menelan air tanpa menyisakan bekas. Bangku-bangku dari semen dan batu diam membisu menatap laut lepas menghitung waktu menunggu rapuh. Kami pun duduk diatas pasir dalam diam melemparkan pandangan ke arah laut lepas.

Tidak berapa lama kita dahulu bergegas buat pulang. Kapal nelayan tumpangan kita bergerak naik turun membelah ombak yg kian besar. Sedikit rasa khawatir namun banyak senangnya. Semoga tak lepas umpatan dahulu terkutuk menjadi pulau baru.

==============

Main-main ke Lembang, Asyiknya ke Lodge Maribaya

The Lodge Maribaya adalah objek wisata yg lagi naik pamor di Lembang, Bandung Barat. Pemandangannya indah, ada ayunan fotogenik dan fasilitasnya lengkap.

Indonesia kaya mulai pesona alam yg indah seolah tiada habisnya menyajikan gugusan panorama alam yg menyejukkan mata. Bandung yg menjadi salah sesuatu didalamnya memiliki daya tarik tersendiri untuk para wisatawan lokal maupun mancanegara. Lokasi wisata di kawasan Bandung seolah tiada habisnya buat dikunjungi, apalagi banyak pula tempat wisata baru yg membuat banyak orang penasaran mulai keindahan dan keunikan wisata tersebut.

The Lodge Maribaya yg terletak di Jalan Maribaya Kampung Cibodas, Lembang, Bandung Barat sedang menjadi primadona wisata baru lho. Bagaimana tidak, panorama penunungan yg disajikan tiada bedanya dengan panorama di luar negeri. Gugusan pohon pinus dan hijaunya pemandangan disana memanjakan pengunjung dengan udara segar dan memanjakan mata buat masyarakat yg ingin melepas penat dari kesibukan yg ada.

Dengan tiket masuk seharga 25000 rupiah pengunjung mampu berjalan jalan di kawasan hijau yg sejuk ini. Sesuai dengan namanya, The Lodge Maribaya juga menyediakan penginapan dengan tema Glamping seperti labu yg menarik. Fasilitas lengkap juga ada didalamnya, seperti televisi, tempat tidur yg nyaman dll. Harga yg ditwarkan juga sesuai dengan fasilitas yg didapatkan merupakan 550000 per pengunjung setiap malamnya.

Selain penginapan The Lodge Maribaya, juga menyediakan dua spot foto yg menjadi favorite setiap pengunjung. Ada Sky Tree yg mirip dengan Sky Tree di Kalibiru. Untuk mampu berfoto ria diatas Sky Tree pengunjung dikenakan biaya tambahan 10000 per orang.

Ada juga ayunan yg berbeda dengan ayunan pada umumnya lho. Traveler mulai merasakan sensasi naik ayunan diatas angin. Untuk mampu menikmati ayunan ini pengunjung juga dikenakan biaya tambahan sebesar 20000 rupiah per orang.

Adalagi yg membuat pengunjung merasa tertantang bagi tiba ke The Lodge Maribaya merupakan buat menaiki sepeda diatas seutas tali diatas awan. Traveler mulai merasakan bagaimana sensasinya menaiki sepeda yg tak menginjak tanah seperti di sirkus luar negeri. Tapi traveler juga tak perlu khawatir karena alat yg fasilitas tersebut didampingi oleh petugas yg berpengalaman dan alat pengaman yg memadai.

Selain spot foto yg menarik, The Lodge Maribaya juga menyediakan resort yg menyediakan makanan maupun minuman khas Bandung yg enak tentunya. The Lodge Maribaya juga cocok digunakan buat private party maupun acara gathering yg mulai dikerjakan oleh rombongan traveler.

Sumber: http://travel.detik.com/read/2016/10/02/113000/3285589/1025/capitansillo-si-kecil-yang-cantik-di-filipina
Terima kasih sudah membaca berita Capitansillo, Si Kecil yang Cantik di Filipina. Silahkan baca berita lain tentang Traveling lainnya.

Tags:

Leave a reply "Capitansillo, Si Kecil Yang Cantik Di Filipina"

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.