Buat Apa “Ngurusin” Pariwisata?

No comment 111 views

Berikut artikel Buat Apa “Ngurusin” Pariwisata? , Semoga bermanfaat


KOMPAS.com
– Apa arti pariwisata bagi Indonesia? Benarkah sektor ini cuma bagi orang yg butuh senang-senang, jalan-jalan, atau buang uang?

“Pariwisata adalah jalan baru, paling cepat, dan paling gampang buat memutus rantai kemiskinan, pengangguran, dan kesenjangan, yg selama 71 tahun kalian hadapi,” kata Menteri Pariwisata Arief Yahya, di Shanghai, China, Sabtu (27/8/2016).

Berbicara di depan para diaspora Indonesia di China, Arief banyak mengutip pidato Presiden Joko Widodo dalam peringatan Hari Kemerdekaan ke-71 Indonesia.

“Kita masih sulit memutus rantai kemiskinan, pengangguran, dan kesenjangan sosial,” ujar Arief menggarisbawahi pesan Presiden.

Dari keadaan itu, Pemerintah menggenjot infrastruktur, kapasitas produksi, dan kualitas sumber daya manusia. Bersamaan itu, ada juga deregulasi-debirokratisasi.

“Itulah yg mampu kami perankan semua, melalui sektor pariwisata,” kata Arief.

Targetnya, pada 2019 sektor pariwisata menyumbang 15 persen pendapatan domestik bruto (PDB), setara senilai 20 miliar dollar AS. Dari situ, ditargetkan pula 13 juta pekerja terserap di sektor pariwisata.

“Serta diyakini (pariwisata) dapat menciptakan pusat-pusat pertumbuhan ekonomi yg lebih tersebar di semua Tanah Air,” ujar Arief di depan audiens yg mayoritas adalah anggota Indonesia China Chamber of Commerce (Inacham).

Fokus

Sejalan dengan pidato Presiden yg dikutipnya, Arief pun membeberkan fokus langkah strategis di kementeriannya. Dia menyebut ada tiga fokus.

KOMPAS/FERGANATA INDRA RIATMOKO Gerhana Matahari Parsial di Borobudur – Fenomena gerhana matahari parsial kelihatan melalui sekeping kaca di Candi Borobudur, Kabupaten Magelang, Jawa Tengah, Rabu (9/3). Peristiwa langka tersebut disambut dengan meriah di berbagai daerah di Indonesia.

Pertama infrastruktur, (sebagai) syarat mutlak memajukan pariwisata,” sebut dia.

Saat ini, lanjut Arief, kementeriannya sedang melakukan percepatan di 10 destinasi prioritas.

Kesepuluh destinasi itu adalah Danau Toba di Sumatera Utara, Tanjung Kelayang di Belitung, Kepulauan Seribu di DKI Jakarta, Borobudur di Jawa Tengah, Bromo-Tengger-Semeru di Jawa Timur, Mandalika di NTB, Labuan Bajo di NTT, Wakatobi di Sulawesi Tenggara, dan Morotai Maluku Utara.

Fokus kedua adalah SDM. Ini yaitu kunci bagi memenangkan persaingan global.

“Tuntutannya adalah langsung memiliki banyak SDM profesional dengan kualitas terbaik,” kata Arief.

Adapun fokus ketiga adalah debirokrasi-deregulasi. Di antara langkah dari fokus ini adapah kebijakan bebas visa kunjungan untuk wisatawan yang berasal 196 negara, pencabutan Clearance Approval for Indonesia Territory (CAIT) bagi industri wisata layar, serta moratorium asas cabotage buat wisata kapal pesiar pada lima pelabuhan besar di Indonesia.

“Kapal pesiar mampu menaik-turunkan penumpang di 5 pelabuhan tersebut,” kata Arief.

Langkah debirokrasi, lanjut Arief, yg dikerjakan adalah implementasi teknologi digital. “Kita harus semakin digital,” ujarnya.

Karena itulah, Kementerian Pariwisata sekarang sedang mengembangkan antara yang lain E-Government, E-Tourism, Travel Exchange Indonesia (TXI), dan Indonesia Travel Data Warehouse (ITDW).

“Kami milik War Room buat menjadi pemain global, dan bersiap bersaing di level internasional,” kata Arief.

“Harga” pariwisata

Merujuk data terbaru World Travel & Tourism Council (WTTC), sebut Arief, sektor pariwisata Indonesia memberikan kontribusi 10 persen dari total PDB, dengan nominal tertinggi di ASEAN.

BIRO PERS SETPRES Presiden Joko Widodo (Jokowi) dan sejumlah menteri ketika di atas kapal menuju Pulau Samosir, di tengah Danau Toba, Minggu (21/8/2016).

Pertumbuhan PDB pariwisata sebesar 4,8 persen dan memiliki potensi bagi mencapai 7 persen. Tingkat pertumbuhan ini lebih tinggi dibandingkan industri pertanian, otomotif, manufaktur, dan pertambangan.

“Selain itu, aku juga ingin memperlihatkan bahwa pendapatan dari 1 juta dollar AS valuta asing (valas) dalam pariwisata mulai menghasilkan 1,7 juta dollar AS, atau berkontribusi 170 persen buat PDB pariwisata, sebagai penyumbang tertinggi dibandingkan industri lainnya,” ujar Arief.

Pada 2015 dulu devisa pariwisata menempati peringkat keempat, dengan kontribusi 9,3 persen dari devisa yg masuk Indonesia. Industri pariwisata pun tercatat tumbuh 13 persen pada tahun itu.

“Ini perlu dicatat baik-baik, biaya pemasaran pariwisata cuma 2 persen dari proyeksi pendapatan devisa. Jadi tinggal kalian balik, kalian menginginkan proyeksi berapa, maka beberapa persennyalah biaya promosinya,” imbuh Arief.

Hingga akhir 2015, papar Arief, pariwisata menyediakan 9,8 juta pekerjaan. Angka itu setara 8,4 persen lapangan kerja nasional. Total pertumbuhan sektor pariwisata menembus 30 persen dalam 5 tahun terakhir.

“Pariwisata cuma perlu 5.000 dollar AS buat membuat sesuatu pekerjaan penuh-waktu, sedangkan industri yang lain membutuhkan lebih dari 100.000 dollar AS,” jelas Arief.
Sumber: http://travel.kompas.com/read/2016/09/01/184514427/buat.apa.ngurusin.pariwisata.
Terima kasih sudah membaca berita Buat Apa “Ngurusin” Pariwisata? . Silahkan baca berita lain tentang Traveling lainnya.

Tags:

Leave a reply "Buat Apa “Ngurusin” Pariwisata?"

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.