Bertemu Anom Dan Anto, Orang Indonesia Di Costa Victoria

No comment 94 views

Berikut artikel Bertemu Anom dan Anto, Orang Indonesia di Costa Victoria, Semoga bermanfaat

SINGAPURA, KOMPAS.com – Berwisata memakai kapal pesiar Costa Victoria sungguh menyenangkan. Saat KompasTravel diundang Costa Victoria mengikuti paket wisata Singapura-Phuket (Thailand)-Penang (Malaysia)-Singapura, 3-7 Desember 2015, kesempatan itu disambut antusias.

Meski cuma berlangsung 5 hari 4 malam dan berlayar di Asia Tenggara, namun perjalanan dalam “hotel bintang 5 terapung” tersebut memang menyenangkan.

Kapal berbobot 75.200 ton dengan panjang 253 meter dan lebar 32 meter itu memiliki 14 dek dengan 964 kabin. Interiornya juga sangat mewah dan bergaya Italia. Bisa dikatakan berlayar bersama Costa Victoria seperti merasakan suasana Italia di laut tanpa harus tiba ke Italia.
 
Memasuki kabin, fasilitas yg tersedia layaknya kamar hotel berbintang. Satu-satunya yg membedakan adalah “hotel” ini mengarungi lautan.

Saat menonton siaran di televisi, luangkanlah waktu mendengarkan aturan yg berlaku selama berada di kapal pesiar yg disampaikan dalam bahasa Italia, Inggris, Mandarin, Indonesia, dan Jepang.

KOMPAS.COM/I MADE ASDHIANA Salah sesuatu kamar di kapal pesiar Costa Victoria dalam pelayaran rute Singapura-Phuket (Thailand)-Penang (Malaysia)-Singapura, 3-7 Desember 2015.

Penjelasan seputar tata tertib dan aturan selama berlayar di Costa Victoria dalam bahasa Indonesia disampaikan oleh Dhana Anom, laki-laki yang berasal Singaraja, Bali.

Saat melihat cara Anom mengatakan mengenai “apa dan siapa” yg perlu diketahui penumpang ketika berwisata dengan kapal Costa Victoria, KompasTravel segera teringat mulai ucapan Ketua Sekolah Tinggi Pariwisata Bali, Dewa GN Byomantara pada acara “Launching Estepers Executive Club” di Jakarta, Rabu (25/11/2015) silam.

Dia menyampaikan para chef atau koki-koki Indonesia disebut-sebut disukai oleh industri kapal pesiar mancanegara.
 
Selain itu, menurut Byomantara, perusahaan kapal pesiar menyukai etos kerja para koki Indonesia karena dikenal bekerja dengan tulus dan senang hati saat menerima pekerjaan.

“Jadi mereka tak mengeluh kalau bisa pekerjaan,” kata Byomantara.

KOMPAS.COM/I MADE ASDHIANA Dhana Anom, pekerja yang berasal Indonesia di kapal pesiar Costa Victoria.

Nah, ketika berkeliling, melihat-lihat fasilitas kapal Costa Victoria yg sedang berlayar menuju Phuket (Thailand), Jumat (4/12/2015), dengan dipandu Lily Chiu Lai Nam, Trade Marketing Manager Costa Cruises Asia Pacific and China, KompasTravel segera mengajukan permintaan bagi dapat bertemu dengan pekerja yang berasal Indonesia, termasuk koki Indonesia.

Permintaan tersebut disanggupi Lily dengan ramah dan berjanji bagi langsung menghubungi pekerja yang berasal Indonesia yg bekerja di Costa Victoria.

Kebetulan ketika KompasTravel bersama media dari Malaysia diterima Kapten Andrea Bardi dalam jamuan santap siang, tiba-tiba KompasTravel disapa dengan ramah oleh salah seorang karyawan kapal pesiar tersebut.

KOMPAS.COM/I MADE ASDHIANA Kapal Pesiar Costa Victoria dalam pelayaran rute Singapura-Phuket (Thailand)-Penang (Malaysia)-Singapura, 3-7 Desember 2015.

Ternyata dia adalah Dhana Anom, yg muncul di televisi bagi mengatakan seluk beluk berwisata dengan kapal pesiar.

“Selamat tiba pak, mari aku bawakan kameranya,” kata Anom dengan ramah.

Saat itu, para awak media dipersilakan berfoto bersama Kapten Andrea Bardi.

Anom tidak jauh berbeda dengan penampilannya di televisi. Pakaiannya rapi dan kelihatan ramah menyapa para tamu kapal dengan tutur bahasa yg santun.

KOMPAS.COM/I MADE ASDHIANA Rony Beny Anto, pekerja yang berasal Indonesia di kapal pesiar Costa Victoria.

Malam harinya, Lily menepati janjinya. Usai santap malam, perempuan yang berasal Hongkong ini mengajak Dhana Anom (37) dan seorang chef menemui KompasTravel di Capriccio Bar di dek 7. Chef tersebut bernama Rony Beny Anto (35) yg akrab disapa Anto.

Anom masih tetap tampil dengan setelan jas rapinya, sedangkan Anto dengan pakaian “dinas”nya yakni seragam juru masak.

Kedua pekerja yang berasal Indonesia ini sama-sama mengaku suka melanglangbuana dan sengaja memilih kapal pesiar bagi mendapatkan penghasilan sekaligus tidak mengurangi pengalaman dan pergaulan sesama pekerja dari negara lain.

Anom pernah bekerja di kapal pesiar yg melayani rute Eropa sebelum pindah kerja di Costa Victoria yg bermarkas di Singapura. Atmosfer dan tamu yg dihadapi diakui keduanya berbeda antara melayani orang Eropa dan Asia.

“Orang Eropa beda dengan orang Asia. Kalau Eropa tegas, tanpa basa basi. Kalau Asia jelas ramah,” kata laki-laki yg pernah mengenyam pendidikan Sekolah Pariwisata Dhyana Pura di Denpasar, Bali, ini.

Profesi Anom sebagai international hostess di kapal Costa Victoria. Menurut Anom, di kapal ini ada international hostess buat China, Jepang, Malaysia dan Indonesia. “Tugasnya melayani tamu di kapal sesuai bidang yg ditugaskan. Kalau ada komplain dari tamu, maka harus langsung ditangani,” ujarnya.

Sementara Anto telah 9 tahun bekerja di kapal pesiar sebagai juru masak. Lulusan Sekolah Tinggi Pariwisata di Yogyakarta ini sebelum bekerja di Costa Victoria terlebih lalu bekerja di kapal pesiar rute Amerika Selatan, Eropa dan Mediterania.

“Masakan Eropa beda dengan Asia. Penyajiannya pun beda. Dari sisi bumbu, kalau masakan Eropa jarang pakai rempah. Makanan Asia pakai rempah. Dari sisi penyajian, kalau orang Eropa makannya lama. Menunya banyak. Sedangkan Asia persiapan cepat,” tutur Anto.

KOMPAS.COM/I MADE ASDHIANA Aneka permainan di kapal pesiar Costa Victoria dalam pelayaran rute Singapura-Phuket (Thailand)-Penang (Malaysia)-Singapura, 3-7 Desember 2015.

Anom menambahkan, menu yg ditampilkan tergantung rute kapal ketika itu. “Kalau berlayar ke Shanghai atau Jepang, maka menunya juga beda-beda,” kata laki-laki kelahiran Singaraja yg memiliki beberapa anak ini.

“Ikuti selera tamu lah,” sambung Anto.

Menurut Anto, di Costa Victoria total ada 150 juru masak yg berasal dari berbagai negara seperti dari Indonesia, Filipina, dan India.

“Semua macam makanan harus bisa. Mau Western atau China harus bisa. Syaratnya harus mau belajar. Di Asia kan ada Costa Victoria, Costa Serena, dan Costa Antartica. Kita bisa menu dari pusat. Semua tergantung pasar. Kepuasan tamu lebih penting,” kata Anto.

“Masak nasi goreng dan sate ayam telah wajib. Kita modifikasi sesuai selera tamu,” ujar Asisten Chef ini sembari tersenyum.

KOMPAS.COM/I MADE ASDHIANA Dhana Anom (kiri) dan Rony Beny Anto (kanan), pekerja yang berasal Indonesia di kapal pesiar Costa Victoria.

Rata-rata kontrak bekerja di kapal pesiar berkisar 8-9 bulan. Selama masa kontrak mereka tetap bekerja di kapal melayani tamu.

Bicara cita-cita, Anto mengaku memiliki keinginan sederhana yakni ingin milik warung pecel ayam. “Punya tiga (warung) saja telah cukup,” katanya.

Filosofi hidup Anto tak muluk-muluk, hanya mengalir saja. “Hidup ini mengalir saja, tidak ada paksaan. Nikmati hidup dan tetap memiliki ambisi. Orang Asia kan bekerja akan dari bawah,” tutur Anto.

Oleh karena itu, Anto mengajak para pencari kerja di Tanah Air bagi melirik dan berani mengadu nasib di kapal pesiar. Hasilnya lumayan tetapi tantangannya pun terbilang keras. “Kerja di dapur itu keras. Mental tempe jangan kerja di dapur,” saran Anto yg memiliki 3 anak dan kini keluarganya tinggal di Pamulang, Tangerang Selatan, Banten.

KOMPAS.COM/I MADE ASDHIANA Wisata belanja di kapal pesiar Costa Victoria dalam pelayaran rute Singapura-Phuket (Thailand)-Penang (Malaysia)-Singapura, 3-7 Desember 2015.

Bertanggung jawab soal kualitas dan servis makanan, Anto mengaku 30 menit sebelum acara dimulai, makanan telah harus bersiap di dapur.

Tak heran di leher Anto melilit kain biru yg memiliki arti tersendiri. “Kalung (kain) putih, ibarat masih kacung. Kuning hampir supervisor. Kalau biru berarti supervisor,” ungkapnya bangga.

Sementara Anom memiliki cita-cita ingin menguasai bahasa asing selain bahasa Inggris seperti Mandarin dan Jepang karena dipercaya mulai menolong kelancaran tugasnya melayani tamu-tamu kapal pesiar.

Anom pun juga tidak pelit memberikan saran kepada para pekerja muda yg ingin bekerja di kapal pesiar. Menurut Anom, dirinya tidak pernah menyampaikan kepada mereka yg ingin bekerja bahwa kerja di kapal pesiar itu enak dan banyak uang.

“Saya tidak pernah bilang enak kerja di kapal pesiar atau enak bisa duit banyak. Saya cuma minta mereka jalan dulu. Setelah terima uang (gaji pertama), baru dapat rasakan bedanya,” saran Anom.

KOMPAS.COM/I MADE ASDHIANA Asisten Chef Rony Beny Anto (kiri) dan rekannya sesama orang Indonesia di kapal pesiar Costa Victoria dalam pelayaran rute Singapura-Phuket (Thailand)-Penang (Malaysia)-Singapura, 3-7 Desember 2015.

Bagaimana membunuh rasa bosan bekerja di kapal dan tiba-tiba kangen dengan keluarga? “Bisa main game atau nonton film. Sekarang kan lebih canggih dapat email, hape bagi berkomunikasi dengan keluarga,” kata Anto.

“Kalau mau (menelepon) murah, ketika kapal berlayar antara Singapura dan Batam, di sana dapat telepon keluarga dengan roaming dari Indonesia. Pekerja dari Indonesia di kapal pesiar telah tahu itu,” kata Anom sambil tertawa.
Sumber: http://travel.kompas.com/read/2016/08/19/230600827/Bertemu.Anom.dan.Anto.Orang.Indonesia.di.Costa.Victoria
Terima kasih sudah membaca berita Bertemu Anom dan Anto, Orang Indonesia di Costa Victoria. Silahkan baca berita lain tentang Traveling lainnya.

Tags:

Leave a reply "Bertemu Anom Dan Anto, Orang Indonesia Di Costa Victoria"

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.