Bergaya Hidup Ala Biksu

No comment 97 views

Berikut artikel Bergaya Hidup ala Biksu, Semoga bermanfaat

PERJALANAN menuju Tokyo, tepatnya ke Prefektur Wakayama, Jepang, dengan pesawat cuma butuh waktu 1,5 jam, tapi rasanya seperti seabad.

Tak sabar rasanya menginap di dalam kuil seperti para biksu Buddha di tengah-tengah kota kecil Koyasan berusia 1.200 tahun yg masuk dalam daftar Situs Warisan Dunia UNESCO itu.

Setelah berkendara 1-2 jam dari Bandara Kansai, akhirnya aku dan Ibu Michiyo Sasaki (penerjemah selama di Jepang) sampai juga di Koyasan di dataran tinggi Koya, 900 meter di atas permukaan laut. Lembah Koyasan berbentuk seperti bunga teratai karena dikelilingi delapan bukit.

Untung kalian dijemput Hirai Masanobu, staf kantor gubernur Wakayama, dengan mobil sehingga mampu menikmati perjalanan lebih bebas.

Meski jalan menanjak penuh liku tajam, tidak sampai membuat mabuk darat karena telah kadung mabuk asmara dengan pemandangan hutan lebat seperti lukisan sepanjang jalan.

Belum selesai mengagumi pemandangan, sampailah di depan Kuil Jofukuin. Saya kira ini situs suci yg masuk daftar kunjungan kami. Ternyata di kuil inilah kita mulai menginap.

KOMPAS/LUKI AULIA Tamu sarapan. Setelah ibadah pagi yg berlangsung selama sesuatu jam pada pukul 6 pagi, tamu dan para biksu sarapan bersama di ruangan besar dengan hidangan tanpa daging (vegetarian ala penganut Budha) yg sederhana. Semua makanan di penginapan kuil ini dimasak dan disajikan oleh para biksu.

Awalnya, kuil menyediakan tempat menginap cuma bagi calon biksu yg mengikuti pelatihan ajaran Singon Buddha yg disebarkan Kobo Daishi (Kukai), tokoh religius yg dihormati di Jepang, pada tahun 805. Tetapi penginapan kuil kemudian dibuka bagi umum.

Dengan meningkatnya jumlah pengunjung, menjamur pula kuil hingga 1.812 kuil pada tahun 1832. Kini tersisa 117 kuil, 52 kuil di antaranya menyediakan shukubo (penginapan).

Koyasan menjadi pilihan Kobo Daishi, atas izin kekaisaran, buat mengembangkan ajaran Singon Esoterik Buddha. Tercatat ada 3.000 kuil Singon Buddha di Jepang dan 20 di Amerika Selatan dan Utara.

Setelah melepas sepatu dan berganti sandal (aturan shukubo), kita disambut resepsionis yg ternyata bikuni di kuil ini. Ia mengantar kalian ke kamar sambil berpesan agar membaca buku panduan menginap di shukubo. Yang aku ingat hanya dua: tidak boleh berisik dan berpakaian sopan ketika menjelajahi kuil.

Ketika bikuni membuka pintu geser kayu berdinding kertas, kelihatan lantai kamar berlapis tikar tatami dari jerami padi dan anyaman rumput.

Meski berdesain tradisional, ternyata fasilitas kamar secanggih kamar hotel pada umumnya. Ada toilet duduk canggih dengan aneka tombol, televisi 32 inci, kipas angin, telepon, sinyal Wi-Fi gratis, dan, ini yg luar biasa, ada kursi pijat seperti yg tidak jarang kalian temui di mal di Indonesia.

KOMPAS/LUKI AULIA Hidangan tanpa protein hewani ini menu sehari-hari para biksu. Sumber protein cuma diperoleh dari tofu.

”Tidak segala kamar seperti ini. Ada yg sederhana tanpa seluruh fasilitas ini. Toilet di luar,” kata bikuni itu.

Setiap shukubo menawarkan suasana, fasilitas, taman, dan shojin ryori (hidangan tanpa daging ala vegetarian penganut ajaran Buddha) yg berbeda-beda.

Untuk kepastian harga, mampu dicek di situs resmi Koyasan, tapi kira-kira 5.000 yen hingga 15.000 yen per orang per malam, termasuk sarapan dan makan malam. Siap-siap saja bawa uang tunai karena biasanya kuil cuma menerima pembayaran tunai.

Hanya sesuatu hal yg sama di seluruh shukubo, fasilitas kamar mandi bersama. Meski laki-laki dan perempuan dipisah, tetap saja sulit, setidaknya buat saya, membayangkan harus mandi bersama orang asing di bak mandi yg sama tanpa sesuatu helai benang pun di badan.

Ini tradisi masyarakat Jepang yg mungkin tidak lazim di negara lain. Mungkin menangkap kepanikan di wajah saya, mbak-mbak bikuni itu tidak mengurangi keterangan utama ini, ”Kalau mau, kita juga ada kamar mandi privat. Nanti kunci dapat diambil di resepsionis,” ujarnya sambil senyum. Fiuh….

KOMPAS/LUKI AULIA Di Koyasan, Prefektur Wakayama, terdapat 117 kuil, 52 kuil diantaranya menyediakan penginapan buat calon biksu maupun wisatawan. Seperti Kuil Jofukuin yg berada di pinggir jalan penting Koyasan ini.

Tanpa daging

”Makan malam telah siap,” panggil Sasaki-san mengagetkan. Tiba di ruang makan, ada biksu sedang menyiapkan shojin ryori, hidangan tanpa daging atau bumbu beraroma tajam.

Hidangan yg berasal dari Tiongkok itu telah diadaptasi para biksu di Jepang selama ratusan tahun. Sesuai ajaran Buddha, segala bahan harus nonhewani dan hidangannya harus terus berdasarkan prinsip lima rasa, lima cara memasak, dan lima warna.

Ada nasi, sayuran digoreng, tofu dipanggang, tofu dibuat acar dan salad, mi udon, salad kentang, kedelai fermentasi, jamur shiitake, sup rumput laut, teh hijau, dan buah.

Bintang utamanya koya-dofu (tofu kering yg dibekukan) dan goma-dofu (terbuat dari biji wijen) yg bertekstur lembut. Karena tidak boleh ada protein hewani, tofulah yg menjadi sumber protein buat biksu. ”Kira-kira begini makanan biksu,” kata Masanobu-san.

Ibadah pagi

Seperti kebiasaan biksu, tamu juga tidur beralaskan futon (kasur tipis padat) di lantai dengan bantal kecil isi biji-bijian yg ternyata nyaman. Membuka jendela kamar seperti membuka pintu ke-mana-sajanya Doraemon karena terhampar pemandangan taman di latar depan dan bukit dengan pepohonan lebat di latar belakang.

Biksu Jiyun Inaba dari Seksi Urusan Internasional di kantor pusat Koyasan Singon Buddha Kongobuji yg kita temui sebelumnya menceritakan, setelah bertahun-tahun keliling ke semua penjuru negeri pada abad ke-8, Kobo Daishi akhirnya memilih Koyasan karena lokasinya tersembunyi dan jauh dari riuhnya urusan duniawi.

KOMPAS/LUKI AULIA Di Koyasan, Prefektur Wakayama, terdapat 117 kuil, 52 kuil diantaranya menyediakan penginapan untuk calon biksu maupun wisatawan. Seperti Kuil Jofukuin yg berada di pinggir jalan penting Koyasan ini.

Ketertarikan Kobo Daishi pada ajaran Singon Buddha muncul setelah ia bertemu dengan pendeta Buddha. Ia dulu meninggalkan kuliah demi mendalami ajaran Buddha di usia 20 tahun.

Pada tahun 804, Kobo Daishi ikut rombongan misi diplomatik Jepang ke Tiongkok. Di sana ia belajar kepada banyak biksu dari beragam kuil tentang ajaran Buddha, India, dan Sanskerta.

Dua tahun kemudian ia kembali ke Jepang dan akan menyebarkan Singon Buddha yg yaitu bentuk Tantrayana atau Wajrayana dari India dan terkait dengan Buddha di Tibet.

Lamunan tentang kisah perjalanan spiritual Kobo Daishi buyar setelah mendengar bunyi lonceng dari lantai bawah. Saatnya ibadah pagi pukul 6. Tamu boleh menyaksikan ritual ibadah yg dipimpin kepala biksu Kuil Jofukuin selama sesuatu jam.

Ruangan remang-remang dengan pencahayaan dari lilin dan lentera di langit-langit itu penuh terisi tamu dan para biksu yg menunggu dalam diam. Aroma ruangan wangi dari asap tipis dupa yg dipasang di dua titik.

Saat para biksu yg ada di sisi kiri kanan altar membaca mantra atau doa bersama-sama, terdengar persis seperti orang tahlilan. Ritmis, tapi sesekali diselingi suara lonceng yg dipukul lirih.

KOMPAS/LUKI AULIA Ibadah pagi di kuil. Setiap pagi jam 06.00 ada ibadah pagi di kuil di dalam penginapan kuil Jofukuin, Koyasan. Tamu diperbolehkan ikut berdoa atau melihat prosesi ritual ajaran Singo Budha di Jepang.

Sebelum kembali ke Tokyo, kalian menapak tilas situs-situs suci utama seperti Okunoin, situs paling suci di Koyasan. Di sepanjang 2 kilometer jalan setapak dari bebatuan sampai tempat peristirahatan abadi Kobo Daishi yg sunyi sepi, terdapat lebih dari 200.000 batu nisan makam, monumen peringatan, dan tugu peringatan di antara pepohonan cedar lebat berusia ribuan tahun.

Kobo Daishi, kata Inaba-san, masih ada di situs ini menjalani pertapaan abadi. Setiap pukul 6 dan 10.30 pagi, para biksu membawakan makanan buat Kobo Daishi. Karena omongan Inaba-san itu, sembari berjalan ke pintu keluar, aku dua kali menengok ke arah situs itu sambil berharap mampu bertemu lagi di yang lain kesempatan. (LUKI AULIA)

Versi cetak artikel ini terbit di harian Kompas edisi 9 Oktober 2016, di halaman 28 dengan judul “Bergaya Hidup ala Biksu”.

Sumber: http://travel.kompas.com/read/2016/10/18/161500127/bergaya.hidup.ala.biksu
Terima kasih sudah membaca berita Bergaya Hidup ala Biksu. Silahkan baca berita lain tentang Traveling lainnya.

Tags:

Leave a reply "Bergaya Hidup Ala Biksu"

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.