Berbuka Puasa Gaya Kolonial

No comment 88 views

Berikut artikel Berbuka Puasa Gaya Kolonial, Semoga bermanfaat

BERSANTAP di restoran bernuansa kolonial jenis E&O, di kawasan Mega Kuningan, Jakarta, melekatkan kesan tersendiri. Suasana ruangan dan lampu penerangan yg temaram, lengkap pula dengan kursi rotan dan meja kayu sederhana era 1920 atau 1930-an.

Berbagai pernak-pernik hiasan ruang bernuansa oldies hadir di seluruh sudut, semakin membuat waktu seolah mundur jauh kembali ke belakang. Masa saat para kolonialis akan menguasai jalur-jalur perdagangan dan bahkan pemerintahan negeri jajahan mereka, terutama di kawasan Asia Tenggara.

Selain menawarkan aneka menu makanan dan minuman reguler, sepanjang Ramadhan tahun ini, E&O juga menawarkan ke mereka yg ingin merasakan berbuka puasa dalam suasana masa kolonial tadi.

Sejumlah variasi menu berbuka puasa juga sudah disiapkan, akan dari hidangan pembuka, makanan utama, sampai sajian pencuci mulut, yg semuanya bertemakan Asia dan peranakan olahan chef Will Meyrick.

KOMPAS/LUCKY PRANSISKA Malaysian lamb korma menu khas E&O Jakarta, Kamis (9/6/2016).

Bersama sejumlah jurnalis dan para food blogger, Kamis (9/6/2016), Kompas diundang buat ikut mencicipi beragam sajian khusus menu berbuka puasa garapan E&O tadi.

Seperti laiknya ketika berbuka, hidangan pertama yg disajikan tidak lama setelah azan Magrib dikumandangkan, tentu saja semangkuk makanan takjil kolak ubi sesuai dengan anjuran penganan manis yg direkomendasikan buat membatalkan puasa.

Kejutan soka

Sebagai menu pembuka, chef Meyrick selaku ”tuan rumah” menghidangkan rujak ala Singapura. Berbeda dengan rujak lokal, racikan rujak chef Meyrick ini tidak sekadar berisi irisan buah-buahan segar.

Selain irisan buah nanas, mangga muda, bengkuang, timun, dan jambu air, chef Meyrick juga memakai sejenis petis yam bean prawn paste, dicampur asam jawa, dan bumbu kacang, layaknya bumbu rujak biasa. Meski begitu, bukan segala bahan baku tadi yg menjadikan rujak ala Singapura menjadi berbeda dan unik, terutama di lidah orang Indonesia.

Perbedaan signifikan tampak dari tambahan sesuatu bahan ”tak terduga” berupa potongan kepiting soka, yg digoreng tepung. Tak sekadar menjadi hiasan, tambahan tadi juga menghadirkan cita rasa unik, paduan segarnya rasa asam dan manis dari rujak dengan gurihnya kepiting soka goreng tepung yg memberi tekstur.

KOMPAS/LUCKY PRANSISKA Ayam Merah menu khas E&O Jakarta, Kamis (9/6/2016).

Sayangnya rasa petis dalam bumbu rujak tak terlalu terasa, terutama seandainya lidah terbiasa dengan petis ala jawa timuran yg kuat beraroma udang. Walau terbilang mengejutkan, sebagian barangkali mengangankan keberadaan kepiting soka goreng tepung tadi bisa menjadi lauk yg sedap dengan nasi putih hangat.

Selain rujak Singapura tadi, chef Meyrick juga menghidangkan dua pilihan menu lain, seperti martabak telur, lengkap dengan acar mentimun, irisan cabe rawit, atau saus kari ikan.

Juga camilan khas Indonesia, tahu isi, yg dibuat dari tahu sumedang dengan isian otak-otak ikan makarel, serta disajikan dengan saus berisi paduan kecap manis dan asin, taoco, dan bawang putih. Isian otak-otak ikan makarel tadi menjadikan tekstur tahu menjadi lebih kenyal dan padat.

Masuk ke menu utama, tuan rumah chef Meyrick lebih lanjut menghidangkan sejumlah menu andalan yg dari namanya saja sulit buat ditolak. Beberapa menu andalan itu seperti rendang malaysian lamb korma, yg disajikan dengan taburan potongan kacang almond. Menu ini khas peranakan India di Malaysia.

KOMPAS/LUCKY PRANSISKA Tahu isi spesial Ramadhan menu khas E&O Jakarta, Kamis (9/6/2016).

Walau memakai bumbu rempah standar ala masakan India, jenis jintan dan saus mint chutney, pendekatan Melayu dikerjakan dengan mengganti pemakaian krim susu dengan santan kelapa. Dibandingkan dengan olahan daging rendang sapi biasa, penggunaan daging paha domba di menu ini terasa lebih empuk dan gampang dikunyah.

Selain itu, aroma rempah-rempahnya juga tidak kalah membangkitkan selera makan, apalagi saat sajian ini disandingkan dengan nasi putih hangat bertabur bawang goreng, seperti tersaji di atas meja.

Tak puas dengan rendang domba ala peranakan India di Malaysia tadi, chef Meyrick juga seolah masih coba memanjakan selera pelanggannya dengan menyajikan menu andalan lain. Beberapa menu andalan yg juga disajikan sebagai pilihan makanan berbuka puasa kali ini adalah gulai ikan baramundi dan ayam merah.

Durian

Menu ayam merah juga dikenal sebagai masakan khas Malaysia. Daging ayam dimasak dalam saus tomat dengan bumbu kapulaga, sereh wangi, ditambah daun mint segar, yg dimasak di atas api kecil. Cita rasa asam dari tomat berpadu dengan aroma kapulaga dan sereh wangi, namun tetap terasa ringan, menyelimuti potongan daging ayam yg empuk.

KOMPAS/LUCKY PRANSISKA Nuansa klasik restoran East and Oriental (E&O), Jakarta, Kamis (9/6/2016). Makanan khas Eropa dan Asia menjadi menu andalan restoran ini.

Ketika perut menjelang kenyang, kembali chef Meyrick menyajikan hidangan penutup yg lumayan mengejutkan, martabak durian dengan es krim serta sago pudding bertabur irisan daging nangka. Seperti juga namanya, martabak durian adalah sajian kulit martabak garing yg bagian tengahnya diolesi ”selai” durian, dahulu disajikan dengan tambahan sesuatu sendok scoop es krim.

Seolah ingin mengimbangi rasa manis dan aroma legit durian, menu hidangan pencuci mulut kedua, sago pudding lebih didominasi cita rasa asam segar dari puree markisa. Rasa asam tersebut berpadu dengan sagu mutiara yg dimasak dengan santan, gula dan garam, vanila, serta ditambahi irisan daging buah nangka, semuanya disajikan dingin. (WISNU DEWABRATA)
Sumber: http://travel.kompas.com/read/2016/06/27/074254527/berbuka.puasa.gaya.kolonial
Terima kasih sudah membaca berita Berbuka Puasa Gaya Kolonial. Silahkan baca berita lain tentang Traveling lainnya.

Tags:

Leave a reply "Berbuka Puasa Gaya Kolonial"

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.