Begini Cara Aman “Bercengkerama” Dengan Bima Dan Sherine

No comment 86 views

Berikut artikel Begini Cara Aman “Bercengkerama” dengan Bima dan Sherine, Semoga bermanfaat

KOMPAS.com – Bima dan Sherine bak sejoli yg tengah menari. Gerakan mereka meliuk gemulai. Panjang yg mencapai angka sembilan meter tak membuat Bima terkendala buat menggerakkan tubuh seberat hingga 500 kilogram di kedalaman 30 meter perairan pantai Desa Botubarani, Kecamatan Kabila Bone, Kabupaten Bone Bolango, Provinsi Gorontalo, pada Jumat (22/7/2016) siang itu.

Hal yg sama pun dikerjakan Sherine. Berukuran lebih kecil ketimbang Bima, Sherine pun bahkan berenang mendekat dengan perahu sema-sema, perahu bercadik khas Butobarani. Karuan saja, para pengunjung perairan di atas perahu itu melepaskan kepala-kepala udang bagi santapan.

Bima dan Sherine adalah beberapa dari sekitar 13 ekor ikan hiu paus di perairan Botubarani tersebut. Hewan  bernama Latin  Rhincodon typus yg keberadaannya cenderung menetap sejak enam bulan silam  segera menjadi ikon kebanggaan lokal.

Kemudian, cerita mengenai keberadaan hiu paus kembali mengemuka tatkala PT Sido Muncul Tbk pada akhir Mei dulu launching lanjutan serial iklan pariwisata. Melalui tayangan itu, kata Direktur  Marketing Sido Muncul Irwan Hidayat, ketika peluncuran perdana di Jakarta, pihaknya berharap keberadaan hiu paus di Botubarani mulai kian meluas dikenal banyak khalayak. (Inspirasi Maju Gorontalo dari Hiu Paus)

KOMPAS.COM/ROSYID A AZHAR Kevin (12) dan 2 temannya memberi makan hiu paus di Desa Batumarani, Kabila Bone, Kabupaten Bone Bolango, Gorontalo. Hiu paus ini sangat jinak dan biasa bermain dengan anak-anak nelayan.

Indonesia

Kompas.com/Josephus Primus Hal utama adalah pengunjung mesti membayar ongkos buat dapat menikmati wisata hiu paus di Botubarani, Gorontalo. Ongkos itu, nantinya, berguna untuk pengembangan lokasi wisata berikut sumber rezeki buat warga Botubarani.

Adalah Whaleshark Indonesia yg menorehkan catatan pada lamannya bahwa Indonesia menjadi daerah migrasi hiu paus. Alasannya, Indonesia berada di wilayah tropis. Perairan di wilayah tropis telah amat dikenal sebagai daerah kaya nutrisi dan pakan buat ikan-ikan bertubuh besar. Jadilah, wilayah Indonesia menjadi tempat mecari makan, juga, untuk hiu paus.

Selain di Botubarani yg yaitu bagian dari perairan Teluk Tomini, hiu paus acap mampir juga di dua daerah di Indonesia. Misalnya di Teluk Cendrawasih, Papua. Pernah pula hiu paus mampir mencari makan di perairan Teluk Jakarta.

Khusus di Botubarani, masyarakat di situ menjadi pengelola keberadaan hiu paus. “Ya, masyarakat sekitar yg mengelola tempat itu,” kata Gubernur Gorontalo Rusli Habibie menjawab pertanyaan 15 wartawan, termasuk Kompas.com, yg bertandang ke rumah dinasnya di Kota Gorontalo.

Sementara itu, di lokasi, ada Pak Arfan yg didapuk warga setempat menjadi koordinator untuk dua orang bagi mengatur pemberian makanan buat hiu paus. “Ya, kita pawang hiu paus. Kami opa (kakek) hiu paus,” kelakar pria berusia 53 tahun itu.

Arfan bercerita, pihaknya memutuskan aturan bahwa lokasi keberadaan hiu paus cuma dibuka sejak sekitar pukul 07.00 waktu Indonesia tengah (Wita) sampai dengan 17.00 Wita tiap harinya. Menurut Arfan, pembagian waktu itu juga ada hubungannya dengan jadwal pemberian makan. Soalnya, tak mampu setiap waktu hiu paus makan. (2.000 Pengunjung Padati Wisata Hiu Paus di Gorontalo)

Kemudian, makanan hiu paus adalah kepala udang, limbah pabrik pengolahan udang yg letaknya dekat dengan lokasi hiu paus. “Tidak boleh pengunjung membawa udang dari tempat lain,” kata Arfan.

Meski hiu paus jinak dan terus mendekati manusia, Arfan berharap agar pengunjung tak menaiki punggung ikan tersebut. Berenang memakai peralatan keselamatan semisal pelampung dengan  tenang di dekat hiu paus adalah salah sesuatu yg dapat dijadikan pilihan. “Nah, kalau mau mengelus kepala ikan hiu paus, silakan,” kata pria yg sempat menjadi nelayan itu.

Mengelus bagian kepala hiu paus, ternyata ada caranya tersendiri. Arfan mengatakan, arahkan tangan dari kepala hiu paus menuju bagian punggung. Pasalnya, cara seperti itu menyesuaikan diri dengan arah sisik ikan hiu paus. “Kalau berlawanan, pasti tangan kami mulai merasakan sirip yg kasar,” imbuh Arfan sembari menambahkan, jika  tidak ingin repot, pengunjung dapat naik perahu sema-sema dan memberi makan ikan hiu paus dari atas perahu.

Hal yang lain yg juga utama adalah pengunjung mesti membayar ongkos buat mampu menikmati wisata hiu paus. Ongkos itu, nantinya, berguna untuk pengembangan lokasi wisata berikut sumber rezeki untuk warga Botubarani. Selamat menikmati “bercengkerama” dengan Bima dan Sherine!

SURJATUN WIDJAJA Lilie Chow dan hiu paus (whale shark) di Teluk Cendrawasih, Papua Barat, Senin (17/8/2015).

Sumber: http://travel.kompas.com/read/2016/07/28/163106527/begini.cara.aman.bercengkerama.dengan.bima.dan.sherine
Terima kasih sudah membaca berita Begini Cara Aman “Bercengkerama” dengan Bima dan Sherine. Silahkan baca berita lain tentang Traveling lainnya.

Tags:

Leave a reply "Begini Cara Aman “Bercengkerama” Dengan Bima Dan Sherine"