Bagaimana Menjadi Negara Yang Bahagia?

No comment 152 views

Berikut artikel Bagaimana Menjadi Negara yang Bahagia?, Semoga bermanfaat

Copenhagen – Traveling ke negara-negara yg bahagia mulai menjadi pengalaman berbeda. Melihat masyarakat yg damai dan ramah, serta keselarasan alam yg menyejukan pandangan. Sekaligus mempelajari, cara menjadi bahagia itu sendiri.

Untuk mengetahui negara-negara bahagia di dunia, United Nation atau PBB melakukan penelitian. Penelitiannya dikerjakan oleh United Nations Sustainable Development Solutions Network atau disingkat UNSDSW dalam survey bertajuk World Happiness Report.

Penilaiannya berdasarkan harapan hidup masyarakat yg tinggi, produk domestik bruto per kapita, kehidupan sosial, tingkat kemurahan hati, kebebasan menentukan pilihan dan korupsi yg rendah. Kemudian setiap tahunnya, dirilislah 10 negara paling bahagia di dunia.

Tak cuma itu, situs-situs berita internasional seperti CNN Travel dan BBC Travel juga kerap merilis cara-cara menjadi bahagia dari suatu negara. detikTravel pun pernah mengulas, rahasia bahagia dari 5 negara yakni Denmark, Norwegia, Islandia, Bhutan dan Kosta Rika

Disusun detikTravel, Jumat (5/8/2016) berikut cara-cara menjadi bahagia dari 5 negara di dunia tersebut:

1. Percaya kepada orang lain

Tahukah Anda, Denmark tidak pernah keluar dari peringkat 10 besar negara paling bahagia di dunia versi PBB. Tahun 2013 dan 2014, menempati peringkat pertama. Lalu 2015 di peringkat dua, kembali lagi di tahun 2016 ini menjadi yg pertama.

Salah sesuatu resep kebahagiaan orang Denmark adalah kepercayaan. Mereka mempercayai pemerintah, mempercayai keluarga, mempercayai tetangga, mempercayai rekan kerja, hingga mempercayai turis. Ini juga yg membuat mereka merasa hidup aman.


(Thinkstock)

Jadi tidak perlu khawatir seandainya meninggalkan rumah tanpa dikunci, atau kalau kelupaan mencabut kunci kendaraan. Dengan saling yakin dan menjaga kepercayaan, membuat hidup lebih aman dan tak gampang was-was.

Selain Denmark, penduduk Norwegia dan Islandia pun melakukan hal yg sama. Dengan adanya rasa saling percaya, mereka mulai merasa damai dan tentram ketika berada di mana saja. Mereka saling percaya, bagi saling menjaga.

2. Jam kerja yg tidak berat dan jatah cuti yg banyak

Kebahagiaan suatu negara dapat dilihat dari jam kerja para penduduknya serta jatah cuti yg mereka dapatkan. Bukan berarti malas-masalan buat bekerja, melainkan keseimbangan antara bekerja dan istirahat haruslah diperhatikan. Dengan mampu pulang cepat dari kantor atau mendapat waktu cuti lebih lama, ada banyak hal yang lain yg dapat dikerjakan seperti traveling atau mengunjungi kerabat-kerabat jauh yg juga mampu menjadi manfaat.

Di Denmark dan Norwegia, jam kerja dalam sesuatu pekan masing-masing 37 dan 38 jam saja. Jika dibagi 5 hari kerja (Senin-Jumat), maka rata-rata per hari mereka bekerja selama 7 jam saja. Tidak kurang tak lebih.


(Thinkstock)

Bekerja terlalu berat, dirasa mampu menyebabkan stress dan jatuh sakit. Tak cuma jam kerja, jatah cuti untuk para karyawan pun sangat diperhatikan. Di Denmark, jatah cuti selama sesuatu tahun adalah 35 hari. Sedangkan Norwegia milik aturan sendiri buat jatah cuti wanita hamil, yakni setelah melahirkan mampu cuti selama 10 bulan!

3. Pajak yg tinggi dan tak adanya kesenjangan sosial

Denmark dan Norwegia mematok pajak yg tinggi buat para penduduknya. Menariknya, para penduduknya tak mempersalahkannya. Sebab pajak yg tinggi, nantinya mulai tersalurkan ke sektor kesehatan dan pendidikan untuk penduduknya sendiri.

Maka jangan heran, fasilitas rumah sakit atau pengobatan di beberapa negara tersebut diberikan secara gratis bagi penduduknya. Pun begitu untuk anak-anak sekolah dan mahasiswa di tiap universitas, yg bisa belajar secara cuma-cuma. Bahkan para pengganguran, mulai mendapat tunjangan hidup sampai mereka mendapat pekerjaan. Itu seluruh uangnya dari pajak. Dengan pajak yg tinggi, tak ada yg orang yg kaya banget, dan tak ada orang yg miskin banget.

Pajak yg tinggi pun bisa membuat kesenjangan sosial tak terlampau jauh. Bicara soal kesenjangan sosial, ada yg menarik di Islandia. University of Missouri, universitas dari AS pernah melakukan survei kepada orang-orang Islandia perihal status sosial.

Hasilnya mengejutkan, cuma 1,1 % yg menilai dirinya adalah kalangan kelas atas dan 1,5 % mengaku sebagai kalangan kelas bawah. Sisanya, 97 % mengidentifikasi diri mereka sebagai dua-duanya.

Di Islandia, orang-orang kaya tak hidup secara eksklusif dan terpisah. Mereka hidup berbaur, tinggal di lingkungan bersama kalangan menengah dan bawah. Hidup jadi lebih bahagia.

4. Kehidupan sosial yg damai

Di Kosta Rika ada prinsip yg berbunyi seperti ini, ‘ketika ada pertengkaran atau adu argumen di Kosta Rika maka tidak boleh lebih dari tiga hari’. Artinya, masyarakat Kosta Rika mulai memilih bagi hidup berdamai dan menghilangkan dendam.

Dari hal kecil itulah, berpengaruh kepada kehidupan sosial negaranya. Namanya hidup pasti ada konflik dan drama, namun yg terpenting adalah bagaimana kalian mampu cepat menyelesaikannya.


(Thinkstock)

Kalau kehidupan sosial di Islandia, adalah saling membantu. Mahasiswa hukum yang berasal AS, Andrew Clark pernah menulis buat BBC Travel mengenai pengalamannya tinggal di Islandia selama 6 bulan dan meneliti kriminalitas di sana.

Bukannya berita-berita kriminalitas yg didapat, Andrew malah melihat orang-orang yg bahagia setiap hari. Di hari pertamanya saja, saat dia baru sampai dan kebingunan mencari alamat di tengah hujan salju, seorang pria tua Islandia menawarinya tumpangan.

Andrew sedikit ragu-ragu dan was-was. Seperti yg biasa kalian dengar, jangan begitu saja mau naik tumpangan dari orang asing atau yg kalian tak kenal. Namun rasanya hal itu tidak berlaku di Islandia, sebab Andrew ternyata diantarkan segera ke tempat tujuan.

5. Hidup yg sederhana

Kesederhanaan tidak terlepas dari negara-negara paling bahagia di dunia. Lihatlah Denmark, Norwegia dan Islandia yg mana para penduduknya hidup dengan cara yg sederhana. Satu contohnya, mereka lebih memilih naik sepeda buat berpergian.

Baik buat pergi ke sekolah, ke pasar hingga ke kantor, mereka memilih naik sepeda atau transportasi umum. Sebenarnya tidak sedikit dari mereka yg dapat membeli mobil, tetapi ternyata tetap saja memilih sepeda.


(Thinkstock)

Naik sepeda telah tentu menyehatkan badan. Naik sepeda juga murah, tidak perlu keluar uang. Jalur sepeda pun tersedia dengan baik, dilengkapi tempat parkir sepeda yg nyaman pula. Satu lagi, dengan naik sepeda mulai lebih gampang bagi berinteraksi dengan orang-orang. Gowes sambil ngobrol bareng, sekaligus bertemu teman-teman baru pasti menyenangkan.

6. Menjaga alam

Kosta Rika milik peraturan unik mengenai pembangunan gedung. Barangsiapa yg membuat bangunan baru, maka harus mendapat sertifikat dari kantor lingkungan nasional seperti tak membuang limbah ke sungai dan menanam pohon di sekitar gedung.

Bahkan tahun 2021 mendatang, Kosta Rika bersiap mendeklarasikan diri sebagai negara pertama yg bebas karbon. Kosta Rika memang tak main-main dalam menjaga alamnya, baik sungai, gunung hingga hutan. Pemerintah Kosta Rika pun telah mengganti sumber-sumber energi yg lebih ramah lingkungan. Gas rumah kaca ditekan sampai rendah hingga polusi air dan udara jauh berkurang. Bahkan dari luas wilayah negaranya yg seluas 51.100 km persegi, 25 persennya adalah hutan lindung dan cagar alam!


(Thinkstock)

Hal itu membuat Kosta Rika menjadi negara hijau yg sedap dipandang. Tidak ada tanah yg gersang, semuanya serba hijau. Itu pulau yg turut menjadi faktor kebahagiaan warganya, sebab setiap hari menghirup udara segar dan bisa menenangkan pikiran.

Bicara soal alam dan hidup yg bahagia, Norwegia turut memberlakukan peraturan khusus. Gedung-gedung perkantoran yg dibangun diharuskan dengan menghadap ke danau atau ke pegunungan. Alasannya, adalah agar para karyawan tak stress ketika bekerja. Kalau pikiran penat, pandangi saja danau yg cantik dan pegunungan yg elok dari jendela.

7. Mengingat kematian

Di poin yg terakhir ini, mari kami belajar mengingat kematian dari negara Bhutan. Orang-orang Bhutan percaya, dengan mengingat kemarian maka mulai menikmati setiap momen dalam kehidupan. Menikmati waktu yg ada dan lebih memilih buat menjadi pribadi yg baik, serta berguna buat orang lain.


(AFP)

Merenungkan kematian lima kali sehari bahkan telah menjadi kebiasaan buat orang-orang Bhutan. Bukan berarti orang-orang di Bhutan berani buat mati. Mereka tetap takut dengan datangnya kematian, tetapi justru tak memikirkan hal itu menjadi masalah. Bhutan pun menawarkan kematian dalam banyak cara, seperti jatuh dari jurang, diserang beruang atau makan jamur beracun.

Kesimpulannya, kematian suatu hal yg mungkin dianggap mengerikan. Tetapi saat orang-orang merenungkan hal itu, otak Anda dengan otomatis mulai mencari pikiran atau satu yg bahagia.

Itulah rahasia dari Bhutan yg menjadi negara paling bahagia di dunia. Orang-orang di Bhutan yg setiap hari merenungkan kematian, justru membuat mereka makin menikmati hidup tiap detiknya.

(aff/aff)

Sumber: http://travel.detik.com/read/2016/08/05/124309/3269138/1520/bagaimana-menjadi-negara-yang-bahagia
Terima kasih sudah membaca berita Bagaimana Menjadi Negara yang Bahagia?. Silahkan baca berita lain tentang Traveling lainnya.

Tags:

Leave a reply "Bagaimana Menjadi Negara Yang Bahagia?"

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.