Ada Berapa Jenis Sate Maranggi? Sate Ini Makin Naik Kelas…

No comment 119 views

Berikut artikel Ada Berapa Jenis Sate Maranggi? Sate Ini Makin Naik Kelas…, Semoga bermanfaat

KOMPAS.com – Coba tanya ke dua orang, apa yg mereka tahu tentang Purwakarta? Sebagian besar mulai menjawab Sate Maranggi.

Ya, Sate Maranggi memang makanan khas Purwakarta, Jawa Barat. Di mana pun kaki melangkah di Purwakarta, pelancong mulai dengan gampang menemukan penjual sate ini.

Bupati Purwakarta Dedi Mulyadi mengatakan, ada lima macam Sate Maranggi yg berkembang berdasarkan wilayah. Pertama, Maranggi Plered atau yg berkembang di Kecamatan Plered.

Ukuran daging Maranggi Plered agak kecil. Bumbu yg digunakan cuma kecap. Saat disantap, sate ini dilengkapi dengan nasi, bumbu kecap, cabai rawit, dan garam.

“Plered ini tempat pertama kali Sate Maranggi berkembang,” tutur Dedi kepada Kompas.com di Purwakarta, Selasa (6/12/2016).

Kedua, Sate Maranggi Cikubang-Wanayasa. Jenisnya hampir mirip dengan Plered. Hanya, bentuk daging sate ini lebih kecil dan tak memasukkan bagian lemak.

Sementara itu, Maranggi ketiga dan yg terkenal di mana-mana adalah Maranggi Cibungur. Ukuran sate maranggi ini lebih besar, tak memasukkan bagian lemak.

Adapun maranggi keempat adalah Maranggi Bojong yg biasanya dapat diperoleh di tukang pikul. Berbeda dengan maranggi yang lain yg memakai nasi, Bojong memakai ketan bakar yg ditambah oncom.

Dok Humas Pemkab Purwakarta Bupati Purwakarta Dedi Mulyadi menyampaikan bahwa Sate Maranggi memiliki potensi besar. Itulah sebabnya dia membuat dua festival setiap tahun bagi mendekatkan sate ini dengan masyarakat, seperti Festival Kampoeng Maranggi di Plered, Purwakarta.

Satu lagi, dan ini yg terakhir, adalah Maranggi Pasawahan.

“Tiap daerah milik cita rasa tersendiri. Sate maranggi di kelima daerah ini rasanya beda, bumbu pendampingnya beda, jumlah daging yg ditusukannya pun beda. Ada yg cuma memakai daging, ada pula yg memasukkan bagian lemak,” tutur Dedi.

Meski memiliki ciri khas, namun cara memasaknya memiliki standar yg sama. Yakni, daging segar dicampur daun pepaya agar empuk. Setelah itu dipotong, ditusuk, dibakar, dan diberi bumbu yg sederhana, namun nikmat di lidah.

“Kuncinya, daging harus segar, memakai daun pepaya, dan dibakar memakai arang. Dengan begitulah rasanya mulai keluar. Kalau dagingnya dari freezer dan dibakar dengan selain arang, rasanya berubah,” tuturnya.

Saat ini makanan kebanggaan Purwakarta itu telah mendunia. Di Purwakarta sendiri, ada sekitar 1.000 pedagang Sate Maranggi.

“Kalau 1.000 pedagang ini menghidupi 10 orang, berarti ada 10.000 warga yg menggantungkan hidup dari Sate Maranggi. Itu sama dengan buruh di sesuatu pabrik,” ujar Dedi.

Jumlah tersebut belum termasuk pemasok bahan sate maranggi. Seperti daging sapi, daging kambing, daging ayam, gula, garam, tusuk bambu, cabai rawit, beras, daun pisang, dan lainnya.

“Sate Maranggi menciptakan multiplier effect, bahkan dapat dibilang telah industri makanan,” kata Dedi.

Dok Humas Pemkab Purwakarta Di Purwakarta sendiri, ada sekitar 1.000 pedagang Sate Maranggi.

Naik Kelas

Sebenarnya, sambung Dedi, Sate Maranggi tumbuh pesat dua tahun ini. Dia masih ingat, saat zaman kuliah, jarang sekali ada penjual Sate Maranggi. Yang diingat adalah penjual sate ketika itu ada di perempatan Cianting.

Seiring waktu, bertambahlah pedagang di Cikubang, punya Abah Ajuk. Setelah itu ada sate Maranggi Cibungur.

“Yang terkenal duluan kelapanya di Cibungur itu, baru satenya,” terangnya.

Dedi melihat, Maranggi memiliki potensi besar. Itulah sebabnya dia membuat dua festival setiap tahun buat mendekatkan sate ini dengan masyarakat, seperti Festival Kampoeng Maranggi di Plered, Purwakarta.

Dedi juga mendorong penjagaan kualitas dan memperkenalkan Sate Maranggi ke berbagai tempat di Indonesia, bahkan dunia.

“Sate Maranggi telah masuk ke Istana negara hingga Amerika,” katanya.

Di Amerika, konsep penjualan Sate Maranggi dalam bentuk food truck. Dari laporan yg diterimanya, penerimaan warga Amerika terbilang baik.

Setelah Sate Maranggi naik kelas, penjualnya pun menjamur, bahkan sampai di hotel. Walau demikian, Dedi mengaku tak menjamin rasa sate Maranggi di hotel mulai sama, karena Maranggi membutuhkan daging segar.

“Tidak enak kalau daging dari freezer, harus daging segar. Bahkan, biasanya dagingnya digantung,” tutupnya.

RENI SUSANTI/KONTRIBUTOR PURWAKARTA

Sumber: http://travel.kompas.com/read/2016/12/07/150731927/ada.berapa.jenis.sate.maranggi.sate.ini.makin.naik.kelas.
Terima kasih sudah membaca berita Ada Berapa Jenis Sate Maranggi? Sate Ini Makin Naik Kelas…. Silahkan baca berita lain tentang Traveling lainnya.

Tags:

Leave a reply "Ada Berapa Jenis Sate Maranggi? Sate Ini Makin Naik Kelas…"

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.