8 Festival Unik Di Indonesia Saat Lebaran

No comment 132 views

Berikut artikel 8 Festival Unik di Indonesia Saat Lebaran, Semoga bermanfaat

KOMPAS.com – Indonesia memiliki latar belakang beragam dan budaya yg kaya. Tak heran ketika hari raya Idul Fitri, tiap daerah memiliki tradisi berbeda. Tradisi-tradisi ini memiliki makna yg indah dan tujuan yg menarik bagi disimak, seperti berikut ini:

1. Bakar Gunung Api di Bengkulu

Tradisi yg dikerjakan buat menyambut hari raya Lebaran ini dikerjakan oleh Suku Serawai. Tradisi ini yaitu tradisi turun temurun yg telah dikerjakan beratus tahun.

Saat malam takbiran, masyarakat mulai menyusun batok kelapa yg disusun layaknya tusuk sate. Batok kelapa kemudian dibakar, sebagai simbol ucapan syukur kepada Tuhan dan juga doa buat arwah keluarga agar tentram di dunia akhirat.

TRIBUNJOGJA/BRAMASTO ADHY ILUSTRASI – Prajurit Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat mengawal ‘gunungan kakung’ dari Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat ketika berlangsungnya tradisi Grebeg Syawal, Rabu (31/08/2011). ‘Gunungan Kakung’ yg terdiri dari berbagai sayuran dan hasil bumi tersebut kemudian diarak menuju ke Masjid Gede Keraton bagi selanjutnya dirayah warga. Warga yg berhasil mendapat salah sesuatu isi dari gunungan tersebut dipercaya mulai mendapatkan berkah dan rezeki. Upacara tersebut itu dilaksanakan bertepatan dengan perayaan 1 Syawal 1432 H.

2. Grebeg Syawal di Yogyakarta

Festival sesuatu ini biasanya tidak luput dari pemberitaan di media televisi. Acara akbar ini yaitu ritual Keraton Yogyakarta yg rutin dikerjakan pada Satu Syawal.  Upacara tersebut diawali dengan keluarnya Gunungan Lanang (Kakung) dan dibawa ke Masjid Gede Keraton Ngayogyakarta bagi didoakan.

Gunung Lanang terbuat dari sayur-sayuran dan hasil bumi lainnya. Gunungan tersebut dikawal oleh prajurit keraton. Puncaknya, masyarakat mulai memperebutkan hasil bumi di Gunung Lanang yg dipercaya membawa berkat.

3. Perang Topat di Lombok, Nusa Tenggara Barat

Selain di makan, di Lombok, Nusa Tenggara Barat, ketupat juga dijadikan alat perat. Perang di sini adalah saling melemparkan ketupat setelah berdoa dan berziarah di Makam Loang Baloq di kawasan Pantai Tanjung Karang dan Makam Bintaro di kawasan Pantai Bintaro setelah Lebaran.

Melempar ketupat dipercaya mampu mengabulkan doa. Sejatinya Perang Topat adalah simbol kerukunan umat Hindu dan Islam di Lombok, sebab peserta perang topat adalah masyarakat dari kedua umat.

4. Ngejot di Bali

Keindahan toleransi antar masyarakat juga ada di Bali. Nyama Selam yg artinya saudara dari kalangan Muslim, yaitu sebutan khas penduduk Bali yg mayoritas Hindu kepada kerabat sekampung yg beragama Islam.

Tradisi yg dikerjakan adalah ngejot, merupakan umat Muslim yg merayakan Lebaran memberi hidangan pada tetangga tanpa peduli latar belakang agama. Sebagai balasan, umumnya umat Hindu mulai memberi makanan pada tetangganya di Hari Raya Nyepi atau Galungan.

5. Meriam Karbit di Pontianak

Konon meriam karbit dulu ditembakan buat mengusir kuntilanak, namun demikian kini meriam karbit berubah menjadi festival yg ditunggu tiap Lebaran. Festival tersebut biasa diadakan di tepian Sungai Kapuas dan telah menjadi ajang perlombaan oleh masyarakat setempat.

Meriam yg mengikuti lomba harus dihias. Penilaian lomba berdasarkan bunyi meriam yg dihasilkan. Lomba diikuti oleh kelompok dan dinilai kekompakan bunyi yg dikeluarkan meriam. Untuk membuat meriam karbit dibutuhkan Rp 15-30 juta.

Meriam ini terbuat dari pohon kelapa atau kayu durian. Jadinya sebuah meriam yg panjang dengan silinder yg lebar. Tak lupa rotan digunakan sebagai pengikat meriam.

6. Binarundak di Sulawesi Utara

Makan nasi jaha beramai-ramai dikerjakan oleh masyarakat di Motoboi Besar. Bersama-sama mereka membuat nasi jaha yg terbuat dari beras ketan, santan, dan jahe yg kemudian dimasukan bambu berlapis daun pisang, dan dibakar dengan sabut kelapa.

Aktivitas membakar bambu tersebut dikerjakan di jalan atau lapangan, selesai dibakar segala masyarakat makan bersama sambil bersilaturahmi.

7. Membakar ilo sanggari di Dompu, Nusa Tenggara Barat.

Tradisi ini dikerjakan dengan membakar lentera di sekeliling rumah. Lentera terbuat dari bambu dan dililit minyak biji jarak. Penduduk setempat yakin dengan menyalakan lentera, malaikat dan roh leluhur mulai tiba dan memberikan berkah di hari Idul Fitri. Namun sayang tradisi ini semakin langka karena penggunaan lampu listrik.

8. Tumbilotohe di Gorontalo

Masyarakat setempat memasang lampu sejak tiga malam terakhir menjelang Idul Fitri. Tradisi memasang lampu tersebut awalnya buat memudahkan warga memberikat zakat fitrah di malam hari. Kala itu, lampu terbuat dari damar dan getah pohon.

Seiring waktu, lampu diganti dengan minyak kelapa dan kemudian beralih memakai minyak tanah. Tradisi ini telah berlangsung sejak abad ke-15 masehi. Kini, lampu yg dipasang hadir dalam berbagai bentuk dan warna. Lampu dipasang tidak cuma di rumah, tapi juga di tempat umum sampai di sawah. 

Sumber: http://travel.kompas.com/read/2016/07/06/140500427/8.Festival.Unik.di.Indonesia.Saat.Lebaran
Terima kasih sudah membaca berita 8 Festival Unik di Indonesia Saat Lebaran. Silahkan baca berita lain tentang Traveling lainnya.

Tags:

Leave a reply "8 Festival Unik Di Indonesia Saat Lebaran"

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.