6 Lukisan Mahakarya Koleksi Istana Negara Yang Mesti Dilihat Di Galeri Nasional

Berikut artikel 6 Lukisan Mahakarya Koleksi Istana Negara yang Mesti Dilihat di Galeri Nasional, Semoga bermanfaat

Jakarta – Galeri Nasional sedang menggelar pameran spesial bertajuk Goresan Juang Kemerdekaan. Traveler harus melihat 6 lukisan mahakarya yg sangat jarang dipamerkan.

Total ada 29 lukisan koleksi Istana Kepresidenan yg tidak ternilai harganya, dan dipamerkan dalam Goresan Juang Kemerdekaan. Lukisan-lukisan ini yaitu karya maestro lukis tanah air seperti Affandi, Raden Saleh hingga Basoeki Abdullah. Ada pula lukisan karya pelukis kenamaan luar negeri.

Setidaknya ada 6 lukisan mahakarya yg mesti traveler lihat selama pameran ini berlangsung. Kalau sedang liburan di Jakarta, wisatawan harus tiba melihatnya.

detikTravel telah memilihkan 6 dari 29 lukisan yg memiliki kisahnya tersendiri. Dihimpun Rabu (3/8/2016), berikut keenam lukisan itu:

1. Pangeran Diponegoro Memimpin Perang

Lukisan Diponegoro karya Basoeki Abdullah (Wahyu/detikTravel)

Karya lukis pertama yg dapat traveler nikmati merupakan hasil goresan kuas Basoeki Abdullah yg begitu termasyhur dengan gaya naturalisme. Judul lukisan ini adalah ‘Pangeran Diponegoro Memimpin Perang’, berukuran 120×150 cm.

Lukisan ini menjadi spesial karena milik kisahnya sendiri. Konon, potret Pangeran Diponegoro yg gagah naik kuda dengan keris terhunus ini, yaitu hasil komunikasi antara Basoeki Abdullah dengan Nyi Roro Kidul.

Lukisan ini diproduksi Basoeki pada tahun 1949 dan dilukis di Belanda usai Konferensi Meja Bundar. Traveler yg menyaksikan pameran Goresan Juang Kemerdekaan pasti mulai dengan gampang melihat lukisan ini karena letaknya paling depan dekat pintu masuk utama.

2. Potret HOS Cokroaminoto

Lukisan ‘HOS Cokroaminoto’ karya Affandi (Wahyu/detikTravel)

Karya berikutnya masih dalam tema ‘Tokoh’, terletak di sisi kanan dari lukisan Diponegoro, ada lukisan karya Affandi bertajuk HOS Cokroaminoto. Lukisan berukuran 80×60 cm ini dilukis Affandi dengan memakai cat minyak yg digoreskan di atas kanvas.

Sesuai dengan gayanya, Affandi melukis potret HOS Cokroaminoto dengan gaya Ekspresionis yg kental. Sapuan kuas Affandi begitu khas dan unik, sehingga membedakan dirinya dengan pelukis lainnya. Karya ini dihasilkan Affandi pada tahun 1946.

Cokroaminoto dalam lukisan ini digambarkan sebagai tokoh perjuangan, sekaligus guru untuk Ir Soekarno. Gestur Cokroaminoto dalam lukisan ini digambarkan mempunyai kepercayaan diri yg tinggi, cocok dengan kepribadian dan ketokohan Cokroaminoto dalam membela rakyat kecil.

3. Memanah

Lukisan ‘Memanah’ karya Henk Ngatung (Wahyu/detikTravel)

Mungkin traveler familiar dengan nama Henk Ngantung. Ya, Henk Ngantung yaitu Gubernur DKI Jakarta selama periode waktu tahun 1964 hingga tahun 1965. Namun yg tak banyak traveler tahu, sebelum diangkat Presiden Soekarno menjadi Gubernur Jakarta, Henk yaitu seorang pelukis.

Saat itu, Ir Soekarno mengangkat Henk Ngantung dengan misi menjadikan Kota Jakarta sebagai kota budaya, mengingat Henk dianggap memiliki bakat artistik yg sangat baik. Salah sesuatu karya Henk Ngantung adalah lukisan berjudul ‘Memanah’ ini.

Lukisan ‘Memanah’ ini memiliki kisahnya sendiri. Dari 29 lukisan yg dipamerkan, lukisan ini adalah satu-satunya yg tak asli, melainkan karya reproduksi dari pelukis bernama Haris Purnomo. Karya lukisan asli Henk sendiri 30%-nya mengalami kerusakan, sehingga tak mungkin buat dipamerkan.

4. Rini

Lukisan ‘Rini’ karya Ir Soekarno (Wahyu/detikTravel)

Inilah lukisan yg paling menarik selama pameran Goresan Juang Kemerdekaan. Bertajuk ‘Rini’, inilah karya lukis satu-satunya yg dilukis oleh Ir Soekarno yg kondisinya masih sangat baik dan dipamerkan buat publik.

Lukisan ‘Rini’ menyimpan misteri tersembunyi, merupakan tentang siapa yg menjadi model lukisan tersebut. Ada yg bilang Rini adalah sosok Sarinah yg menjadi pengasuh Bung Karno dulu, tapi ada juga yg bilang bahwa Rini adalah sosok perempuan ideal perpaduan antara suku Jawa dan Sasak.

Teknik yg digunakan Bung Karno dalam melukis Rini juga dapat dibilang unik. Biasanya, lukisan potret mulai dibuat tampak depan, sehingga gampang bagi ditiru. Namun, lukisan ‘Rini’ ini dilukis Bung Karno dengan angle menyamping dan menghadap depan, sehingga susah bagi ditiru.

5. Penangkapan Pangeran Diponegoro

‘Penangkapan Pangeran Diponegoro’ karya Raden Saleh (Wahyu/detikTravel)

Tak kalah keren dan menariknya dengan lukisan lain, karya Raden Saleh ini juga patut traveler simak cerita di baliknya. Bertajuk ‘Penangkapan Pangeran Diponegoro’, Raden Saleh menggambarkan detik-detik ketika Pangeran Diponegoro ditangkap oleh Belanda dengan penuh kecurangan.

Lukisan ini sangat kental nuansa nasionalismenya. Dilukis di Belanda, Raden Saleh menyerahkan lukisan ini kepada Ratu Belanda sebagai bentuk kecaman atas penjajahan Belanda di Jawa, dan menuntut Belanda agar mengembalikan martabat rakyat Jawa.

Oleh Pemerintah Belanda lukisan ini akhirnya dikembalikan ke Pemerintah Indonesia di tahun 1978, setelah tersimpan selama kurang lebih 161 tahun lamanya. Selain lukisan ini, pemerintah Belanda juga mengembalikan sejumlah artefak utama serta benda seni lainnya.

6. Gadis Melayu dengan Bunga

Lukisan karya pelukis Meksiko, Diego Rivera (Wahyu/detikTravel)

Terakhir, lukisan yg wajib traveler perhatikan bila menyaksikan pameran Goresan Juang Kemerdekaaan adalah karya pelukis yang berasal Meksiko ini. Ya, tidak cuma maestro pelukis tanah air saja, terselip pula dua nama pelukis jempolan yg berasal dari luar Indonesia, Diego Rivera salah satunya.

Lukisan ini memiliki kisahnya sendiri. Ceritanya, lukisan dengan judul asli Women with Flowers ini, adalah koleksi Presiden Lopez dari Meksiko. Lukisan ini termasuk karya Diego Rivera yg sangat langka dan bersejarah untuk rakyat Meksiko.

Bahkan, ada undang-undang yg melarang buat siapapun bagi memindahkan atau membawa keluar lukisan ini dari wilayah Meksiko. Namun berkat bujuk rayu Ir Soekarno yg mumpuni, akhirnya lukisan ini diberikan kepada Bung Karno sebagai hadiah kenang-kenangan.

Presiden Meksiko ketika itu bahkan sampai mengeluarkan dekrit alias peraturan yg membatalkan undang-undang, guna meloloskan lukisan ini agar mampu dibawa keluar dari wilayah Meksiko. Semua itu cuma demi memenuhi keinginan Bung Karno. Bukan main!

Ingat, pameran langka ini cuma berlangsung sampai tanggal 30 Agustus 2016 saja. Ayo liburan ke Jakarta dan jangan lewatkan itinerary kunjungan ke Galeri Nasional buat kesempatan langka melihat lukisan masterpiece Istana Kepresidenan. (wsw/fay)

Sumber: http://travel.detik.com/read/2016/08/03/082000/3267174/1519/6-lukisan-mahakarya-koleksi-istana-negara-yang-mesti-dilihat-di-galeri-nasional
Terima kasih sudah membaca berita 6 Lukisan Mahakarya Koleksi Istana Negara yang Mesti Dilihat di Galeri Nasional. Silahkan baca berita lain tentang Traveling lainnya.

Tags:

Leave a reply "6 Lukisan Mahakarya Koleksi Istana Negara Yang Mesti Dilihat Di Galeri Nasional"

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.