Tarif Interkoneksi Baru Jangan Untungkan Operator Swasta Saja

Berikut artikel Tarif interkoneksi baru jangan untungkan operator swasta saja, Semoga bermanfaat

Rencana pemerintah menurunkan tarif interkoneksi telepon diharapkan jangan sampai cuma menguntungkan operator swasta. Sebab selama ini operator swasta dinilai tak serius membangun infrastruktur jaringan atau membangun terbatas di kota saja. Demikian pandangan Yaqut Cholil Qoumas, anggota Komisi VI Dewan Perwakilan Rakyat RI, menanggapi polemik penurunan tarif interkoneksi ketika ini.

Menurut dia, rencana penurunan biaya interkoneksi ini juga jangan merugikan Telkom dan Telkomsel, yg selama ini giat membangun infrastruktur jaringan hingga ke daerah pedalaman atau pelosok. Apalagi investasi tersebut sudah mengeluarkan biaya yg tak sedikit.

“Terkait prinsip keadilan dan persaingan usaha yg sehat, maka perlu diberlakukan skema asimetris dalam perhitungan dasar tarif interkoneksi. Artinya, dengan skema asimetris, biaya interkoneksi dikerjakan berdasarkan biaya yg dikeluarkan atas kerja keras membangun jaringan dan efisiensi dari masing-masing operator (cost based),” ujar dia, dalam informasi pers, Selasa (6/9).

Seperti diketahui, rencana pemerintah buat menerapkan regulasi baru terkait penurunan tarif interkoneksi menimbulkan polemik yg masih selalu bergulir hingga ketika ini. Penerapan tarif baru interkoneksi yg lebih rendah rata-rata 26 persen dari Rp 250 per menit menjadi Rp 204 per menit, rencananya diberlakukan akan 1 September 2016 sesuai dengan Surat Edaran Kementerian Komunikasi dan Informasi No. 1153/M.Kominfo/PI.0204/08/2016.

Namun, kebijakan tersebut akhirnya ditunda, karena belum seluruh operator telekomunikasi menyerahkan Dokumen Penawaran Interkoneksi (DPI), yg berisi skema, tarif, dan layanan interkoneksi sesuatu operator. Saat ini operator yg menyerahkan DPI adalah Indosat, XL, Hutchison Tri Indonesia, dan Smartfren. Sedangkan, Telkom dan Telkomsel menolak menyerahkan DPI, akibat tak setuju dengan perhitungan tarif interkoneksi baru.

Menurut dia, pemerintah harus konsisten menjalankan PP No 52 Tahun 2000 tentang Penyelenggaraan Telekomunikasi, khususnya pada pasal 21, pasal 22, dan pasal 23. Khusus pasal 23 ayat 2 terkait biaya interkoneksi, disebutkan biaya interkoneksi ditetapkan berdasarkan perhitungan yg transparan, disepakati bersama dan adil. Karena itu, biaya interkoneksi yaitu cost recovery dari setiap operator.

Berdasarkan pertemuan dengar pendapat umum Komisi I Dewan Perwakilan Rakyat dengan operator telekomunikasi, lanjut dia, didapatkan data bahwa cost recovery Telkom dan Telkomsel sebesar Rp 285 per menit. Sedangkan cost recovery operator yang lain lebih rendah, seperti Indosat Rp 86 per menit, XL Rp 65 per menit, Smartfren Rp 100 per menit, dan Tri Rp 120 per menit.

“Dengan demikian, tarif interkoneksi yg rencananya dikenakan sebesar Rp 204 per menit jauh di bawah cost recovery yg ditanggung oleh Telkom atau Telkomsel,” ucap dia.

Dijelaskan, mengingat penurunan tarif interkoneksi sebesar Rp 46 per menit sesungguhnya tak terlalu berdampak signifikan buat konsumen. Komponen biaya interkoneksi setidaknya cuma berkontribusi rata-rata sebesar 15% dari total biaya tarif ritel yg berada di kisaran Rp 1.500 – Rp 2.000 per menit.

“Pada tataran ini, pemerintah seharusnya mengatakan hasil perhitungan tarif interkoneksi yg transparan dari segala operator kepada publik,” ujarnya.Sementara, berkaitan dengan efisiensi, yg perlu dikerjakan oleh segala operator mengelola biaya promosi secara efektif dan memutuskan margin yg wajar, sehingga biaya ritel yg dibebankan ke konsumen bisa lebih terjangkau. Selain itu, dengan memutuskan tarif interkoneksi berbasis biaya masing-masing operator (asimetris), secara tak segera Pemerintah mendorong para operator buat selalu membangun jaringan secara merata ke segala wilayah Indonesia.Baca juga:
Pandangan koalisi mahasiswa Indonesia Timur soal tarif interkoneksi
Sah ditunda, Kemkominfo minta tarif interkoneksi lama jadi acuan
Kemkominfo tunda penerapan interkoneksi, begini kata operator
Kemkominfo tunda penerapan interkoneksi, begini kata operator
Giliran Kemkominfo didemo serikat pekerja BUMN

Sumber: http://www.merdeka.com/teknologi/tarif-interkoneksi-baru-jangan-untungkan-operator-swasta-saja.html
Terima kasih sudah membaca berita Tarif interkoneksi baru jangan untungkan operator swasta saja. Silahkan baca berita lain tentang Iptek lainnya.

Tags:

Leave a reply "Tarif Interkoneksi Baru Jangan Untungkan Operator Swasta Saja"

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.