Polemik Dua Operator Selular, Kapan Akan Selesai?

No comment 119 views

Berikut artikel Polemik dua operator selular, kapan akan selesai?, Semoga bermanfaat

Industri telekomunikasi ketika ini tengah bergejolak. Dua operator Indosat Ooredoo dan Telkomsel tengah berselisih. Awal mula munculnya perselisihan kedua operator itu ke ranah publik, di latarbelakangi aktivitas below the line program promo telepon Rp 1 per detik yg dikerjakan oleh Indosat Ooredoo di luar Pulau Jawa. Hanya saja, dalam aktivitas yg dilakukannya itu, menyinggung tarif yg diberlakukan Telkomsel. Apalagi di sisi lain, muncul juga aksi Telkomsel yg memborong sim card punya Indosat Ooredoo di ranah media sosial. Terang saja, masalah ini menjadi pertanda seandainya genderang perang akan ditabuh.Makin memanasnya masalah ini, manakala Indosat Ooredoo menuding Telkomsel melakukan monopoli di luar Pulau Jawa dengan memiliki pangsa pasar lebih dari 50 persen. Tak sekadar menuding semata, Indosat Ooredoo pun mengajak semua petinggi operator selular buat buka suara soal persaingan yg dianggap tidak sehat ini.Kami bukan bermaksud mengajak melawan Telkomsel. Kami ingin mengajak segala operator ngomong secara terbuka mengenai keadaan monopolistic ini. Jangan diem aja, ujar CEO Indosat Ooredoo, Alexander Rusli kepada Merdeka.com.Namun, gayung tidak bersambut, ajakan bos Indosat Ooredoo tidak membuat petinggi operator selular mau bersuara. Mereka cenderung tutup mulut rapat-rapat. CEO XL Axiata Dian Siswarini, misalnya. Dian cuma mau berkomentar soal persaingan yg begitu ketat di industri telekomunikasi dan enggan menanggapi polemik yg ada ketika ini.Terkait tudingan monopoli, Telkomsel blak-blakan memaparkan data terkait hal itu. Menurutnya, tak benar seandainya operator yg berdiri sejak tahun 1995 memiliki pangsa pasar di luar Pulau Jawa lebih dari 50 persen. Mereka mengklaim pangsa pasarnya tidak sebanyak yg dituduhkan Indosat Ooredoo. Bahkan menurut mereka, penguasaan pangsa pasar ketika ini yaitu usaha yg dirintisnya melalui perjuangan jatuh bangun ketika awal berdiri.”Jadi kalau dianggap dominan, pada dasarnya di luar Pulau Jawa kita tidak dominan. Secara market share juga, Telkomsel tak sampai lebih dari 50 persen, mungkin mendekati. Kalau pada akhirnya kita melaju lebih cepat, itu butuh perjuangan panjang. Dominasi Telkomsel bukan keinginan kalian tetapi ini memang perjuangan kita. Ada daerah yg tidak ada penghuninya pun kalian bangun, ujar Direktur Utama Telkomsel, Ririek Adriansyah.Alhasil, Badan Regulasi Telekomunikasi Indonesia (BRTI) dan Komisi Pengawas Persaingan Usaha (KPPU), turun tangan memanggil kedua operator selular itu. Mereka ingin mendengarkan segera pokok masalah yg terjadi. Seperti tidak ingin menyia-nyiakan kesempatan, Indosat Ooredoo membawa segepok bukti terkait sepak terjang Telkomsel di luar Pulau Jawa.Berdasarkan data yg didapatkan Merdeka.com dari hasil presentasi dengan BRTI, ada dua poin yg membuat Indosat Ooredoo gerah terhadap sepak terjang Telkomsel di luar Pulau Jawa.Selain dianggap melakukan monopoli, Telkomsel juga dituding provokatif menayangkan video iklan yg dianggap tidak etis ketika operator tersebut berulang tahun ke 21. Dalam tayangan video iklan itu, tergambar seandainya Telkomsel menyebut nama segala operator beserta ciri khas warna mereka. Menjadi provokatif disebabkan adanya ilustrasi orang yg sedang melakukan lomba lari dengan warna yg menjadi ciri khas masing-masing operator. Ilustrasi orang dengan warna merah yg berlari digambarkan sebagai Telkomsel di urutan pertama, jauh meninggalkan pesaingnya seperti Indosat Ooredoo, XL Axiata, Tri, Axis, dan Smartfren.Tak cuma itu, bukti yang lain yg dipaparkan Indosat Ooredoo, seperti di wilayah Gorontalo/Bone/Wajo dan dua kabupaten di Sulawesi, Telkomsel dituding pernah melakukan intimidasi ke outlet. Outlet tak boleh memajang perdana Indosat Ooredoo. Jika mereka berani memajang, maka chip Mkios yg dimilikinya mulai diblokir. Bahkan, dalam file presentasi itu, Indosat Ooredoo menyebutkan adanya peran Direksi Telkomsel bagi memerahkan segala outlet yg berada di wilayah Sulawesi.Kami percaya bahwa BRTI mulai memberikan keputusan yg objective sesuai regulasi yg ada, ujar Group Head Corporate Communication Indosat Ooredoo, Deva Rachman.Tudingan seandainya manajemen Telkomsel ikut berperan, ditampik habis-habisan oleh bos Telkomsel. Kata Ririek, tidak sedikit pun pihak manajemen pernah menginstruksikan kepada bawahannya bagi melakukan kegiatan yg melanggar aturan berbisnis.Foto-foto yg beredar, dari kalian (Manajemen red) tak ada instruksi melakukan seperti itu. Kita dalam melakukan bisnis tetap berpegang teguh pada aturan yg ada, ujarnya.Namun, bukannya semakin adem pasca pemanggilan oleh kedua instansi pemerintah itu, ini justru semakin memanas kembali.Colak-colek regulasiRibut-ribut Indosat Ooredoo dengan Telkomsel ini pun semakin melebar hingga masuk ke ranah revisi Peraturan Pemerintah (PP) nomor 52 dan 53 tahun 2000 yg di dalamnya mengatur soal network sharing dan biaya interkoneksi. Pemerintah memang tengah mengkaji kembali bagi melakukan revisi pada PP tersebut.Kebetulan, Indosat Ooredoo dan XL Axiata, mendukung dan menunggu revisi PP itu agar langsung ditandatangani Presiden RI, Joko Widodo. Mereka beralasan, seandainya disahkan PP itu, maka industri telekomunikasi bakal semakin efisien. Hal itu juga seperti yg diharapkan oleh Menkominfo. Maklum, tahun lalu, industri Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK) termasuk juga telekomunikasi, yaitu industri nomor beberapa setelah Migas sebagai penyumbang defisit transaksi perdagangan.Sejatinya, kedua operator tersebut sudah menjalin kolaborasi network sharing berbasis Multi Operator Radio Access Network (MORAN). Kolaborasi itu ingin mereka tingkatkan hingga menjadi Multi Operator Core Network (MOCN). MOCN ini sederhananya memungkinkan terjadinya penggunaan frekuensi secara bersama. Selain itu juga, dengan penggunaan metode MOCN, mulai lebih menciptakan efisiensi investasi sebesar 40 persen. Namun, buat memuluskan rencana itu, mereka terganjal dengan aturan network sharing.Di sisi lain, Telkomsel kurang setuju seandainya network sharing dijadikan sebagai mandatory. Operator yg identik dengan warna merah ini, lebih setuju seandainya network sharing dikerjakan sebagai business to business (B2B). Jika aturan tersebut diketok palu, maka dikhawatirkan operator selular mulai malas membangun jaringan mereka di luar Pulau Jawa.Kekhawatiran Telkomsel, tentu tak yang lain lantaran mereka sudah membangun 116 ribu base transceiver station (BTS) yg diklaim sudah melayani 95 persen populasi penduduk Indonesia, termasuk juga di daerah terpencil dan pulau terluar serta daerah perbatasan negara. Sementara, Indosat Ooredoo memiliki 53 ribu BTS dan XL Axiata 59 ribu BTS di segala pelosok tanah air.Nah, lamanya revisi PP tersebut diketok palu, kemudian timbul kabar seandainya Telkomsel hendak menjegal aturan itu.Sekarang mereka (Telkomsel Red) fight interkoneksi. Terus fight mau gagalin netco, ujar CEO Indosat Ooredoo, Alexander Rusli.Menariknya, tudingan bos Indosat Ooredoo seandainya Telkomsel hendak menjegal aturan itu, malah membuat bingung mereka. Pasalnya, dikatakan Ririek, justru pihaknya lah yg tidak tahu menahu soal hal itu. Ajakan dari pemerintah mendiskusikan terkait revisi PP tersebut tidak pernah diterima oleh mereka. Bahkan, mengenai adanya revisi PP yg konon telah berada di meja Presiden RI Jokowi, diketahuinya dari pemberitaan media.”Kami tak merasa dilibatkan dalam masalah revisi aturan itu. Kami juga baru tahu dari media massa,” jelasnya.Negeri ini pun semakin nampak lucu, manakala pemerintah dalam hal ini Menteri Komunikasi dan Informatika (Menkominfo), Rudiantara, malah tidak tahu menahu soal tak dilibatkannya Telkomsel dalam pembahasan isi dari naskah revisi PP tersebut. Dia berdalih, karena bersifat PP maka hal itu dikerjakan antar Kementerian. Artinya, PP tersebut bukan berada pada komando Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kemkominfo).Seingat aku PP itu, antar Kementerian yg di lead bukan oleh Kemkominfo. Kalau Peraturan Menteri (PM), baru di lead oleh Kemkominfo. Kalau PP aku gak ikut meeting bahas PP itu. Itu di bahas biasanya antar Kementerian karena levelnya pemerintah ya. Yang mempublikasikan buat konsultasi publik dari pemerintah, ujar Menkominfo.Menurutnya, pada dasarnya ada beberapa poin besar mengapa perlu dilakukannya revisi PP tersebut, yakni berkaitan dengan penyelenggaraan dan frekuensi. Dan salah satunya adalah buat menegaskan agar tak ada lagi persepsi yg berbeda tentang penggunaan frekuensi seperti masalah Indosat IM2.Dirinya pun enggan lebih jauh mengomentari perang dingin antara Indosat Ooredoo dengan Telkomsel. Bahkan, dirinya cenderung belum memiliki sikap bagi menengahi perselisihan kedua operator selular tersebut.Berantem kenapa? Coba tanyakan saja sama mereka, katanya.Jika pemerintah belum memiliki sikap, lantas sampai kapan perselisihan ini berakhir?
Sumber: http://www.merdeka.com/teknologi/polemik-dua-operator-selular-kapan-akan-selesai.html
Terima kasih sudah membaca berita Polemik dua operator selular, kapan akan selesai?. Silahkan baca berita lain tentang Iptek lainnya.

Tags:

Leave a reply "Polemik Dua Operator Selular, Kapan Akan Selesai?"

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.