Mendesain ‘makhluk Antik’ Khas Silicon Valley

No comment 106 views

Berikut artikel Mendesain ‘makhluk antik’ khas Silicon Valley, Semoga bermanfaat

Dia masih muda, kira-kira umur 20 tahunan. Namun, passion di bidang coding kelihatan berapi-api. Namanya Arival Sentosa. Anak muda yang berasal Bandung ini baru saja ditasbihkan sebagai lima orang peserta terbaik decoding academy dalam program pendidikan Lenovo. Hampir setahun dia digembleng di kawah candradimuka Decoding. Dia mengakui setelah mengikuti program ini, banyak pengetahuan yg didapatkanya. Maklum, Decoding ini menyediakan kurikulum yg disesuaikan dengan perkembangan industri. Alhasil, dia pun kini milik startup.

“Beda banget antara kuliah dengan yg ada di sini,” ujarnya.CEO Dicoding Indonesia, Narendra Wicaksono membenarkan pernyataan dari anak didiknya itu. Kurikulum yg diterapkan bukanlah sembarang. Model perusahaan teknologi raksasa di dijadikan acuan dalam pembentukan kurikulum. Google, Microsoft, dan nama-nama besar perusahaan teknologi top dunia lainnya yg berbasis di Silicon Valley, Amerika Serikat. Semuanya itu dikemas dengan penyampaian materi memakai bahasa Indonesia.”Agar gampang dipahami juga nantinya,” katanya.Bukti dari keampuhan kurikulumnya ini merupakan adanya 1.000 lebih alumni yg sudah bekerja di berbagai perusahaan teknologi atau membangun perusahaan rintisan digital sendiri. Maka rasanya tidak salah seandainya Lenovo mengajak kerja sama bagi memberikan beasiswa melalui program pendidikan tersebut.”Kami memang berkomitmen bagi menolong mengembangkan industri digital lokal yg kuat,” ucap Country Lead Smarphone Division, Mobile Business Group, Lenovo Indonesia, Adrie R. Suhadi.Bila menilik lebih luas, Indonesia memang membutuhkan banyak developer canggih yg dapat mengikuti perkembangan zaman. Jika tidak, sampai kapan Indonesia mulai menjadi tuan rumah di negeri sendiri.”Saya kasih gambaran aja, di Australia itu negara hanya ada 25 juta orang, codernya itu ada sekitar 50 ribu. Di kami dengan jumlah penduduk 250 juta orang, masih sedikit sekali. Padahal, hampir seluruh startup kalian pasti butuh developer. Ini kayak makhluk antik aja,” paparnya.Apalagi dengan besarnya market Indonesia, menjadikan ladang basah yg semestinya mampu digarap oleh anak bangsa sendiri. Saat Narendra bertemu dengan banyak para developer luar negeri, pertanyaan yg tidak jarang dilontarkan oleh mereka adalah: Bagaimana aku mampu masuk ke pasar Indonesia? Hal itu tentu saja membuatnya merasa seandainya sumber daya manusia negeri perlu bagi dipoles agar kelak bisa bersaing.Menurutnya, ada tiga faktor yg membuat negeri ini kering developer. Pertama kualitas pendidikan yg masih kurang, kedua adalah kesetaraan dalam konteks pemerataan internet, dan ketiga persebaran industri yg seharusnya lebih luas lagi tak cuma berada di kota-kota besar saja.”Dengan market yg sebesar itu, siapa kelak yg nantinya mulai menjadi tuan rumah di negeri sendiri,” jelasnya.Baca juga:
Himpunan GKNI perkenalkan buatkontrak.com buat wirausaha UKM
Grab milik algoritma khusus dukung kebijakan ganjil genap
Startup ini menjual hasil ikan laut melalui digital
Go-Box ekspansi ke enam kota baru di Indonesia
Dua startup binaan Indigo jadi finalis Program Startup Australia

Sumber: http://www.merdeka.com/teknologi/mendesain-makhluk-antik-khas-silicon-valley.html
Terima kasih sudah membaca berita Mendesain ‘makhluk antik’ khas Silicon Valley. Silahkan baca berita lain tentang Iptek lainnya.

Tags:

Leave a reply "Mendesain ‘makhluk Antik’ Khas Silicon Valley"

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.