Kontribusi Bisnis E-commerce Indonesia Dan Problem Laten UKM

No comment 135 views

Berikut artikel Kontribusi bisnis e-commerce Indonesia dan problem laten UKM, Semoga bermanfaat

Dari sekian banyak tren bisnis digital di Indonesia, sektor dagang online atau e-commerce menjadi yg paling hot. Buktinya, sektor ini masih selalu dimasuki pemain baru dan mulai selalu bertambah di masa mendatang.Contohnya, pada Senin (30/5) lalu, raksasa ritel modern di Indonesia, Alfa Group yg terkenal dengan jaringan ritel modern Alfamart dan Alfamidi, mengubah bisnis onlinenya dengan mengubah brand Alfaonline.com menjadi Alfacart.com.Dengan memperluas segmen produk dan pasarnya, Alfacart.com kini bersaing dengan pelaku e-commerce yang lain yg lebih dahulu eksis, jenis Mataharimall.com, Bhinneka.com, Blibli.com, Bukalapak.com, Tokopedia.com, Elevenia, Lazada, dan lain-lain.Kehadiran secara serius Alfacart.com ini membuktikan bahwa e-commerce masih menjadi sektor bisnis digital paling populer di Indonesia. Meski banyak juga sektor yang lain yg berkenbang seperti financial technology (fintech), ride sharing, dan lain-lain.Sektor e-commerce bahkan menjadi wajah dari potensi bisnis digital di tanah air. Patut dimaklumi, dari sekian sektor usaha yg memanfaatkan teknologi digital, e-commerce adalah yg paling gampang dipahami.Bahkan secara tak langsung, banyak orang telah melakukannya, ketika akses internet Indonesia masih jauh dari akses 4G-LTE. Sehingga user experience-nya tinggi dn lebih gampang dipahami. Secara kultur, dagang sangat jamak dikerjakan dan dipraktekkan oleh nenek moyang kalian di wilayah pesisir.Maka dari itu, e-commerce menjadi gampang populer di tanah air. Aplikasi mobile-nya di sistem operasi iOS dan Android Play Store masuk dalam kelompok aplikasi yg paling banyak diunduh oleh pengguna smartphone di Indonesia.Sekadar sebut saja, di Google Play Store, per 31 Mei lalu, Lazada sudah diunduh sebanyak 10 juta, OLX juga 10 juta, Tokopedia 5 juta, dan Bukalapak 5 juta. Sementara Blibli baru 1 juta unduh, Elevenia 1 juta, dan Bhinneka baru 100 ribu. Sementara Mataharimall.com sudah diunduh 1 juta kali, padahal terbilang pemain baru karena baru komersial pada September 2015.Euforia dan popularitas bisnis e-commerce ini makin kentara, ketika dihelat event Indonesia E-Commerce Summit & Expo (IESE) 2016 di ICE BSD City, Tangerang Selatan, akhir April lalu. Inilah pesta pertama orang e-commerce di republik ini dan terbilang sukses. Apalagi dibuka oleh Presiden Joko Widodo. Pesta ini bisa mengumpulkan 600 peserta summit, 1.350 peserta workshop, dan 150 eksibitor.Oleh karena itu, tidak salah bila sektor e-commerce menjadi wajah dari kampanye pemerintah soal ekonomi digital Indonesia. Harapannya e-commerce menjadi enabler yg melahirkan dan menggerakkan segala potensi ekonomi digital di tanah air. Lewat kue manis e-commerce, pemerintah mendorong lahirnya technopreneur, targetnya 1.000 technopreneur pada 2020.Itu pertama. Yang kedua, potensi bisnis e-commerce di Indonesia sangat besar. Jika tak dapat dikatakan luar biasa besar. Lihat saja, penetrasi e-commerce kalian baru 1 persen terhadap total transaksi ritel nasional. Artinya, dari 10 produk yg dibeli orang Indonesia, baru sesuatu produk yg dibeli lewat internet. Penetrasi sesuatu persen saja setara USD 30 miliar atau Rp 394 triliun di tahun ini.Otomatis ada peluang 99 persen di masa depan. Tak heran bila pemerintah selalu mendorong industri ini, antara yang lain dengan pembuatan road map e-commerce Indonesia di tahun ini. Goalnya adalah nilai transaski e-commerce nasional tumbuh menjadi USD 130 miliar di 2020. Meski masih kalah jauh dari negara lain, seperti Tiongkok, Inggris, Amerika Serikat, India, dan lain-lain.Tapi dengan potensi populasi yg mencapai 260 juta jiwa, pengguna internet yg selalu tumbuh, 180 juta prediksi tahun ini, serta penetrasi smartphone yg selalu tumbuh double digit, sesuatu keniscayaan e-commerce Indonesia mulai masuk dalam kelompok dunia.”Dengan dukungan segala kementerian dan pemangku kepentingan, pemerintah percaya target-target itu dapat dicapai. Ini kerja panjang yg memang membutuhkan daya tahan kalian semua,” kata Menteri Rudiantara ketika menghadiri event IESE 2016.Emirsyah Satar, Chairman Mataharimall.com kepada Merdeka.com pernah menyampaikan potensi bisnis ini di Indonesia sangat besar, sebagai negara berpopulasi keempat terbesar di dunia.Berdasar data dimiliki Emir, pada 2014 Indonesia mencatat penjualan ritel online di bawah 1 persen terhadap total ritel nasional. Namun pada 2015 persentasenya naik menjadi 3,4 persen. Secara nilai, juga naik dari USD 1 miliar menjadi USD 1,7 miliar. Di kawasan ASEAN, secara persentase, penetrasi belanja online di Singapura tertinggi, tetapi nilainya cuma USD 1 miliar. Sedangkan Thailand sebesar 3,8 persen dengan nilai USD 1,4 miliar dan Malaysia sekitar USD 500 juta.Secara global, penetrasi belanja ritel online di Amerika Serikat tercatat 14 persen dengan nilai USD 270 miliar, Inggris mencapai 25 persen senilai USD 71 miliar, China sebesar 14 persen dengan nilai USD 293 miliar, dan India baru 8,2 persen dengan nilai USD 16 miliar.”Jadi di Asia Tenggara, Indonesia telah yg terbesar di belanja ritel online. Sekarang tantangannya bagaimana meningkatkan perdagangan online ini ke depan,” ujar Emirsyah.Ilustrasi e-commerce dan UKM 2016 Merdeka.comTantangan OnlineYa, di tengah populer dan massif bisnis e-commerce Indonesia, tantangannya adalah bagaimana memperbesar nilai bisnis ke depan.Dari sisi jumlah pengguna, tentu bukan masalah, karena Indonesia negara No 4 terbesar di dunia. Sepanjang menawarkan akses belanja lebih gampang dan harga lebih murah, pengguna e-commerce di Indonesia mulai semakin membludak. Ingat, kalian milik modal 260 juta jiwa, dengan usia anak muda atau generasi milenial lebih dari 30 persen.Namun, ada kekhawatiran, percuma e-commerce Indonesia besar jika, ternyata, ya ternyata, barang yg banyak dibelanjakan itu adalah barang impor. Artinya, benefit e-commerce dinikmati oleh produk luar negeri, lantas di mana nilai tambahnya untuk republik ini?Kekhawatiran ini disampaikan oleh Andy Syarif, founder SITTI & Nurbaya Institute. Untuk itu, dia mendorong semua pelaku e-commerce Indonesia menolong meng-online-kan usaha kecil dan menengah (UKM) di Indonesia. Ada 57 juta UKM Indonesia yg sebagian besar belum memanfaatkan akses internet.Padahal telah terbukti UKM inilah penopang ekonomi nasional bangsa ini, dengan kontribusi lebih dari 50 persen terhadap produk domestik bruto (PDB) Indonesia. Jumlah pekerja di sektor UKM juga luar biasa besar, 12 juta tenaga kerja yg berkontribusi 5,8 persen terhadap perolehan devisa negara. (data BPS 2014)”Saat krisis moneter 1998, terbukti UKM menjadi penyelamat ekonomi nasional,” ujar Andy.Karena itu, memberdayakan UKM dengan internet dan mendorong mereka masuk dalam ekosistem e-commerce, memiliki dampak luar biasa. Tidak saja untuk industri e-commerce, tetapi buat ekonomi digital Indonesia dan bangsa ini.”Jika 55 juta UKM bisa diberdayakan dengan e-commerce, maka dampaknya mulai sebesar 2 persen dari PDB Indonesia atau sekitar 570 triliun. Sungguh nilai yg fantastis. Ini juga menjadi jawaban buat meningkatkan penetrasi belanja online di Indonedia,” kata Andy, dua waktu lalu.Nah, kini tinggal pelaku e-commerce, apakah mereka mempunyai agenda bagi memberdayakan UKM Indonesia dengan internet. Raksasa e-commerce dari kelompok usaha besar Indonesia, jenis Mataharimall.com punya Lippo Group, Blibli.com (Djarum Group), dan Bukalapak.com (Emtek Group), harus memiliki agenda jelas soal pemberdayaan UKM ini di market place-nya masing-masing. Inilah peran strategis mereka selain menangkap peluang bisnis e-commerce di masa mendatang.Sekadar contoh, Mataharimall.com yg bercita-cita menjadi e-commerce nomor sesuatu di Indonesia tentu mempunyai kontribusi strategis di sini. Bayangkan seandainya Mataharimall bisa meng-online-kan 500 ribu hingga sesuatu juta UKM setahun. Maka dari lima e-commerce besar saja, agenda 57 juta UKM di Indonesia mampu langsung online cuma dalam tempo kurang dari sesuatu dekade.Pelaku e-commerce besar harus menjadi solusi dari seluruh permasalahan laten UKM di Indonesia. Misalnya dalam hal branding, marketing, keuangan, hingga kualitas produk/layanan.Seperti diketahui bersama, UKM Indonesia masih sangat lemah dalam hal-hal tersebut. Buktinya, kontribusi UKM terhadap neraca ekspor Indonesia masih rendah, sekitar 15 persen. Sementara di Thailand misalnya, kontribusi UKM nya telah mencapai 40 persen terhadap ekspornya (data Kadin bidang UKM).Dengan meng-online-kan 57 juta UKM di Indonesia, bukan saja nilai transaksi e-commerce Indonesia yg meroket menjadi USD 130 miliar di 2020, seperti target pemerintah. Tapi juga memberdayakan pemegang saham terbesar perekonomian bangsa ini. Maka, menjadi pantas, e-commerce menjadi wajah cantik potensi ekonomi digital Indonesia di masa mendatang. Semoga mampu dilakukan.Baca juga:
Menkominfo: Go online, image Pasar Tanah Abang jangan sampai berubah
Pasar Tanah Abang kini milik e-commerce resmi
Belanja di Alfacart.com mampu nikmati fasilitas O2O
Alfaonline resmi bertranformasi menjadi Alfacart.com
Alfacart.com incar posisi tiga besar e-commerce Indonesia di 2020

Sumber: http://www.merdeka.com/teknologi/kontribusi-bisnis-e-commerce-indonesia-dan-problem-laten-ukm.html
Terima kasih sudah membaca berita Kontribusi bisnis e-commerce Indonesia dan problem laten UKM. Silahkan baca berita lain tentang Iptek lainnya.

Tags:

Leave a reply "Kontribusi Bisnis E-commerce Indonesia Dan Problem Laten UKM"

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.