Ingin Menjadi Solusi Bagi Segmen UKM Dan Startup Di Indonesia

No comment 118 views

Berikut artikel Ingin menjadi solusi bagi segmen UKM dan startup di Indonesia, Semoga bermanfaat

Teknologi menawarkan banyak pilihan buat individu dan dunia usaha. Berkat teknologi, inovasi mampu terjadi seperti inovasi open source atau sumber terbuka jenis Linux. Inovasi teknologi seperti software open source kini semakin banyak digunakan, terutama di kalangan dunia usaha. Kini solusi software open source ini semakin diadopsi dan dipercaya sebagai solusi oleh kalangan korporasi.Nah, seiring tingginya adopsi terhadap solusi software open source di Indonesia, bisnis solusi software open source terutama buat korporasi dan usaha kecil menengah (UKM) juga meningkat. Salah sesuatu penyedia solusi software open source ini adalah Red Hat Inc, yg memiliki kantor perwakilan di Indonesia sejak beberapa tahun lalu.Semakin dipercayanya solusi software open source ini secara global cukup tergambar dari kenaikan bisnis Red Hat Inc di dunia. Pada periode Februari 2015-Februari 2016, pendapatan usahanya tumbuh 15 persen menjadi USD 2,05 miliar, dengan laba bersih USD 199 juta. Lembaga riset global, Gartner Inc, memberikan nilai Positif kepada Red Hat Inc dalam rating vendor IT terkemuka dunia pada tahun dahulu dengan pangsa pasar 67 persen bagi vendor open source.Untuk mengetahui perkembangan Red Hat di Indonesia, Syakur Usman dari Merdeka.com mewawancarai Rully Moulany (39), Country Managing Director Red Hat Indonesia, yg juga penggemar kopi, di kantornya, minggu lalu. Berikut petikannya:Bagaimana perkembangan terkini bisnis Red Hat Indonesia?Kebetulan 1 Juni adalah kuartal baru untuk kami, karena tahun fiskal Red Hat dimulai 1 Maret hingga 31 Mei. Jadi kalian baru saja tutup kuartal I. Nah, di kuartal I 2016, hasilnya menggembirakan. Sekali lagi kita tumbuh dibandingkan dari tahun dulu dan kuartal tahun lalu, dengan pertumbuhan sangat signifikan, double digit. Secara skala di kawasan Asia Tenggara (ASEAN), pertumbuhan Red Hat Indonesia termasuk paling tinggi. Bisa dikatakan, Red Hat Indonesia masuk papan atas di ASEAN. Ini seluruh berkat kerja keras tim, sehingga awareness open source selalu meningkat. Dunia teknologi keterangan (TI) semakin tumbuh dan berubah, tiada pilihan bagi konsumen korporasi buat memakai open source.Apa saja pendorong pertumbuhan bisnis yg signifikan itu?Pendorong utamanya, secara umum diwakili sesuatu kata, destruksi. Destruksi ini menyebabkan banyak industri dan perusahaan di Indonesia dan global terancam model bisnisnya. Ketika terancam, maka yg dikerjakan perusahaan adalah pertama coba melakukan inovasi, kedua menekan biaya. Saat ingin menekan biaya, solusi yg dicari adalah solusi yg lebih efisien dari biaya. Saya tak bilang murah. Kemudian bicara inovasi, mereka harus akan melirik perusahaan-perusahaan yg melakukan destruksi, software apa yg mereka pakai dan apa yg dilakukan.Red Hat dengan solusi software open source menjawab dua-duanya. Efisiensi menjadi lebih efisien. Sementara inovasi, telah tidak jarang dibahas, segala perusahaan di dunia yg melakukan destruksi, seperti Uber, Grab, Alibaba, Netflix, Airbnb, segala memakai open source software bagi berinovasi, supaya lebih lincah dan fleksibel, tanpa harus membawa cost structure dari vendor-vendor terkenal seperti selama ini.Bisa dikatakan segala ingin melakukan transformasi digital. Semua korporasi melakukan itu bagi mengejar startup tersebut. Hanya kalian yg milik kredibilitas dan solusi karena open source ini. Kami dapat memberi solusi buat korporasi yg ingin melakukan transformasi digital. Bahkan pada periode Maret-Mei 2016, ada sesuatu bank terkemuka di Indonesia, telah setuju bekerja sama dengan Red Hat. Mereka ingin melakukan beberapa hal, yakni digital banking dan branchless banking. Mereka bilang tak ada pilihan dan Red Hat adalah mitra yg tepat.Hampir ketika bersamaan, secara global, BBVA dan RBS, mengumumkan kerja sama dengan Red Hat buat inovasi banking. Persis seperti yg dikerjakan bank lokal tadi, tetapi dengan skala lebih besar.Jadi saat bank dan jasa keuangan ingin melakukan transformasi digital, Red Hat lah yg paling pas, karena kalian milik track record dan solusi software open source.Dengan perkembangan positif di Indonesia, apa tantangan terbesar Red Hat Indonesia?Tantangan terbesar kami, bukan apakah solusi kalian telah terbukti atau membawa value. Tantangannya, bagaimana melebarkan sayap, menjangkau konsumen-konsumen lebih banyak di Indonesia. Kami baru 2 tahun di Indonesia, sehingga awareness building Red Hat kurang dikenal dibandingkan vendor lain, seperti Microsoft. Untuk memastikan customer tahu apa itu Red Hat, bahwa Red Hat bukan sekadar Linux. Ini tantangan kami, market edukasi dan market awareness.Untuk melebarkan sayap Red Hat di Indonesia, strateginya ada tiga. Pertama, industri yg menjadi fokus, mesti ada orang yg mengurusi klien tersebut. Dengan fokus di industri jasa keuangan, public sektor, dan telekomunikasi, kalian harus milik orang yg kapabel buat setiap industri.Kedua, membangun kemitraan lokal, buat melakukan skill up Red Hat. Pada akhirnya, perusahaan Indonesia mulai lebih nyaman bekerja sama dengan perusahaan lokal. Ketiga, building awareness. Ini utama bagi meyakinkan pasar, seandainya bank global, seperti BBVA dan RBS telah berani memakai Red Hat, kenapa bank di Indonesia tidak.Benefit penting memakai software open source adalah efisiensi biaya?Jika bicara platform per platform, sulit dipukul rata, karena tergantung environment dan pola pemakaian. Tapi kalian ada studi global yg dikerjakan oleh Forrester, yakni 87 persen dari pengguna open source menyatakan janji yg mulai turunkan biaya itu terbukti. Jadi 9 dari 10 orang loh.Data yg sama bilang, chief information officer (CIO) di perusahaan menyatakan 72 persen dari bujet mereka digunakan cuma buat bujet operasional. Keeping the lights on, tanpa inovasi dan digital transformasi. Katakanlah setiap 10 dolar pengeluaran, 7 dolar bagi menjalankan business as usual. Bagaimana mampu berkompetisi dengan Paypal, Uber, Alibaba, dan lain-lain, seandainya uangnya dipakai buat operasional saja. Untuk itu, perusahaan di Indonesia mestinya telah pindah ke open source.Hanya saja pasar di Indonesia sangat terfragmentasi. Misalnya di industri keuangan bank, ada ratusan bank di Indonesia. Sehingga kalian tak mungkin meletakkan sesuatu orang bagi sesuatu bank.Segmen usaha kecil menengah dan startup di Indonesia sangat banyak. Apa strategi Anda menangkap peluang itu?Bagaimana Red Hat dapat menjadi solusi buat pasar yg besar itu. Strateginya adalah bagaimana kalian mampu bekerja sama dengan mitra lokal dengan menawarkan layanan cloud computing atau komputasi awan. Layanan cloud adalah demokratisasi akses infrastruktur teknologi. Berkat cloud, perusahaan beberapa orang karyawan dapat milik barang dan teknologi sekeren bank papan atas, karena cukup bayar sewa. Untuk itu, pada Februari, kita sudah menunjuk PT Indonesian Cloud sebagai mitra solusi Red Hat Indonesia. Secara jumlah, mitra lokal kalian banyak, ratusan jumlah.Tapi mitra lokal dengan level sertifikasi paling tinggi, ada lima, yakni PT TelkomSigma, PT Astra Graphia Information Technology (AGIT), PT Mitra Integrasi Informatika, PT IT Group Indonesia, dan PT Bajau. Kami bilang, mereka berlima adalah mitra bisnis yg paling mumpuni. Di luar itu, ada ratusan mitra yg lebih kecil. Dan sesuatu mitra cloud, yakni PT Indonesia Cloud, di luar mitra skala global Amazone AWS, Google Cloud, dan lain-lain.Produk apa yg menjadi fokus ketika ini dan sesuai dengan agenda transformasi digital dunia usaha?Produk kita sangat banyak. Tapi yg temanya sesuai dengan transformasi digital, karena lagi hot di Indonesia adalah produk yg terkait dengan pengembangan aplikasi yg lebih lincah. Kami bukan sekadar jualan teknologi, tetapi bagaimana mengubah mindset. Ini people process technology.Istilahnya dalam teknologi adalah waterfall atau continous development. Jadi bukan cuma orang dan kultur berubah, tetapi tools-nya harus memungkinkan melakukan ini.Tahun ini, kita fokus dengan produk Open Shift, yakni layanan platform as a service (PAAS). Open Shift ini membebaskan developer buat tak pusing dengan infrastruktur yg dibutuhkan ketika bikin aplikasi, seperti tak harus beli server dan lain-lain. Tidak lagi bicara infrastruktur, tetapi bicara platform. Ini sangat menolong developer, sehingga aplikasi dapat lebih cepat. Inilah yg sedang hot, dan mendukung digital transformation agenda kami.Layanan ini buat kalangan korporasi dan UKM dan telah terbukti di negara lain. Di Indonesia baru di-deploy tahun ini. Produk ini memang seindah janjinya.Berapa jumlah klien Red Hat Indonesia dan siapa saja mereka?Saya tak mampu sebutkan jumlahnya. Tapi dari name account, jumlahnya ratusan. Ada perusahaan bank besar di Indonesia, perusahaan transportasi darat ikonik di Indonesia, perusahaan telekomunikasi terbesar di Indonesia, dan pemerintah. (Pada sesuatu kesempatan, Rouli menyebutkan PT Telkomsel, Plaza Indonesia, dan Ditjen Pajak Kementerian Keuangan). Mereka segala telah memakai aplikasi-aplikasi yg kritikal, bukan main-main. Tinggal bagaimana mereka mengembangkan ke model software lainnya.Lantas, apa target bisnis Anda tahun ini?Target dari sisi bisnis, pertumbuhannya dobel di tahun ini dari tahun lalu. Tugas aku di Indonesia adalah meningkatkan fokus industri, kemitraan, dan awareness.Di industri telekomunikasi, bank, dan sektor publik, kalian menyediakan orang business development, kemitraan, marketing, delivery, solution architect, yg incharge. Di segmen UKM juga. Jadi lengkap dari sisi end user. Mengapa? Buat saya, tiga sektor itu yg paling potensial di Indonesia.Apa kontribusi Red Hat Indonesia untuk bangsa Indonesia yg sedang bertransformasi digital dengan target 1.000 startup baru di 2020 dan transaksi e-commerce naik menjadi USD 130 miliar?Ini berarti kami bicara kewirausahaan, maka yg utama idenya, bukan uangnya dan hal teknis lainnya. Nah, bagaimana mempercepat ide menjadi realisasi? istilah fail fast, fail often. Red Hat dapat mendukung itu. Tinggal persoalan kemauan dan kerja keras.Yang memungkinkan itu seluruh terjadi, hanya sesuatu yakni cloud. Sebab cloud itu mendemokratisasi akses. Orang dengan modal kecil sama dengan modal besar, yakni dapat memakai teknologi sama. Cuma perusahaan lokal masih banyak memakai cloud AWS Amazone atau Google Cloud. Startup menggunakan cloud asing, karena cloud lokal tak canggih dan gampang digunakan.Nah, bagaimana caranya, cloud yg dipakai yg lokal, kan telah ada PT Indonesia Cloud. Oleh karena itu kalian juga meningkatkan layanan cloud-nya supaya lebih sophisticated, bukan hanya sekadar mesin, tetapi segera platform, sehingga ide mampu dites secara cepat. Ini platform as a service.Red Hat Indonesia melakukan kemitraan lokal, supaya dapat naik kelas bagi lebih memudahkan layanan cloud lokal. Itu visi saya, target 1 tahun ke depan, bahwa cloud lokal dapat bicara platform as a service, sehingga startup dapat dengan gampang menggunakannya.Apa saja kebijakan utama Anda selama sesuatu tahun ini?Kemitraan lokal. Buat saya, kebijakan kemitraan lokal bukan saja utama buat bisnis, sehingga Red Hat naik, tetapi buat Indonesia bagi get back ke mitra-mitra lokal kami. Tujuannya simpel, supaya win for Red Hat, juga win for Indonesia. Kontribusi open source telah banyak digunakan dari sisi komunitas, sehingga penggunanya telah luas sekali baik berbayar maupun tak berbayar.Namun, dengan kalian membawa nama-nama Telkomsigma, dan lain-lain, membuat mereka lebih yakin bagi adopsi solusi open source. Jika adopsinya makin tinggi, kontribusi tentu lebih tinggi lagi, sehingga inovasi yg terjadi mampu lebih cepat. Tujuannya adalah aku ingin Red Hat Indonesia memiliki local flavour yg kental. Sebab kemitraan lokal dapat menolong Indonesia, bukan cuma Red Hat sendiri.Apa mimpi Anda sebagai orang nomor sesuatu di Red Hat Indonesia?Mimpi saya, lepas dari obyektif bisnis, aku ingin Red Hat di Indonesia, lebih Indonesia. Kontribusi Red Hat terhadap pengembangan teknologi di Indonesia mampu lebih besar lagi. Open source telah tepat buat itu, sebab dengan sendirinya produk kita banyak yg pakai.Sekarang bagaimana meningkatkan kontribusi orang Indonesia terhadap open source. Indonesia jangan cuma menjadi pengguna/konsumen. Saya harapkan konsumen itu berkontribusi balik ke open source.Seperti apa sih gaya kepemimpinan Anda?Gaya aku terbuka dan inklusif. Terbuka sama seluruh tim, pembuatan keputusan dan aktivitas. Contoh ketika rekrut karyawan baru, aku tanyakan ke segala orang yg mulai bekerja sama, meskipun bukan manajernya yg bersangkutan nanti.Kalender aku juga terbuka. Saya bikin policy, seluruh kalender aku diketahui, jadi orang tahu aku di mana dan melakukan apa. Semua karyawan juga. Ini menjadi keterangan publik. Keterbukaan dalam pembuatan keputusan, supaya tim member merasa menjadi bagian dari perusahaan.Sebelum bergabung di Red Hat sesuatu tahun lalu, Anda bekerja di Microsoft. Apa pembelajaran menarik dari sana?Perlu diketahui Microsoft telah provide produk Red hat di produk Microsoft Azure. Pembelajarannya, Microsoft atau segala perusahaan teknologi besar, tak ada pilihan kecuali melakukan embrace open source. Karena yg antik-antik, bagus-bagus, menarik, dan keren, asal-usulnya pasti berasal dari proyek open source. Kalau mereka ignore, mereka mulai kalah, seperti kata Mahatma Gandhi, “First, they ignore you, and then they laugh you, and then they fight you, and you win”. Open source mirip seperti itu.Kalau secara organisasi, apa menariknya?Uniknya, bekerja di perusahaan open source adalah keterbukaan dan pemberdayaaan kita terhadap sumber daya manusia. aku mendapat otonomi yg luas buat menetapkan dan menjalankan bisnis perusahaan mau dibawa ke mana. Tapi tetap ada good corporate governance, prosedur, dan proses. Kami bisa kepercayaan luar biasa, tetapi ketika yg sama aku dituntut accountable dan terprediksi. itu berbeda perusahaan sebelumnya, keterbukaan.Baca juga:
Amvesindo dorong regulasi Modal Ventura Indonesia lebih kompetitif
Ini manfaat Amvesindo untuk Startup Indonesia
Demi solusi pembayaran, startup ini gandeng Veritrans
VC besar tak diistimewakan di Amvesindo

Sumber: http://www.merdeka.com/teknologi/ingin-menjadi-solusi-bagi-segmen-ukm-dan-startup-di-indonesia-ceo-talk-rully-moulany.html
Terima kasih sudah membaca berita Ingin menjadi solusi bagi segmen UKM dan startup di Indonesia. Silahkan baca berita lain tentang Iptek lainnya.

Tags:

Leave a reply "Ingin Menjadi Solusi Bagi Segmen UKM Dan Startup Di Indonesia"

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.