Tontowi Ingin Lupakan Kisah Sedih Di London

No comment 104 views

Berikut artikel Tontowi Ingin Lupakan Kisah Sedih di London, Semoga bermanfaat

JAKARTA, Kompas.com – Tontowi Ahmad tidak mulai pernah mampu melupakan momen Olimpiade London 2012, ketika ia bersama Liliyana Natsir kehilangan segala impian indah.

Kala itu ia dan pasangannya, Liliyana Natsir, yaitu satu-satunya andalan Indonesia buat meneruskan tradisi medali emas di kancah olimpiade. Besarnya tekanan sebagai tulang punggung skuad Merah-Putih menjadi salah sesuatu hal yg membuat pasangan ini tidak mampu menjalankan tugasnya dengan baik. Dihentikan ole Xu Chen/Ma Jin (Tiongkok) di semifinal, Tontowi/Liliyana juga gagal menyumbang perunggu ketika dikalahkan Joachim Fischer Nielsen/Christinna Pedersen (Denmark).

“Saat itu kalian memang berandai-andai banget, terlalu menggebu-gebu mau bisa emas. Kami menjadi harapan satu-satunya, masuk semifinal sendirian. Karena terlalu berharap, ketika kalah di semifinal itu kalian segera down, padahal kalian milik tugas lagi di perebutan perunggu,” cerita Tontowi ketika bincang-bincang dengan Badmintonindonesia.org.

“Kami seharusnya fokus di sesuatu demi sesuatu pertandingan, dan kalau telah kalah di semifinal, kalian harus mampu fokus buat pertandingan selanjutnya. Tetapi kita malah tak dapat tampil baik di perebutan perunggu, padahal rekor kalian melawan Nielsen/Pedersen lumayan bagus,” tambah ayah dari Danish Arsenio Ahmad ini.

Tontowi mengaku sudah banyak belajar dari kesalahan di event empat tahun dahulu tersebut. Oleh karenanya, pemain kelahiran Banyumas, 18 Juli 1987 ini tidak mau terjebak di situasi yg sama.

Meskipun baru mengantongi sesuatu gelar di tahun ini lewat Malaysia Open Super Series Premier 2106, namun Tontowi/Liliyana masih menjadi pasangan ganda campuran terbaik negeri ini. Pasangan ramuan pelatih Richard Mainaky ini tidak cuma berjalan sendirian menuju Olimpiade Rio de Janeiro 2016, namun mereka didampingi Praveen Jordan/Debby Susanto, Juara All England 2016 yg bukan tidak mungkin mulai membuat kejutan.

Selain itu, Indonesia juga milik andalan di sektor yang lain seperti ganda putra yg diwakili oleh pasangan rangking beberapa dunia, Hendra Setiawan/Mohammad Ahsan. Selain itu, pasangan ganda putri Greysia Polii/Nitya Krishinda Maheswari juga berpeluang bagi meraih medali.

“Kondisi sekarang memang lebih baik, kami milik dua andalan, ini cukup berpengaruh juga. Saya merasa termotivasi, tak mau kalah sama yg lain, ingin yg terbaik,” jelas Tontowi.

“Persiapan tahun ini telah bagus, apalagi dengan adanya karantina di Kudus (Jawa Tengah), sangat menolong buat menyegarkan pikiran,” Tontowi mengungkapkan.

Jelang olimpiade Rio, Tontowi memang kelihatan lebih rileks dibanding olimpiade sebelumnya. Ia kadang berbagi cerita dengan Ahsan, keduanya memang dekat sejak sama-sama menjadi penghuni klub Djarum. Baik Tontowi maupun Ahsan menyandang target yg tidak dapat dibilang ringan.

“Saya dan Ahsan memang dekat dari waktu di klub dulu. Kami kadang sharing bareng seperti yg pernah Ahsan posting di Instagram. Waktu itu di Australia Open Super Series 2016, kalian kalah di babak awal, padahal lalu kita biasa pulang di akhir turnamen. Semoga di olimpiade kita mampu sama-sama berhasil,” tuturnya.

Meskipun tidak lagi muda, namun Tontowi mengaku di olimpiade kali ini, semangatnya masih tinggi buat merebut emas. Usia bukanlah penghalang baginya. “Harus dijaga mindset-nya, kalau mikirnya tua, fisik jadi mudah capek. Hidup ini penuh perjuangan, kalau kami mau sukses, kalian harus berusaha, tak boleh santai-santai. Di dalam diri saya, sebetulnya aku adalah pejuang keras, semoga aku dapat mewujudkan mimpi aku menjadi juara olimpiade,” ujar Tontowi

Sumber: http://olahraga.kompas.com/read/2016/08/04/00464901/tontowi.ingin.lupakan.kisah.sedih.di.london
Terima kasih sudah membaca berita Tontowi Ingin Lupakan Kisah Sedih di London. Silahkan baca berita lain tentang Olahraga lainnya.

Tags:

Leave a reply "Tontowi Ingin Lupakan Kisah Sedih Di London"

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.