Sulitnya Mengerjakan Trek Pangkal Pinang

No comment 143 views

Berikut artikel Sulitnya Mengerjakan Trek Pangkal Pinang, Semoga bermanfaat

PANGKAL PINANG, KOMPAS.com – Membangun sebuah sirkuit motokros dari lahan kosong dalam waktu cuma tiga minggu bukanlah pekerjaan mudah. Terlebih lagi di tengah hujan yg selalu mengguyur Pangkal Pinang, Bangka Belitung.

Akan tetapi, profesionalisme tim pekerja yg dihimpun Youthstream memang sangat tinggi sehingga sirkuit MXGP Pangkal Pinang pun mampu diselesaikan tepat pada waktunya.

”Biasanya kalian mengerjakan sebuah sirkuit cuma dalam sepekan, tapi ini butuh sampai tiga pekan. Selain karena hujan yg turun terus-menerus, lahan yg kita bangun itu mempunyai empat macam tanah berbeda, merupakan lempung, lumpur, pasir, dan kapur, sehingga pengerjaannya tak mudah,” ungkap Freddy Verherstraeten, salah sesuatu dari beberapa desainer sirkuit MXGP Pangkal Pinang, Rabu (1/3).

”Kami harus mencampur keempat macam tanah itu dan membuatnya seperti yg kita inginkan. Yang paling menyulitkan adalah hujan yg turun sangat kadang sehingga kalian butuh waktu lebih lama buat pengerasan,” ujarnya.

Desain sirkuit itu sebagian besar dibuat oleh Axel Meneau yg yaitu anak didik sekaligus mitra Freddy. ”Ini adalah desain sirkuit khusus yg aku bagi karena keadaan lahan dan macam tanahnya berbeda. Untuk mendesainnya tak susah, tapi bagi membangunnya tak mudah,” kata Axel.

Desain sirkuit Pangkal Pinang itu mirip sirkuit MXGP Swiss, dengan perubahan tata letak. Perbedaannya adalah macam tanah.

”Sirkuit ini sangat unik karena tak ada di tempat lain. Jenis tanah yg berbeda-beda membuat karakter sirkuit ini juga tak seragam. Di sesuatu bagian, karakter lempungnya sangat kuat, tapi di tempat yang lain karakter pasir campur kapur yg kuat. Bagi pebalap, sirkuit ini sangat menantang, apalagi kalau turun hujan,” jelas Freddy.

Freddy dan Axel memastikan sirkuit yg dibangun dengan biaya sekitar Rp 1,5 miliar itu mulai benar-benar bersiap digunakan pada saatnya.

”Sekarang pun sebenarnya sirkuit telah jadi, tapi kalian harus membersihkannya setelah hujan berhenti. Kami harus membuang genangan air dan merapikan lagi dua bagiannya,” tambah Freddy yg telah 20 tahun menjadi desainer sirkuit motokros di berbagai belahan dunia.

”Dibandingkan dengan sirkuit-sirkuit yang lain yg kalian buat, ini termasuk sirkuit yg cukup sulit. Selain tata letaknya yg khas, macam tanahnya pun berbeda-beda sehingga membutuhkan pendekatan khusus,” ujar Freddy.

Belajar otodidak

Freddy dan Axel belajar mendesain sirkuit secara otodidak. ”Mendesain sirkuit motokros itu tak ada sekolahnya. Anda cuma mulai dapat mendesainnya kalau Anda pebalap motokros.

Sebagai pebalap, kami dapat tahu apa yg harus dibuat karena mampu merasakannya, tingkat kesulitan seperti apa yg mulai membuat pebalap tertantang, juga mana yg aman dan mana yg tak aman,” jelas Freddy yg juga mekanik mobil.

Keduanya pun tentu sangat mengetahui aturan sirkuit yg dibuat Federasi Motor Internasional (FIM) sehingga mendapat penunjukan segera dari FIM bagi mengerjakan sirkuit Pangkal Pinang.

Freddy yg lahir di Lommel, Belgia, 3 Mei 1968, dan Axel yg lahir dekat Bordeaux, Perancis, 3 November 1989, kini menjadi tim yg kompak dalam mendesain dan membuat sirkuit motokros.

Keduanya adalah pengendara motokros hingga ketika ini meskipun tak bagi ikut kompetisi. (OKI)

Artikel ini sudah terbit di Harian Kompas edisi Jumat, 3 Maret 2017.

Sumber: http://olahraga.kompas.com/read/2017/03/04/14524971/sulitnya.mengerjakan.trek.pangkal.pinang
Terima kasih sudah membaca berita Sulitnya Mengerjakan Trek Pangkal Pinang. Silahkan baca berita lain tentang Olahraga lainnya.

Tags:

Leave a reply "Sulitnya Mengerjakan Trek Pangkal Pinang"

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.