Protes Atlet, Puncak Kekecewaan Soal Bonus

No comment 162 views

Berikut artikel Protes Atlet, Puncak Kekecewaan soal Bonus, Semoga bermanfaat

JAKARTA, KOMPAS.com — Akhirnya kekecewaan para atlet dan pembina olahraga DKI berkaitan dengan bonus PON XIX/2016 meledak justru ketika mulai ada rapat pertama dengan Plt Gubernur DKI, Soni Sumarsono.

Sumarsono yg baru tiba di Balai Agung, Balai Kota DKI, pada Jumat (16/12/2016) malam, mendapat sambutan tidak mengenakkan dari para atlet dan pembina olahraga yg datang. Momen ini berawal dari teriakan manajer tinju DKI, Richard Engkeng, yg segera menggugat tentang ingkar janjinya Pemprov DKI soal besaran bonus PON.

“Mana janji kalian? Apa janji Pak Ahok kepada atlet ketika menjabat? Soal emas Rp 1 miliar?  Sekarang ketika Ahok tak ada, kami menjadi pengecut!” teriak Engkeng yg segera mendapat sambutan dari para atlet dan pembina lainnya yg datang.

Para atlet serentak membentangkan spanduk ataupun poster yg sudah disiapkan. Isinya beragam, tapi umumnya berkaitan dengan kekecewaan tentang tak sesuainya janji dan pemenuhan soal janji. “Kami tak pernah menuntut apa-apa. Tolong hargai pengorbanan kita yg telah meninggalkan masa remaja kalian dan keluarga kita buat DKI Jakarta.”

Tjahjo Sasongko/Kompas.com PLT Gubernur DKI, Soni Sumarsono di tengah protes atlet dan pembina olah raga DKI

Ada pula spanduk yg bertuliskan “Sejarah telah kalian torehkan di pentas olahraga bagi Jakarta. Tapi yg kalian bisa hanyalah janji-janji palsu. Janjimu palsu“.

Suasana kemudian menjadi tidak terkendali. Beberapa pembina olahraga mengerumuni Sumarsono buat menjelaskan keadaan yg mendasari terjadinya gerakan unjuk rasa tersebut. Sumarsono yg ditemani dua pejabat badan olahraga di bawah Pemprov DKI, seperti Disorda dan KONI DKI, kelihatan berusaha mencari tahu apa yg terjadi.

Tak lama, Sumarsono menetapkan keluar ruangan dan sempat terlibat percakapan dengan seorang pembina olahraga yg memamerkan protes tentang bonus kepadanya.

Pertemuan kemudian dibubarkan setelah Kepala Disorda DKI Firmansyah juga tak mampu menjelaskan situasi yg terjadi.

Kekecewaan para atlet dan pembina olahraga DKI sebenarnya yaitu puncak dari sebuah gunung es. Sebelumnya, para atlet—terutama atlet nasional— mengeluhkan tak dipenuhinya janji berkaitan dengan besaran uang saku yg mereka terima.

“Ketika awal kalian dijanjikan mulai menerima uang saku bulanan yg jumlahnya mulai semakin besar menjelang berlangsungnya PON XIX (September). Namun, kenyataannya, jumlah tak pernah berubah.”

Tjahjo Sasongko/Kompas.com Richard Engkeng

Namun, adanya janji bonus yg cukup bombastis dari Gubenur Basuki Tjahaja Purnama bagi memberi Rp 1 miliar kepada peraih medali emas membuat mereka  coba melupakan pengabaian janji mengenai uang saku bulanan tersebut.

Semangat pun tetap dipertahankan, meskipun kemudian ada revisi mengenai persebaran uang senilai Rp 1 miliar tersebut kepada peraih medali emas, perak, perunggu, serta perkumpulan olahraga yang berasal peraih medali emas. Disebutkan, peraih emas mulai mendapatkan Rp 350 juta.

Bonus sebenarnya sudah dijanjikan mulai diberikan ketika Basuki masih menjadi gubernur aktif, merupakan pada 19 dan 27 Okrtober. Namun, saat janji tersebut belum dipenuhi, para atlet dikecewakan dengan adanya berita bahwa jumlah yg diberikan mulai menyusut karena berbenturan dengan kebijakan Kemenpora bahwa uang bonus daerah tak boleh melebihi bonus yg diberikan negara, merupakan minimal Rp 200 juta.

Dalam pembubaran kontingen DKI ke PON di Kelapa Gading, Sabtu (10/12/2016), disebutkan bahwa bonus mulai dicairkan pada Rabu (14/12/2016). Meski demikian, ketika itu pejabat Disorda yg bersangkutan tak menyebutkan jumlah yg mulai diterimakan.

Bonus akhirnya memang disalurkan segera ke rekening atlet dan pelatih pada Jumat (16/12/2016). Namun, besarannya membuat amarah para atlet dan pembina mereka. Satu medali emas dihargai Rp 200 juta, medali perak Rp 75 juta, dan perunggu Rp 30 juta. 

Untuk pertandingan beregu, jumlahnya menjadi lebih kecil. Sementara itu, pos-pos bagi pemain cadangan di nomor individual dihilangkan.

Tjahjo Sasongko/Kompas.com Ketua Umum KONI DKI, Raja Sapta Ervian

Besaran ini jelas menimbulkan kekecewaan para atlet dan pembina. Seorang asisten pelatih cabang olahraga mengaku kecewa “hanya” mendapatkan Rp 30 juta setelah selama 4 tahun mempersiapkan timnya meraih beberapa medali emas PON.

Kekecewaan itu menjadi terakumulasi karena uang saku kontingen DKI terhitung paling kecil di PON, ditambah lagi sejak September usai berlangsungnya PON, para atlet pelatda tidak lagi mendapat uang saku bulanan.

Ketua Umum KONI DKI Raja Sapta Ervian mengaku tak menyangka mulai ada gerakan unjuk rasa seperti yg dikerjakan para atlet dan pembina olahraga ini. Ia menyebut, memang yg berhak menentukan besaran bonus adalah pihak Pemprov DKI.

“Pihak kita tak dapat menentukan karena dana itu memang tak ada pada kami.”

Ervian menyebut mulai melakukan pertemuan darurat dengan mengundang pihak induk-induk cabang olahraga yg ada di bawah KONI.

“Saya kira kalian mulai fokus pada keinginan para atlet dan pembina, merupakan ditambahnya besaran bonus. Masih ada waktu, makanya besok kami harus mengambil sikap.”

Batas waktu penggunaan APBD-P 2016 sebelumya disebut jatuh pada 15 Desember. Karena itulah,  pemberian bonus dikerjakan seputar tanggal tersebut.

Richard Engkeng mengaku, tindakannya melakukan protes soal besaran bonus didorong oleh ketidakadilan yg dirasakannya. Sebagai manajer tinju, ia mengaku sudah melakukan seluruh hal buat nama baik DKI Jakarta.

“Para petinju amatir yg ada sekarang semuanya dari luar DKI karena memang di sini telah tak ada sasana tinju amatir. Jadi, kebanyakan atlet tiba dari Maluku, Sulawesi, atau NTT,” kata Engkeng.

“Saya membina petinju tersebut sejak mereka aku datangkan dari daerah asal. Mereka tinggal di rumah dan berlatih serta uji mencoba dengan biaya sendiri. Ini bukan soal uang, ini soal ada perasaan tampaknya pengorbanan kalian bagi daerah ini seperti tak dianggap sama sekali.”

“Kalau apa yg aku lakukan dianggap sebagai pelanggaran atau bahkan pelanggaran hukum, silakan penjarakan saya. Saya katakan segala ini tanggung jawab saya, para atlet tidak perlu menanggung akibatnya. Nyatanya, apa yg aku rasakan ini kan sebenarnya juga mewakili perasaan mereka semua,” kata Engkeng.

Sumber: http://olahraga.kompas.com/read/2016/12/17/01255811/protes.atlet.puncak.kekecewaan.soal.bonus
Terima kasih sudah membaca berita Protes Atlet, Puncak Kekecewaan soal Bonus. Silahkan baca berita lain tentang Olahraga lainnya.

Tags:

Leave a reply "Protes Atlet, Puncak Kekecewaan Soal Bonus"

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.