Pelatnas Kudus Dibuat Mirip Perkampungan Olimpiade

No comment 88 views

Berikut artikel Pelatnas Kudus Dibuat Mirip Perkampungan Olimpiade, Semoga bermanfaat

KUDUS, Kompas.com – Tim bulutangkis yg mulai berlaga di olimpiade Rio de Janeiro 2016 siang ini (11/7) datang di Kudus, Jawa Tengah, buat menjalani program karantina selama lima hari kedepan.

Training camp di Kudus bertujuan buat memantapkan persiapan atlet jelang pesta olahraga terbesar di dunia tersebut. Ini adalah program karantina pertama, setelahnya, tim bulutangkis juga mulai menjalani program karantina di Sao Paulo, Brasil, akan 28 Juli 2016.

“Pada program karantina ini, kalian mulai melakukan simulasi selama di olimpiade nanti. Jadi suasananya dibuat seperti di olimpiade, dimana atlet mulai tinggal di athlete village dan mereka harus menyesuaikan diri dengan jadwal selama di sana,” ujar Rexy Mainaky, Manajer Tim bulutangkis di Olimpiade Rio de Janeiro 2016.

“Setiap sektor telah menentukan jadwal dan program selama karantina. Selain latihan fisik dan teknik, mereka juga mulai ada sesi diskusi bersama psikolog olahraga, analisa video pertandingan, dan berbagai program lainnya,” tutur Rexy yg juga menjabat sebagai Kepala Bidang Pembinaan dan Prestasi PP PBSI.

Dituturkan Rexy, ia berharap para atlet bisa menjaga konsentrasi dan fokus di program karantina, apalagi olimpiade semakin dekat. Oleh karenanya, dipilihlah kota Kudus sebagai tempat karantina yg lokasinya jauh dari Jakarta. Selain itu, fasilitas lapangan bulutangkis dan wisma Djarum Foundation yg digunakan selama karantina, dinilai sangat memadai.

Sebanyak sembilan atlet pelatnas yg lolos ke olimpiade, menginap di Wisma Ploso, mereka adalah Linda Wenifanetri (tunggal putri), Hendra Setiawan/Mohammad Ahsan (ganda putra), Greysia Polii/Nitya Krishinda Maheswari (ganda putri), Tontowi Ahmad/Liliyana Natsir dan Praveen Jordan/Debby Susanto (ganda campuran).

Empat pelatih mulai mendampingi para atlet di wisma yg disimulasikan seperti athlete village di olimpiade merupakan Bambang Supriyanto (tunggal putri), Herry Iman Pierngadi (ganda putra), Eng Hian (ganda putri) dan Richard Mainaky (ganda campuran).

Sementara tim sparring dan tim support tinggal di Wisma Kaliputu, berbeda dengan tim inti. Suasana ini benar-benar mirip seperti di olimpiade, di mana tim ofisial tak bisa mendampingi atlet hingga kedalam athlete village. Sehingga atlet dilatih buat mengatur jadwal terapi bersama fisioterapis sampai mempersiapkan perlengkapan latihan atau bertanding.

PBSI mulai memberangkatkan sejumlah pemain sparring bagi mendampingi tm olimpiade selama menjalani program karantina di Sao Paulo, di antaranya Vega Vio Nirwanda (tunggal putra), Ricky Karanda Suwardi, Wahyu Nayaka Arya Pankaryanira, Hardianto, Moh. Reza Pahlevi Isfahani (ganda putra), serta Ronald Alexander/Melati Daeva Octavianti (ganda campuran).

Sumber: http://olahraga.kompas.com/read/2016/07/11/22350811/pelatnas.kudus.dibuat.mirip.perkampungan.olimpiade
Terima kasih sudah membaca berita Pelatnas Kudus Dibuat Mirip Perkampungan Olimpiade. Silahkan baca berita lain tentang Olahraga lainnya.

Tags:

Leave a reply "Pelatnas Kudus Dibuat Mirip Perkampungan Olimpiade"