Mental Bertanding, “PR” Besar Regenerasi Bulu Tangkis Indonesia Usai Olimpiade

Berikut artikel Mental Bertanding, “PR” Besar Regenerasi Bulu Tangkis Indonesia Usai Olimpiade, Semoga bermanfaat


KOMPAS.com
–Digadang-gadang dapat menyumbang medali emas ganda putra bulu tangkis buat Indonesia di Olimpiade Rio 2016, Mohammad Ahsan/Hendra Setiawan malah kandas di fase penyisihan grup.

Padahal, kualitas dan peringkat dunia pasangan ini di atas lawan-lawannya. Ada apa?

Penampilan Ahsan/Hendra di Olimpiade Rio 2016 jauh dari performa terbaik. Banyak shuttlecock pukulan mereka keluar lapangan atau menyangkut di net. Bahkan, mereka tidak jarang salah melakukan servis.

Ya, selama tampil di pagelaran pesta olahraga empat tahunan itu, wajah Ahsan/Hendra kelihatan tegang. Ganda putra terbaik Indonesia itu pun tidak jarang melakukan kesalahan sendiri.

Bergabung di grup D bersama tiga ganda putra dari negara lain, Ahsan/Hendra sebenarnya diunggulkan buat lolos ke fase berikutnya. Mereka bahkan menjadi unggulan kedua bagi menggondol emas.

Namun, kenyataan berkata lain. Dari tiga laga, Ahsan/Hendra cuma menang sesuatu kali, yg itu pun melawan pasangan terlemah di grup D, Manu Attri/Sumeeth (India).

Dalam beberapa laga lain, mereka takluk dari Hiroyuki Endo/Kenichi Hayakawa (Jepang) dan Chai Biao/Hong Wei (China). Alhasil, mereka cuma bertengger di peringkat tiga grup.

Hasil itu otomatis menghentikan langkah Ahsan/Hendra di Olimpiade Rio 2016. Hanya peringkat sesuatu dan beberapa yg mampu melangkah ke babak berikutnya. Target emas pun serta-merta kandas.

“Hendra/Ahsan memang tampil under-performed. Ada rasa nervous, walaupun sebagai pemain senior seharusnya tak boleh nervous, “ beber Kepala Pelatih Ganda Putra Pengurus Besar Persatuan Bulu Tangkis Seluruh Indonesia (PB PBSI), Herry Iman Pierngadi, seperti dikutip Kompas.com, Sabtu (13/8/2016).

Tampil di olimpiade memang berbeda dengan kejuaraan lain. Selain bertanding membawa nama negara, pemain juga ketambahan beban target medali.

Pasangan ganda campuran Indonesia Tontowi Ahmad/Liliyana Natsir yg meraih emas di Olimpiade Rio 2016 pun mengakui ada ketegangan yg lebih besar ketika berlaga di ajang ini.

PIPIT PUSPITA RINI/KOMPAS.COM Liliyana Natsir dan Tontowi Ahmad berpose dengan medali emas yg diraihnya di Olimpiade Rio 2016, Rabu (17/8/2016).

“Ketegangannya tak dapat diungkapkan. Bahkan sebelum berangkat ke olimpiade saja telah tegang,” ucap Owi, panggilan Tontowi, seperti dikutip Kompas.com, Rabu (24/8/2016).

Legenda hidup bulu tangkis Indonesia, Susy Susanti, juga tidak menampik hal ini. Menurut dia, tampil di olimpiade bukanlah masalah mudah, buat atlet sarat pengalaman sekalipun.

“Situasi di olimpiade itu menyangkut nama bangsa sehingga membuat atlet tegang. Semua mata dunia juga tertuju ke sana,” papar peraih emas tunggal putri di Olimpiade Barcelona 1992 ini, ketika dihubungi Kompas.com, Jumat (12/8/2016).

Lalu, lanjut Susy, segala atlet yg tampil di olimpiade juga ingin menjadi juara buat mendapat pengakuan dunia.

Keinginan itu di sesuatu sisi menjadi motivasi, ujar dia, tapi di sisi yang lain juga tidak mengurangi berat beban pemain. Karenanya, ketegangan ketika tampil pun otomatis meningkat.

Khusus bagi Olimpiade Rio 2016, Susy berpendapat ada tambahan faktor persaingan yg semakin ketat. Alhasil, setiap laga berlangsung sulit.

(Baca: Tak Berprestasi, Bulu Tangkis Tunggal Putri Indonesia Mati Suri?)

“Jadi siapa yg ketika itu lebih bersiap dan dapat mengatasi situasi di lapangan yg mulai memenangkan pertandingan,“ ucap Susy.

Soal mental

Untuk mampu keluar dari tekanan ketika pertandingan besar, apalagi olimpiade, seorang pebulu tangkis harus tetap tampil tenang. Pemain yg dapat seperti itu biasanya milik mental bertanding kuat.

“Bahkan, 90 persen kemenangan dalam pertandingan bulu tangkis ditentukan oleh faktor mental seorang atlet,” papar mantan atlet bulu tangkis nasional era 1980-an, Lius Pongoh, merujuk Kompas.com, Jumat (16/11/2012).

Namun, melatih mental bertanding atlet bukanlah masalah mudah. Butuh proses panjang dan berkesinambungan agar pemain mampu milik mental juara.

Salah sesuatu cara yg dapat dikerjakan adalah membiasakan pemain mengikuti berbagai kompetisi sejak dini. Pemahaman tersebut yg kemudian mendorong Susy dan suaminya, Alan Budikusuma, menggelar turnamen tahunan, yg pada tahun ini yaitu kali ke-12.

Pada 2016, turnamen tersebut menggandeng pabrikan otomotif Daihatsu, merupakan Daihatsu Astec Cup 2016. Adapun Astec adalah merek peralatan dan perlengkapan olahraga yg didirikan Susy dan Alan, kependekan dari Alan-Susy Technology.

Stanly/Otomania Daihatsu ASTEC

Lewat turnamen ini para pebulu tangkis junior diharapkan milik lebih banyak kesempatan melatih mental bertanding. Anak-anak dan pemula menjadi beberapa dari lima kategori yg dipertandingkan di turnamen tersebut.

Pertandingan digelar di tujuh kota di Indonesia dengan lima kategori peserta. Tiga kategori yang lain bagi peserta adalah remaja, taruna, dan veteran. Targetnya, 4.000 pemain bermain.

“Kami dan Daihatsu milik kesamaan visi dan misi, merupakan melakukan pembinaan dan pengembangan anak-anak muda bagi mampu berprestasi di tingkat nasional dan internasional,” ujar Susy.

Empat kota sudah merampungkan turnamen, merupakan Medan, Makassar, Surabaya, dan Solo, sementara Semarang sedang berlangsung dari 7-10 September 2016.

Adapun beberapa kota yang lain langsung menyusul, merupakan Palembang pada 14-17 September 2016, dan Jakarta pada 9-15 Oktober 2016.

“Melalui penyelenggaraan turnamen bulu tangkis Daihatsu Astec Open 2016, kita ingin mendukung perkembangan bulu tangkis di Indonesia,” tutur Direktur Marketing PT Astra Daihatsu Motor (ADM) Amelia Tjandra, seperti dikutip Kompas.com, Selasa (19/4/2016).

Daihatsu, kata Amelia, berharap turnamen ini mampu melahirkan atlet muda bulu tangkis yg bisa berkiprah di ajang bulu tangkis nasional maupun internasional.

Akankah pekerjaan rumah (PR) buat mengasah mental bertanding pemain langsung mendapatkan jawaban? Semoga….

Sumber: http://olahraga.kompas.com/read/2016/09/09/19070021/mental.bertanding.pr.besar.regenerasi.bulu.tangkis.indonesia.usai.olimpiade
Terima kasih sudah membaca berita Mental Bertanding, “PR” Besar Regenerasi Bulu Tangkis Indonesia Usai Olimpiade. Silahkan baca berita lain tentang Olahraga lainnya.

Tags:

Leave a reply "Mental Bertanding, “PR” Besar Regenerasi Bulu Tangkis Indonesia Usai Olimpiade"

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.