Mempertahankan Tradisi Baik Dengan Kerja Keras

No comment 95 views

Berikut artikel Mempertahankan Tradisi Baik dengan Kerja Keras, Semoga bermanfaat

JAKARTA, Kompas.com – Bangsa ini memiliki tradisi melahirkan budaya yg baik, namun tak memiliki tradisi buat mempertahankannya.

Lihat saja  kasus  perebutan hasil budaya antara bangsa ini dan Malaysia. Sejak keris, batik, reog sampai lagu “Rasa Sayange.” Selama bergenerasi kalian merasa nyaman dan menganggap semuanya lahir dan tumbuh di halaman rumah kalian sendiri.

Karena itulah kami kaget dan hampir tidak memiliki mekanisme bertahan ketika Malaysia mengklaim segala hal itu  tumbuh dari komunitas Melayu semenanjung. Bukan cuma mengklaim, mereka bahkan mendaftarkan hak paten atau warisan untuk hasil-hasil budaya tersebut.

Kita memang tidak jarang terlambat menyadari keindahan yg kami miliki. Bahkan tidak mau berjuang buat mempertahankannya. Begitu pun terjadi di dunia olah raga kita. Ketika sepakbola kalian masih di deretan atas bangsa-bangsa Asia, kami memliki banyak turnamen berskala internasional seperti Djakarta Anniversary Cup, Marah Halim Cup atau yg belakangan seperti Piala Kemerdekaan.  

Namun bersamaan dengan merosotnya prestasi timnas di tingkat internasional, turnamen-turnamen tersebut semakin kehilangan bobot dan gengsi sehingga sesuatu persatu harus gulung tikar. Negara-negara Asia  yg prestasi sepakbolanya menjadi jauh lebih maju seperti Korea Selatan dan Jepang  tak merasa perlu lagi bagi tiba ke negara yg prestasi sepakbolanya tidak juga bergerak  dari prestasi 1970-1980-an.

Kondisi serupa dihadapi di olah raga tinju amatir. Pernah memiliki petinju-petinju amatir yg ditakuti di Asia seperti jaman Johny Bolang, Wim Gommies, Ferry Moniaga, Frans VB hingga Syamsul Anwar, Indonesia pernah memiliki President’s Cup, ajang yg masuk dalam agenda AIBA. Pada kejuaraan tinju tahunan ini pernah tampil nama-nama besar seperti Tommy Hearns yg ketika masih berstatus amatir.

Namun kembali lagi, seiring merosotnya prestasi tinju amatir, event tahunan seperti President’s Cup meredup buat kemudian menghilang.

Contoh terakhir dialami olahraga tenis. Antara 1970-an hingga 1990-an siapa mampu menandingi Indonesia? Di bagian putera  Indonesia merajai Asian Games atas nama Atet Wiyono, Justedjo Tarik hingga angkatan Wailan Walalangi dan Suharyadi. Sementara di bagian puteri, nama Yayuk Basuki -kemudian sempat diikuti Angelique Widjaja-  menciptakan legacy sendiri di dunia tenis. Mewakili negara, Yayuk dua kali meraih medali emas SEA Games dan bahkan Asian Games 1986, 1990 dan 1998. Sementara sebagai petenis pro, Yayuk pernah menemapti peringkat 20 dunia.

Pada masa itu pun, turnamen tenis banyak diselenggarakan di Indonesia. Sejak tingkat satellite hingga turnamen Wismilak International yg berlangsung di Surabaya dan kemudian di Bali. Sempat berubah nama menjadi Commonwealth International, turnamen ini diikuti para petenis puteri peringkat 10 besar dunia seperti  Ana Ivanovic, Svetlana Kuznetsova dll. Namun turnamen ini kini pun tinggal kenangan.

Namun seiring dengan merosotnya prestasi tingkat regional dan internasional, tenis Indonesia seperti kehilangan pamor. Puncaknya adalah ketika Pengurus Pusat Persatuan Tenis Lapangan Seluruh Indonesia (PP Pelti) menolak alih fungsi lapangan tenis yg berada di Komplek Olah Raga Gelora Bung Karno, Senayan, Jakarta dalam rencana renovasi kawasan tersebut bagi Asian Games 2018.

Alih fungsi lapangan tenis di Senayan menjadi lapangan Bisbol ini ditolak karena  dianggap menghilangkan nilai historis karena lapangan tenis ini pernah menjadi saksi kejayaan dunia tenis Indonesia.

badmintonindonesia Jonatan Christie

Bulu Tangkis Sebagai Warisan Terakhir

Sekarang ini tidak bisa dipungkiri bulu tangkis menjadi satu-satunya  warisan kejayaan olah raga Indonesia yg tidak lekang oleh waktu. Bukan cuma perhatian  para penggemar,  prestasi para pemain yg tetap berada di persaingan puncak dunia, tapi juga perhatian pengurus serta kalangan bisnis yg masih yakin dengan daya tarik bulu tangkis.

Salah sesuatu yg memperlihatkan hal tesrebut tentunya adalah penyelenggaraan Indonesia Open atau yg tahun ini tampil dengan nama BCA Indonesia Open Superseries Premier 2016.  Berlangsung di  Istora Gelora Bung Karno, 30 Mei-5 Juni lalu, BIOSSP tahun ini menjadi tahun ketiga buat PT. Bank Central Asia (BCA) tbk. menjadi sponsor penting turnamen yg berlabel Superseries Premier ini bersama dan bersinergi dengan Djarum Foundation sebagai sponsor pendamping.

Dengan label Super Series Premier dan  total hadiah yg mencapai 900.000 dolar AS,  turnamen ini jelas menjadi incaran para bounty hunter, para pebulu tangkis profesional dari negara-negara Asia dan Eropa. Sementara bagi Indonesia sendiri, keberadaan turnamen sekelas Super Series Premier ini sekaligus mengukuhkan posisi Indonesia sebagai negara  penudukung bulu tangkis penting dan kosisten.

Berlangsung sejak 1982 dan resmi menjadi turnamen setingkat Super Series pada 2007, turnamen ini sekaligus  sebagai  tali pengikat eksistensi bulu tangkis Indonesia dengan para penggemarnya.  Di Istora  Gelora Bung Karno, para penggemar bulu tangkis mampu melilhat  muncul dan hilangnya para bintang kami seperti Taufik Hidayat, Simon Santoso, Hayom Rumbaka.

Namun di BCA Indonesia Open Superseries Premier 2016 ini, para penonton Istora berkesempatan juga melihat munculnya para pemain muda usia yg sepertinya mulai menjadi perhatian penting dalam waktu satu-dua tahun ini. Penampilan tiga pemain tunggal putera Anthony Sinisuka Ginting, Jonatan Christie dan Ihsan Maulana Mustofa bisa menjadi daya tarik penonton saat para senior mereka seperti Hendra Setiawan/Mohammad Ahsan, Tontowi Ahmad/Liliyana Natsir sudah tumbang di babak awal.

Dari ketiganya, memang cuma Ihsan yg lolos ke semi final sebelum tumbang di tangan Lee Chong wei yg kemudian menjadi juara.  Namun penampilan ketiganya, ditambah  nama-nama pemain muda lainnya seperti Fitriani, Gregoria Mariska, Kevin Sanjaya Sukamuljo/Marcus Fernaldi  Gideon dan nama-nama pemain muda lainnya membuat  keyakinan bahwa pemain berbakat sepertinya tidak mulai pernah habis di tanah ini.

Para pemain muda ini seperti ingin memamerkan bahwa etos kerja keras seperti yg diperlihatkan para poendahulu mereka yg kini menjadi pembina dan pelatih juga mereka miliki. Mereka cuma butuh kesempatan, kepercayaan dan dukungan.

Keberadaan Jonatan, Ihsan, Anthony, Kevin dan lainnya  seperti menjadi jaminan bahwa bulu tangkis Indonesia masih mulai menjadi perhatian penting penggemar olah raga di Indonesia. Tampaknya butuh puluhan tahun lagi, kalau pun pada akhirnya bulu tangkis  kehilangan calon bintang dan kemudian dilupakan orang.

Sumber: http://olahraga.kompas.com/read/2016/06/09/22020381/.mempertahankan.tradisi.baik.dengan.kerja.keras
Terima kasih sudah membaca berita Mempertahankan Tradisi Baik dengan Kerja Keras. Silahkan baca berita lain tentang Olahraga lainnya.

Tags:

Leave a reply "Mempertahankan Tradisi Baik Dengan Kerja Keras"

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.