Memahami Sorotan Media Untuk Tim Ibu Kota, Sebuah Otokritik

Berikut artikel Memahami Sorotan Media untuk Tim Ibu Kota, Sebuah Otokritik, Semoga bermanfaat

Oleh: Jalu W. Wirajati

Seperti halnya El Clasico antara Barcelona dan Real Madrid, duel klasik di Indonesia antara Persib Bandung dan Persija Jakarta juga terus menyedot perhatian bahkan menyebabkan situasi panas, khususnya di lini masa media sosial.

Bumbu-bumbu pertandingan justru lebih marak menyangkut hal-hal di luar stadion. Suporter misalnya, antara Jakmania yg yaitu komunitas pendukung Persija dan kelompok bobotoh Persib, Viking.  

Kejadian panas terkait duel klasik itu kembali berulang pada TSC 2016 kali ini, tepatnya pada awal November 2016. Pertandingan antara Persija dan Persib di Stadion Manahan, Solo, tidaklah sepanas duel di lini masa media sosial.

Situasi makin panas saat terjadi bentrokan antara warga dan kelompok suporter di Tol Cipali sehingga menyebabkan dahulu lintas terganggu.

Dalam situasi tersebut, pihak kepolisian terus menunjuk suporter sebagai causa prima dari keributan yg terjadi. Padahal, dalam suasana seperti itu, bentrokan suporter dan warga itu tidak ubahnya menyebut mana yg lebih dahulu muncul antara ayam atau telur.

Dalam hal pemberitaan, sebuah tim yang berasal ibu kota beserta komunitasnya, memang kerap diperlakukan “tidak adil” dibandingkan klub-klub yang berasal daerah. Hal itu tidak lepas dari status ibu kota yg menjadi pusat perhatian seluruh hal, termasuk dari segi media.

Fenomena ini juga pernah aku singgung dalam blog pribadi aku pada awal 2010. Berikut adalah pandangan aku terkait ketidakadilan tim ibu kota yg diambil dari tulisan pribadi tersebut.    

Beda Jakarta dan Daerah

Senin siang, 24 Januari 2010. Dalam perjalanan dari Bandung ke Jakarta, aku membaca timeline di Twitter. Kemudian ada sebuah tweet yg menarik pandangan saya.

“Kalau ada berita “miring” tentang Persija kenapa cepet banget menyebar? Tadi malem stadion Siliwangi “hancur” boro2 diangkat Media!!” tulis Tika Harahap.

Saya pun membalas tweet dia dan menyampaikan seandainya salah sesuatu nilai lebih dari tim yang berasal pusat pemerintahan adalah pemberitaan media. Segala hal yg terjadi pasti mulai terus menjadi sorotan. Terutama hal-hal negatif. Sudah menjadi rahasia umum, seandainya berita yg kontroversial atau negatif terus menjadi daya tarik orang.

Saya pun teringat dengan tulisan Bambang Pamungkas pada blog pribadinya. Pada artikel berjudul “Please dong ah…” Bepe menulis, “Seperti tim-tim ibukota di belahan dunia yang lain Persija terus menjadi bahan yg menarik bagi dibahas, satu hal yg mungkin kecil seandainya terjadi di tim yang lain dapat menjadi hal yg sangat besar seandainya hal itu terjadi di Persija.”

Mengapa demikian? Lantaran berada di pusat pemerintahan, otomatis hampir segala kantor media nasional berpusat di kota tempat Persija berdiri, Jakarta!

Nah, telah mampu dipastikan juga, semua wartawan terbaik mulai berada di lokasi yg sama. Dengan demikian, usaha memberitakan mereka mulai lebih gampang lantaran secara peliputan lebih dekat dan dapat lebih banyak waktu yg digarap.

Ini tentu saja dengan situasi di daerah. Sebut saja ketika terjadi kericuhan penonton di Stadion Siliwangi. Jumlah media peliput tidaklah sama dengan yg ada di Jakarta.

Ambil contoh stasiun televisi. Di Jakarta, seorang reporter mulai dengan mudahnya mengambil gambar karena ditemani kamerawan dan pengemudi yg terus bersiap bagi mengejar berita.

Lain halnya dengan di daerah. Seorang kontributor, biasanya merangkap kamerawan, reporter, dan juga “pengemudi” untuk dirinya sendiri. Mereka pun tidak cuma fokus bagi membuat sesuatu berita dari sesuatu bidang. Seringkali pagi hari mereka membuat berita politik atau ekonomi, malam harinya baru olahraga.

Resistensi tim daerah

Melihat perbedaan SDM dalam melakukan peliputan, wajar kiranya apabila berita dari pusat pemerintahan mulai lebih banyak, beragam, bahkan milik durasi yg lebih lama dalam penayangannya di televisi.

Karenanya, Persija (dan juga Jakmania sebagai komunitas suporternya) mulai terus mendapatkan sorotan dari media-media. Dan kadang, prinsip “Bad news is a good news” pun dikedepankan.

Pendapat Bepe selanjutnya, masih di artikel yg sama, pun dapat dipahami. Bepe menulis, “Saya melihat media terus coba buat menggerogoti kekuatan Persija dengan membentuk opini publik yg negatif tentang Persija. Mereka melakukan itu karena memang sebenarnya mereka bukan pendukung Persija, mungkin memang betul mereka mencari nafkah di Jakarta mulai tapi sejatinya mereka adalah pendukung tim-tim daerah yang berasal mereka, sehingga dengan memecah belah Persija kekuatan Persija menjadi berkurang, mereka terus menonjolkan sisi negatif Persija daripada hal-hal yg positif.”

Situasi yg dialami Bepe dan Persija tentu berbeda dengan yg dialami, taruhlah Persipura Jayapura atau Persisam Samarinda. Dengan status sebagai putra daerah, para awak media di Jayapura atau Samarinda tentu mulai melakukan “pemujaan” kepada tim yg berasal dari daerahnya.

Seorang rekan media dari Bandung lantas menceritakan kejadian tidak mengenakkan yg dialaminya ketika di Samarinda. Ketika coba meliput partai antara tuan rumah melawan Persib.

“Bayangkan saja, kalian tidak diizinkan masuk. Padahal pada ketika technical meeting sehari sebelumnya, telah disepakati ada 10 wartawan Bandung yg diizinkan meliput. Nyatanya, pas pertandingan, kalian dilarang masuk,” jelas salah seorang wartawan senior itu.

“Kami akhirnya dapat masuk setelah Manajer Persib meminta kepada panitia pelaksana. Setelah masuk stadion, kita tidak mendapatkan kursi. Semua kursi di tribun telah ada namanya bagi media A atau media B yg semuanya adalah media lokal,” rutuknya lagi.

Sebuah otokritik

Kendati telah memakai azas praduga tidak bersalah, sulit rasanya seandainya tidak melihat kejadian yg dialami wartawan tersebut dari sisi teori konspirasi. Apakah perbuatan itu disengaja sehingga “orang luar” tak tahu kejadian yg terjadi di Stadion Palaran?

Untuk tim-tim di luar Jawa, hal tersebut dapat dilakukan. Pasalnya, sorotan media tentu mulai kurang. Lain itu, pertandingan kandang tim-tim (yang coba curang) itu pun tidak disiarkan secara langsung. Akan gampang untuk mereka melakukan semua hal bagi memenangkan timnya.

Pernah dengar juga dari cerita seorang rekan. Ketika wasit yg seharusnya tidak tinggal di hotel yg sama dengan pemain, justru diinapkan di rumah manajer tim tuan rumah.

Tindakan-tindakan itu tentunya tidak mungkin tim-tim yg berdomisili di kota besar di Pulau Jawa. Terutama Persija yg berada di pusat pemerintahan sekaligus pusat media.

Jangankan buat berbuat curang, melakukan sedikit kesalahan saja pasti mulai menjadi berita besar. Seperti yg ditulis Bepe pada blognya, “…menginap di hotel bagus saja tetap mendatangkan protes.”

Tulisan ini yaitu otokritik kepada aku sendiri sebagai pekerja media. Bagaimanapun, sebuah media memang dituntut buat bersikap netral dan mewartakan apa adanya, tidak menonjolkan sentimen pribadi atau kedaerahan.

Tabik.

Sumber: http://olahraga.kompas.com/read/2016/11/09/21223321/memahami.sorotan.media.untuk.tim.ibu.kota.sebuah.otokritik
Terima kasih sudah membaca berita Memahami Sorotan Media untuk Tim Ibu Kota, Sebuah Otokritik. Silahkan baca berita lain tentang Olahraga lainnya.

Tags:

Leave a reply "Memahami Sorotan Media Untuk Tim Ibu Kota, Sebuah Otokritik"

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.