Kejayaan Yang Direnggut Isu Doping

No comment 139 views

Berikut artikel Kejayaan yang Direnggut Isu Doping, Semoga bermanfaat

JAKARTA, KOMPAS.com – Kabar tersangkut perkara doping terasa seperti awan gelap yg tiba-tiba menutup masa depan 14 atlet PON dan Peparnas Jawa Barat 2016 yg namanya disebut. Mereka yg sebelumnya merasakan manisnya kejayaan meraih medali sontak terpuruk pasrah.

Safrin Sihombing, atlet cabang menembak Riau, merasa sangat terpukul atas pengumuman PB PON Jabar 2016 bahwa dirinya tersangkut masalah doping. Padahal, sepengetahuannya, dirinya tak pernah memakai zat atau obat yg dilarang, apalagi bagi tujuan meraih medali di PON Jabar 2016.

Ia cuma tahu, tiga hari sebelum berlomba dalam nomor andalannya, 25 meter center fire pistol, penyakit vertigonya kambuh. Dia berobat ke dokter di arena menembak PON 2016. Dokter memberikan beberapa macam obat, tapi sakitnya tidak kunjung reda.

Ia pun berkonsultasi dengan tim dokter dari Riau, yg kemudian mempersilakan dirinya berobat ke sebuah klinik di Cimahi, dekat tempatnya menginap.

Di situ ia mengingatkan agar dokter tak memberikan zat yg memiliki unsur doping. Resep obat dari klinik itu juga diserahkannya kepada dokter PON.

”Memang di luar itu aku meminum obat Bodrex. Menurut saya, Bodrex tak dilarang atau tak masuk kategori doping. Yang jelas, ketika itu aku memang sangat membutuhkan obat karena tanpa obat, aku tak bisa bertanding,” kata Safrin, Senin (9/1/2016).

Adyos Astan, atlet tenis meja yang berasal Maluku, juga mengaku kaget terhadap temuan doping dalam urinenya. Ia tidak menyangka obat flu Mesol 8 yg ia konsumsi sebelum tampil dalam Peparnas Jawa Barat 2016 itu mengandung zat doping.

”Saya tak tahu bahwa obat itu mengandung zat-zat tertentu yg ada dopingnya,” kata Adyos yg tengah berada di pemusatan latihan nasional di Solo, Jawa Tengah, bagi persiapan ASEAN Para Games di Malaysia tahun ini.

Atlet tenis meja ini tidak kuasa menahan pilu, membayangkan kerja kerasnya sejak 1993 buat meraih beberapa medali emas dan sesuatu perunggu di Peparnas lalu, harus dicabut karena tersangkut doping. Meski demikian, ia cuma mampu pasrah seandainya memang gelarnya dicabut dan harus menjalani sanksi.

”Kalau memang gelarnya mau dicopot, silakan saja. Tapi aku tak milik niat buat itu,” kata Adyos yg menyampaikan di kontingen Maluku memang tak ada dokter pendamping.

Keberadaan atlet yg mengaku tak mengetahui sudah mengonsumsi obat atau zat yg mengandung doping sejatinya cukup memprihatinkan.

Dokter timnas sepak bola Indonesia, Syarif Alwi, menekankan pentingnya sosialisasi dan edukasi mengenai zat-zat yg mengandung doping kepada atlet, pelatih, dan dokter cabang olahraga.

”Sejauh ini, sosialisasi dari Lembaga Anti Doping Indonesia masih minim sehingga dokter harus lebih aktif mencari keterangan sendiri,” ujarnya.

Sumber: http://olahraga.kompas.com/read/2017/01/10/16000051/kejayaan.yang.direnggut.isu.doping
Terima kasih sudah membaca berita Kejayaan yang Direnggut Isu Doping. Silahkan baca berita lain tentang Olahraga lainnya.

Tags:

Leave a reply "Kejayaan Yang Direnggut Isu Doping"

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.