Indonesia Tak Miliki Pola Rekrutmen Atlet Terpadu

No comment 93 views

Berikut artikel Indonesia Tak Miliki Pola Rekrutmen Atlet Terpadu, Semoga bermanfaat

KUTA, Kompas.com – Sekitar 100 peserta Lokakarya Pendidikan dan Iptek Olahraga di Hotel Grand Inna, Kuta, Bali, mendadak ditantang Dr. Greg Wilson PhD bagi menyebutkan nama-nama atlet Indonesia calon penerima medali Olimpiade Rio De Jenero, Brasil Agustus 2016.

Peserta yg sebagian besar kepala dinas olahraga segala Indonesia tercengang dua saat. Mereka cuma dapat menyebut-nyebut  nama Tommy Sugiarto buat cabang bulutangkis dan  Triyatno bagi cabang angkat besi. Selebihnya tidak ada.

Tidak ada yg menyebut nama ganda putera Hendra Setiawan/Muhammad Ahsan atau pun ganda campuran Liliyana Natsir/Tontowi Ahmad.  Menurut Greg Wilson, kenyataan ini memamerkan memang tak ada sistem pembinaan terpadu pada olah raga Indonesia.

Greg, pakar identifikasi bakat dan pengembangan bakat  bahkan menegaskan  tak ada sistem pengembangan dan identifikasi bakat dalam keolahragaan di Indonesia. Dia memaparkan fakta Indonesia adalah negara terbesar ke 4 dunia dengan populasi 250 juta orang dan produk domestik bruto (PDB)  1 triliun USD, masuk peringkat 15 besar perekonomian dunia.

Namun di bidang olahraga,  Indonesia adalah peringkat 63 Olimpiade London 2012, peringkat 17 Asian Games Incheon Korea, dan  posisi ke 5 di SEA Games di Singapura 2015. Oleh karenanya, Greg menyimpulkan bahwa sistem olahraga Indonesia memiliki kinerja sangat buruk. Dan salah sesuatu persoalan terbesarnya, kalian menghabiskan terlalu banyak waktu dan uang buat atlet tanpa bakat.

“Jika kalian ingin memenangkan  medali  di ajang internasional seperti Asian Games dan Olimpiade, maka kalian harus mencari atlet potensi alam dan  mengembangkan  mereka dalam program jangka panjang. Sistem pembibitan dengan test ilmu olahraga dasar  adalah cara mengindentifikasi anak-anak muda dengan potensi alam dulu dikembangkan dalam program pengembangan atlet jangka panjang (Long Term Athlete Development/LTAD),” ujar pria yang berasal Australia yg ketika ini menangani sistem tersebut buat pemerintah daerah (pemda) Jawa Timur dan Papua.

Meski terdengar ideal, apa yg dijelakan oleh Greg Wilson tersebut memang butuh waktu panjang buat diterapkan. Untuk persiapan SEA Games 2017 dan Asian Games 2018 setiap cabang  belum menyiapkan para atletnya secara sistematis dan terukur yg mampu dipertanggungjawabkan.

Di cabang renang mislanya, juga masih terbentur pada tak validnya ukuran yg digunakan buat menentukan seorang atlet layak atau tak masuk Pelatnas. Kerena itu kemudian muncul keruwetan dengan munculnya nama-nama atlet yg sebenarnya belum layak masuk Pelatnas.

Acara Loka Karya Pendidikan dan Iptek Olahraga yg digandengkan dengan Rakernas Badan Pembina Olahraga Pelajar Seluruh Indonesia (Bapopsi)  ini berlangsung 15  sampai 18 Juni 2018. Turut hadir sebagai narasumber Asisten Deputi Peningkatan Tenaga dan Organisasi Keolahragaan, Dra, Marheni Dyah Kusumawati, M. Pd, memaparkan kebijakan peningkatan tenaga dan organisasi keolaragaan. Kepala Biro Perencanaan dan Organisasi, Ramidin Saragih, SE., MM, mengatakan materi kebijakan dana dekonsentrasi pembibitan dan  Iptek olahraga tahun 2016/2017 dan Prof. Djoko Pekik Irianto M. Kes., AIFO, pengajar di Fakultas Ilmu Keolahragaan Universitas Negeri Yogyakarta memaparkan  urgensi pembibitan dan implementasi iptek dalam pembinaan prestasi olahraga.

Sumber: http://olahraga.kompas.com/read/2016/06/17/20211251/indonesia.tak.miliki.pola.rekrutmen.atlet.terpadu
Terima kasih sudah membaca berita Indonesia Tak Miliki Pola Rekrutmen Atlet Terpadu. Silahkan baca berita lain tentang Olahraga lainnya.

Tags:

Leave a reply "Indonesia Tak Miliki Pola Rekrutmen Atlet Terpadu"

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.