Ali, Ketenaran Dan Kedermawanan

No comment 138 views

Berikut artikel Ali, Ketenaran dan Kedermawanan, Semoga bermanfaat

Oleh: Wisnubrata

Muhammad Ali barangkali termasuk salah sesuatu orang paling terkenal di Bumi ini. Coba tanyakan pada orang yg Anda temui, apakah mereka tahu siapa Ali. Kebanyakan mulai mengenalnya sebagai juara tinju sejati.

Saking tenarnya, Ali sendiri pernah berkata, “Terjunkan saya dengan parasut ke jalanan di China, dan seluruh anak mulai mengenal siapa aku.”

Sejak awal karir tinjunya, Ali telah menyebut dirinya “The Greatest”, yg terhebat, dan orang tak menyangkalnya. Ia adalah pemegang sabuk juara dunia kelas berat tinju tiga kali.

Selain memenangkan 56 pertandingan dan cuma 5 kali kalah, Ali juga pernah mengalahkan nama-nama besar seperti Sonny Liston, George Foreman, dan Joe Frazier.

Dalam hal rekor dan pencapaian di atas ring, mereka yg dekat dengan tinju dapat saja berdebat soal siapa yg terhebat.

Ali sendiri terus menyebut Sugar Ray Robinson, yg cuma sekali kalah dari 131 pertandingan profesionalnya, sebagai yg terbesar.

Namun bila kalian bertanya soal siapa tokoh olahraga yg paling dikenal dalam sejarah, tidak ada sesuatu nama pun yg melampaui Ali.

Ali populer bukan saja karena kecepatan dan permainan tinjunya di atas ring, tetapi juga berkat gaya dan kepandaiannya berbicara. Ia piawai merangkai kata membentuk puisi bagi menantang lawan-lawannya.

Salah satunya yg terkenal adalah kalimat yg diucapkan menjelang pertandingan melawan George Foreman: “Float like a butterfly, sting like a bee, his (George) hands can’t hit what his eyes can’t see.”

Lalu ketika menghadapi Sonny Liston, Ali berujar, “”If you like to lose your money, be a fool and bet on Sonny.”

Bahkan kepada Joe Frazier dia menyebutnya si buruk muka, yg tak cocok jadi juara. “Frazier sangat buruk sehingga ia seharusnya mendonasikan wajahnya ke Badan Urusan Hewan Liar,” ujar Ali.

Walau begitu, kata-kata yg dilontarkan Ali terus mempunyai tujuan. Bisa jadi itu upaya membuat lawannya kalah mental, dapat juga sebagai promosi atas pertarungannya.

Soal ejekan terhadap Frazier misalnya, Ali kemudian memberi informasi setelah pertandingan. “Saya menyampaikan banyak hal (buruk) yg memang harus aku sampaikan ketika itu. Saya tak seharusnya menghina dia (Frazier). Saya minta maaf bagi itu. Itu seluruh sebenarnya bagi mempromosikan pertandingan ini.”

Ali juga mempunyai tujuan dalam setiap pertandingan tinjunya. Dalam sebuah wawancara, Ali berkata, “Aku terus memiliki tujuan setiap kali naik ring. Aku harus menjadi juara. Dengan menjadi juara saya lebih gampang memperjuangkan hak-hak kaumku dan menolong orang lain.”

Memperjuangkan kesetaraan

Ali sejak lama dikenal getol memperjuangkan kesetaraan untuk orang-orang berkulit hitam di Amerika. Hal itu tidak lepas dari diskriminasi yg ia terima semasa kecil. Bahkan setelah menjadi juara Olimpiade pun perlakuan itu masih ia terima.

Suatu ketika, setelah memenangkan medali emas tinju di Olimpiade Roma, Ali masuk ke restoran burger di Louisville, kota kelahirannya. Namun penjaga restoran menolaknya dengan menyampaikan bahwa mereka tak melayani nigger (sebutan buat orang hitam).

Peristiwa itu begitu kuat terekam dalam ingatannya, sehingga membuat Ali begitu kuat berjuang bagi membela kaum hitam. Salah satunya dengan menjadi juara dunia, sehingga suaranya didengarkan.

“Perbedaan warna tak membuat seseorang menjadi jahat. Hati, jiwa, dan pikiran yg menyebabkannya,” ujar Ali.

Keyakinan itu juga yg membuat Ali menolak ikut berperang di Vietnam. Ia menganggap perang itu yaitu penindasan terhadap orang kulit berwarna oleh orang kulit putih.

“Mengapa mereka harus menyuruhku mengenakan seragam dan pergi 10.000 mil dari sini dahulu menjatuhkan bom dan peluru ke orang-orang berwarna di Vietnam, sementara orang-orang yg disebut Negro di Louisville diperlakukan seperti anjing dan tak berhak atas hak mereka yg paling sederhana?”

“Tidak, aku tak mulai pergi ke sana menolong membunuh orang yang lain cuma bagi meneruskan dominasi tuan-tuan putih terhadap orang-orang berwarna. Ini adalah hari di mana segala kejahatan itu harus diakhiri,” kata Ali.

Ali juga menyebut bahwa tak ada seorang pun tentara VietCong yg menghinanya dengan sebutan negro, beda dengan orang-orang di negaranya sendiri.

Dalam perjuangannya melawan dominasi kulit putih itu, ia menggelar banyak pertandingannya di negara-negara berkembang, seperti di Zaire ketika melawan Foreman dengan tema “Rumble in the Jungle”, melawan Frazier di Filipina dalam “Thrilla in Manila”, termasuk bertanding melawan Rudi Lubbers di Indonesia tahun 1973. Semua itu dikerjakan salah satunya agar mata dunia tertuju ke negara-negara itu.

Setelah pensiun dari ring tinju, Ali semakin banyak melakukan kegiatan sosial. Ia banyak melakukan perjalanan sebagai duta kemanusiaan, termasuk ke Korea Utara dan Afghanistan. Juga mengirimkan bantuan obat-obatan ke Kuba.

Salah sesuatu perjalanannya dalam misi kemanusiaan adalah bersama lembaga Global Village Champions Foundation, tahun 1990-an ke Jakarta.

Diceritakan Direktur Media Sosial yayasan itu, Jackie Bigford, ketika di Jakarta, Ali bersama direktur yayasan, Yank Barry, menuju McDonalds buat sarapan. Saat itulah ia dikenali, sehingga ia dikerumuni dan diikuti puluhan orang.

Melihat banyaknya orang di sekitarnya, Ali akhirnya memberi sarapan gratis buat segala yg ada di restoran itu.

Cerita tentang kedermawanan Ali dan hal-hal baik yg dikerjakan itulah yg membuat dia dikenang, lebih dari sekadar juara dunia.

Tahun 1998, Ali ditunjuk sebagai Pembawa Pesan Perdamaian PBB oleh Sekjen Kofi Annan. Tahun 2005, ia dianugerahi Medal of Freedom, penghargaan tertinggi untuk warga sipil di AS karena menjadi tokoh yg menginspirasi dunia.

Man for Others

Apakah Muhammad Ali mampu melakukan seluruh itu karena ia seorang juara dunia?

KOMPAS.com / Wijaya Kusuma Hardjosudiro Mantan Guru SMA Kolose John De Britto ketika menunjukan sepeda motor satu-satunya miliknya yg dibelinya pada tahun 1977 seharga Rp 300 ribu.

Saat merenungkan pertanyaan itu, aku menemukan cerita di halaman Facebook keponakan aku tentang seorang guru yg mengajarkan kedermawanan dan kemurahan hati buat sesama. Namanya Hardjosudiro, guru di SMA Kolese John De Britto Yogyakarta.

Pak Hardjo (80) semula berniat melelang motor tuanya buat menutup biaya pembuatan sumur di rumahnya. Berita soal lelang itu didengar murid-muridnya yg kini telah menjadi pengusaha. Mereka pun menyelenggarakan lelang.

Baca: Motor Tuanya Laku Rp 36 Juta, Pensiunan Guru Ini Sumbangkan Hasilnya

Hasilnya, motor tua Pak Hardjo terbeli seharga Rp 37 juta. Tak dinyana, guru kimia itu meneruskan kebaikan yg ia terima dengan menyumbangkan hasilnya, Rp 20 juta kepada beberapa yayasan anak difabel Bakti Luhur di Malang, Jawa Timur, dan Yogyakarta. Dalam ketidakpunyaan, ia memberi kepada yg lain.

“Membantu sesama yg membutuhkan itu harus karena aku kadang dibantu. Kalau uang sebanyak bagi aku semua, mau buat apa? Saya telah tua, mulai lebih berguna untuk yg membutuhkan,” tuturnya.

Cerita soal Pak Hardjo ini menjadi viral di media sosial dan menjadi inspirasi buat banyak orang. Saya membayangkan, kelak orang mulai mengenang guru ini sebagai orang baik, seperti halnya Muhammad Ali juga lebih suka dikenang seperti itu.

Dalam wawancara dengan David Frost tahun 1974, Frost bertanya kepada Ali, “Bagaimana kamu ingin dikenang bila kamu telah tiada nanti?”

Kata Ali, “Aku ingin mereka berkata: ia adalah orang yg mengambil dua cangkir cinta, sesuatu sendok kesabaran, sesuatu sendok kemurahan, sejumput kebaikan, menyisipkan sebagian humor, perhatian, dan kemudian mencampurnya dengan harapan dan kebahagiaan. Lalu menambahkan kepercayaan dan mengaduknya baik-baik. Ia membawa campuran itu sepanjang hidupnya, dan membagikannya pada setiap orang yg ditemuinya.”

Sumber: http://olahraga.kompas.com/read/2016/06/07/10202081/ali.ketenaran.dan.kedermawanan
Terima kasih sudah membaca berita Ali, Ketenaran dan Kedermawanan. Silahkan baca berita lain tentang Olahraga lainnya.

Tags:

Leave a reply "Ali, Ketenaran Dan Kedermawanan"

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.